“Akkkkhhh apa yang kalian lakukan,” erang Darwis saat suntikan itu berhasil menembus kulitnya. Dengan hitungan menit Darwis mulai lemah meskipun masih ada berontakan dari tubuhnya.
Para orang-orang kejam itu meninggalkan Darwis disana seorang diri, mereka membawa jasad Niken dengan mobil pribadi yang mereka bawa bukan ambulance rumah sakit, bahkan pihak rumah sakit pun di larang untuk ikut serta dalam proses pemakaman itu.
Sedangkan polisi? Entahlah sejak kedatangan orang-orang bertubuh besar itu polisi pun hengkang dari sana.
1 jam berlalu, Darwis membuka matanya dengan kesadaran yang mulai pulih dia berusaha melepaskan ikatan di kakinya dan tangan. Entahlah rasanya obat bius yang mereka berikan pada Darwis berbeda dari biasanya obat itu membuat ototnya benar-benar lemah, bahkan d**a Darwis tampak sesak.
Darwis mengamati sekelilingnya, dia tidak bisa terus berusaha untuk membuka ikatan itu sendiri harus ada alat bantu untuk memutuskan ikatan itu.
Mata darwis menatap kaca yang teronggok disana, dilihat dari bentuknya kaca tersebut untuk jendela, Darwis menyeret tubuhnya untuk menggapai kaca tersebut setelah di rasa cukup dekat Darwis menendang kaca tersebut dengan kedua kakinya yang terikat.
Alhasil karena tendangan cukup kuat itu kaca tersebut langsung pecah, pyarrrr!
Darwis meraih pecahan kaca yang cukup besar, dia mengarahkan kaca itu ke sela-sela pergelangan tangannya yang terikat, dia terus menggesekkan kaca tersebut hingga tali yang cukup tebal itu terputus.
Setelah berhasil melepaskan ikatan tangannya Darwis membuka sumpalan mulutnya dan ikatan di kakinya.
“Buka, siapapun di luar tolong buka pintu ini!” teriak Darwis sambil menggedor pintu.
“Akhhhh sepertinya ruangan ini jarang di lewati orang-orang,” Gumam Darwis.
Darwis akhirnya berusaha membuka jendela yang terlihat benar-benar kotor itu, karena sudah lama tidak di buka jendela tersebut tampak berkarat alhasil semakin sulit untuk membukanya.
“Krekkk!”
Suara nyaring itu terdengar di iringi dengan jendela yang langsung terbuka, Darwis langsung keluar dari sana dan berlari cepat menuju ruangan Melati.
Sesampainya disana dari luar pintu Darwis melihat Melati masih ada di tempatnya dan hal itu membuatnya tenang.
“Huh aku harus membersihkan diriku dan juga mengganti pakaian, tidak mungkin aku menjaga Melati dalam keadaan kotor penuh debu seperti ini,” pikir Darwis sambil memindai tubuhnya.
Darwis berniat akan membeli pakaian murah saja di depan rumah sakit, dia tidak bisa meninggalkan Melati terlalu lama karena bisa saja orang-orang tadi juga ikut ingin menjahati Melati.
Sesampainya di toko pakaian yang ada di depan rumah sakit, Darwis mendengar cerita orang-orang mengenai peristiwa kecelakaan tadi, mereka mengatakan bahwa ada kabar yang beredar bahwa orang yang menabrak korban adalah orang-orang dari komplotan yang sama.
Bahkan mereka juga mengatakan bahwa itu adalah perbuatan dari mafia X dimana mafia itu akan membunuh orang-orang yang ikut campur dalam masalahnya, dan mereka mengira bahwa wanita yang di tabrak itu sepertinya punya rahasia besar tentang mafia x hingga dia di lenyapkan.
“Apa saya boleh bertanya?”
Para wanita dengan tingkatan usia yang berbeda itu menatap darwis sambil memindai penampilannya, “Tanya apa ya dek?”
“Apa kalian tahu kemana orang-orang itu membawa jenazah korban tadi?”
Para wanita itu saling pandang hingga beberapa saat kemudian mereka semua kompak menggeleng, “Jangankan tahu dibawa kemana bahkan Cuma untuk foto doang aja di larang, iya kan?”
