Di sisi lain kini Darwis sedang duduk merenung di taman rumah sakit, sejak siang tadi dia hanya berdiam diri disana. Ingin masuk ke kamar Melati tapi tidak tahu harus menjawab apa jika Melati bertanya soal ibunya. Huh ini benar-benar berat, jarak waktu meninggalnya Ibu Niken dan Melati yang sadar dari komanya hanya 4 jam huh tidak terbayang olehnya bagaimana jika saat tadi Melati sadar.
“Setidaknya jika aku mengatakan kejujuran ini padanya aku harus tahu dimana ibu Niken dimakamkan, tapi pada siapa aku bertanya pihak rumah sakit pün bahkan tidak tahu kemana mereka membawanya.”
**********************************************
“Huh jadi kita balik Indonesia nih?” rajuk Sanju karena dia belum puas untuk berwisata di negara itu.
“Sanju, pekerjaan papa banyak nanti kita akan datang kesini saat papa libur ya,” bujuk Akmal.
Mau tidak mau Sanju setuju, mereka akan pulang siang ini dan besok mereka akan tiba di Indonesia.
Ceklek
“Darwis, akhirnya kamu datang,” Senyum merekah tampak menghiasi bibir Melati saat melihat kedatangan Darwis.
“Bagaimana kabarmu?”
Melati memperlihatkan tangannya yang sudah tidak terbalut perban, “Lukanya sudah kering, dan hari ini aku sudah diperbolehkan pulang.”
Mendengar hal itu ada kelegaan dan juga kekhawatiran Darwis pada Melati, sekarang wanita itu akan kembali ke neraka itu dan kini dia akan menghadapi orang-orang di rumah itu seorang diri, tanpa ada tameng seperti dulu.
“Melati, apa boleh aku memberikan saran padamu?”
Melati mengangguk, “Katakan saja, sekarang kita sudah menjadi teman bukan?”
“Jangan kembali lagi ke rumah itu Melati, pergilah cari kehidupan yang lebih baik.”
Mata cantik itu bergerak - gerak menatap Darwis, “Apa ada sesuatu Darwis?”
Darwis menggeleng, entah kenapa dia harus berbohong pada Melati, “Ini amanah ibumu.”
Melati tampak terkejut, “Ibu? Lalu dimana ibu sekarang? Apakah ibu ada di rumah?”
Darwis menggeleng, “Ibu, ibu Niken dia sudah pergi.”
“Pergi?” ulang Melati, “Ibu pergi kemana, sepertinya ibu tidak mungkin meninggalkanku apalagi aku sedang sakit seperti ini.”
Ingin Darwis berteriak memaki dirinya sendiri yang tidak mampu jujur pada Melati, dia takut membuat keadaan wanita itu semakin memburuk terlebih sekarang dia masih baru saja pulih.
Tok tok!
Melati dan Darwis melihat ke arah pintu, ceklek! Pintu terbuka dan terlihat orang yang Melati benci masuk kesana.
“Ayo sekarang pulang!”
Tanpa basa-basi Puspa langsung menarik tangan Melati hingga wanita itu merintih kesakitan, “Lepaskan!” teriak Darwis sambil menarik tangan Puspa dengan kasar.
“Heh pemulung, berani kamu sentuh saya!” sentaknya.
“Justru saya yang harus bertanya, apa masalah anda hingga bersikap kasar seperti itu apa anda buta sampai tidak melihat keadaannya yang baru saja di buka perbannya?”
Mendengar hal itu Puspa tampak tersenyum sinis, “pah lihat, ternyata anak babu ini sudah punya pahlawan sekarang, ternyata setelah ibunya mat* pun masih ada yang mau mengurusnya.”
“Apa maksud nyonya?” tanya Melati dengan wajah yang tampak tidak mengerti.
Darwis tampak panik, “Tidak ada jangan dengarkan dia.”
Tampak Puspa, Akmal dan Sanju tersenyum, “Apa kamu tidak tahu? Ah kasihan sekali, ibumu itu sudah mat* , dia tertabrak mobil kemarin dan kamu tahu keadaannya sangat memprihatinkan, tubuhnya uhhh mengerikan.”
“Diam hentikan!” teriak Darwis.