“Ihh bukan Cuma foto, bahkan tadi Cuma mau lihat aja enggak di bolehin sama mereka.”
Mendengar hal itu terjawab sudah rasa penasaran Darwis, orang-orang itu sengaja tidak membiarkan siapapun tahu, terlibat atau memiliki dokumentasi soal kecelakaan itu.
Darwis membayar semua belanjaannya dan pergi dari sana meninggalkan para wanita yang asik bergibah itu, “ganteng sih tapi sayang kayaknya Cuma kerja serabutan,” celetuk seorang ibu-ibu itu dan hanya di sambut gelengan oleh Darwis.
Saat hampir tiba di depan pintu kamar Melati dari jarak 5 meter Darwis melihat ada beberapa orang tenaga kesehatan yang keluar dari sana, hal itu membuat perasaan Darwis khawatir apakah ada sesuatu yang terjadi pada Melati?
Gegas Darwis mempercepat langkahnya, sesampainya di depan pintu ternyata apa yang dia lihat sekarang? Melati sudah sadar.
Darwis berjalan mendekat ke arah Melati, tampak balutan perban di tubuhnya begitu banyak terlebih di bagian punggungnya, hal itu semakin terlihat saat Melati berubah posisi dari berbaring kini bersender.
Mata Melati langsung menatap Darwis tampak mata sendu itu begitu satu, “Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Darwis dengan lembut, dia merasa tidak tega jika melihat Melati.
Melati menggeleng, dari bibir pucatnya dia mengucapkan beberapa kata yang berhasil membuat Darwis terdiam, “Ibu, ibu dimana?” lirihnya.
Para dokter yang ada disana hanya menatap ke arah Darwis, hingga akhirnya mereka pamit untuk keluar.
Darwis terdiam tidak tahu harus menjawab apa, tapi Melati kembali bertanya, “Darwis apa kamu melihat ibuku, apa boleh kamu memanggilnya aku ingin ibu disini Darwis.”
Darwis mendongakkan wajahnya dan menutup matanya, sesaat kemudian dia berusaha memberikan pengertian pada Melati.
“Melati, ibumu sedang keluar aku juga tidak tahu dia ada dimana aku baru saja tiba disini.”
Mendengar hal itu Melati menghela nafasnya berat, kemudian tatapannya beralih pada kantong kresek yang ada di tangan Darwis dan juga penampilan Darwis yang tampak cukup kotor.
“Darwis, apa kamu baru saja selesai mencari barang bekas?”
Mendengar hal itu Darwis ikut menatap ke arah tubuhnya, “Ah iya Melati aku baru saja selesai memulung, dan aku langsung kesini ini pakaian yang aku bawa dari rumah,” tuturnya sembari mengangkat kantong kresek itu.
“Oh begitu, baiklah jika ibu sudah datang tolong katakan padanya aku ingin makan nasi goreng buatannya.”
Darwis mengangguk pelan, “Yasudah Melati aku akan membersihkan diri dulu, jika ada yang kamu butuhkan pencet saja bel itu nanti perawat akan datang.”
“Iya jangan khawatir,” jawab Melati.
Darwis langsung berpamitan keluar dari sana, sebelum benar-benar pergi Darwis lebih dulu berpamitan pada perawat dan meminta mereka untuk mengawasi Melati.
Detik menjadi menit hingga waktu semakin berlalu, sudah lebih 8 jam dari Darwis yang berpamitan dia sama sekali belum kembali, begitu juga dengan ibu Melati.
Seorang perawat masuk ke dalam ruang rawat Melati, “Saya olesi salepnya dulu ya nona,” izinnya dan di angguki oleh Melati.
“Eumm mbak, apakah mbak melihat ibu saya?”
Wanita itu terdiam tapi kemudian dia menggeleng dan melanjutkan mengoles salep itu di tubuh Melati, “Saya permisi dulu ya nona, jika ada sesuatu silahkan pencet bel itu,” tunjuknya ke salah satu sisi setelah selesai melakukan tugasnya.
Melati mulai menyadari keanehan, kenapa tidak ada siapapun yang tahu keberadaan ibunya? Apakah ibunya tidak mengunjunginya sampai orang-orang di sana tidak tahu keberadaannya.