“Heh harusnya lo yang diem, ngapain lo ikut campur urusan kita memang lo siapa hah, pacar atau suami si babu ini?” ejek Sanju.
Nafas Darwis tampak naik turun, tangannya mengepal kuat siap menghantam wajah orang-orang di depannya.
“Sudah sekarang kamu ikut pulang, jangan banyak bertingkah sudah untung kami datang kesini untuk menjemputmu, sudah ayo pulang!”
Sanju dan Puspa berusaha menarik Melati untuk turun dari ranjangnya, hingga wanita itu semakin merintih karena tarikan itu cukup membuat lukanya kembali perih.
“Hentikaannnnn! Hentikan!” bentak Darwis.
“Jika kalian tidak menghentikan ini saya akan melaporkan kalian atas kejahatan yang kalian lakukan, saya akan sertakan bukti visum yang menyatakan kalian bersalah karena telah menyiram melati dengan air panas,” ancam Darwis.
Tampak Akmal tersenyum kecut, “Sudahlah anak muda, jangan bermimpi sekarang daripada kau sibuk mengurus urusan orang kaya seperti kami sebaiknya kau pergi kau butuh makan untuk malam ini bukan? Sudahlah pergi, atau kau butuh imbalan karena sudah menjaga pembantu kami disini?”
Akmal tampak merogoh sakunya dan mengambil uang recehan nominal 10 ribu, Akmal menempelkan uang itu tepat di d**a Darwis, “Nih cukup kan untuk makan dengan ikan asin basi?”
Mata Darwis tampak tajam, dia mengeram tangannya mengepal kuat ingin sekali dia memukul wajah angkuh itu tapi ini belum waktunya dia tidak bisa gegabah.
“Saya tidak butuh uang haram itu, makan saja mungkin bagi anda saya miskin tapi bagi saya anda itu manusia melarat, kotor dan juga hina yang rela melakukan apapun demi harta.”
Mendengar hinaan itu Akmal naik pitam, “Pengawal!” teriaknya.
Setelah teriakan itu beberapa orang bertubuh kekar masuk kesana, mata Darwis langsung fokus menatap tato yang ada di tangan orang-orang itu, tato kecil berlogo x.
“Bawa wanita itu ke rumah, dan singkirkan pria bodoh ini dari hadapanku.”
Mereka mengangguk patuh dan segera menarik Melati dan Darwis, “Lepaskan, lepaskan!”
“Diam!” bentaknya.
Bruk!
Darwis memukul wajah pengawal itu hingga mengucur darah segar dari bibirnya.
“Kurang ajar!” teriak mereka.
Mereka berusaha melumpuhkan Darwis tapi itu semua tidak berhasil, Darwis dengan mudah melumpuhkan mereka hingga terjatuh di atas lantai dengan kondisi terluka.
Ceklek!
“Berhenti! Jangan buat keributan disini atau kalian akan saya laporkan karena membuat kegaduhan di area rumah sakit.”
Darwis dan keluarga Akmal terdiam, namun tampak dari tatapan mereka itu semua belum selesai.
“Silahkan keluar dari ruangan ini, dan segera tinggalkan area rumah sakit ini,” usir pria yang tampak memiliki jabatan di rumah sakit itu.
Mau tidak mau akhirnya Darwis mengalah, dia keluar lebih dulu dari ruangan dia akan menunggu di luar.
Tidak mau memperkeruh suasana Melati pun menurut, dia ikut berjalan gontai bersama keluarga Akmal dan para pengawalnya.
Kegaduhan mereka membuat orang-orang disana kembali bertanya – tanya ada peristiwa apa sebenarnya.
Mata sayu itu tertangkap basah sedang menatap Darwis penuh sakit, tampak beribu pertanyaan terpancar jelas dari matanya. Ya Tuhan, siapa yang akan merangkulnya setelah ini.
“Masuk!” sentakan Puspa itu menyadarkan darwis dari lamunan, melati menurut dan segera masuk ke dalam mobil.
Kini mobil bergerak meninggalkan tempat itu, tinggal Darwis seorang diri disana. Dia pun akan pulang ke rumahnya, besok Darwis akan melihat keadaannya.