“Ah tidak papa nak, sudahlah tidak perlu kita bahas itu hanya akan mengungkit luka lama.”
“Lalu apa rencana ibu, apa ibu akan melapor ke kantor polisi?”
Niken menarin nafas dalam, “Apa mungkin akan di proses nak? Sedangkan kami hanya orang tak punya, sudah pernah ibu laporkan tentang kejahatan mereka tapi entahlah mungkin uang bisa menutup kebenaran.”
Mendengar penuturan Niken entah kenapa hati Darwis ikut sakit, entahlah dia merasa hal yang dilakukan keluarga Akmal pada Niken dan Melati tidak terlepas dari masa lalu yang entah seperti apa.
“Ibu sudah lama bekerja disana?”
“Bahkan ibu sudah bekerja saat masih remaja nak, bahkan ibu dan tuan Akmal tumbuh bersama disana.”
Mendengar hal itu Darwis benar-benar tidak percaya, “Maaf Bu saya lancang, apa tidak sebaiknya hubungi ayah Melati mungkin dia bisa membantu agar Melati bisa segera di operasi.”
Niken tersenyum kecut, “Dia tahu keadaan putrinya nak, tapi dia tidak akan datang dan tidak akan pernah datang.”
**
Kini keluarga Akmal sudah tiba di negara tujuan, yaitu London entah kenapa negara itu menjadi tujuan Puspa.
“huh akhirnya bebas, bebas!” teriak Puspa di kamar hotelnya.
Puspa merebahkan tubuhnya di samping Akmal, “Mas kita harus cari cara untuk melumpuhkan Niken, jangan sampai dia melapor ke polisi.”
Akmal mengangguk, “Sudah tenanglah, mas sudah punya rencana bagus untuknya dengan begitu kita akan pulang dengan hati yang tenang.”
“Kamu memang suami terbaikku mas,” peluk Puspa dengan erat.
Di sisi lain kini Darwis termenung seorang diri di dalam gubuknya, suasana malam yang kian larut tidak juga membuat matanya kian meredup untuk masuk ke alam mimpi.
Ucapan Niken yang tadi memberi amanat padanya begitu membekas di hatinya, “Kenapa ibu Melati ingin aku menjaga anaknya? Padahal kami baru saja mengenal.”
“Nak Darwis, apa kamu mau menolong ibu sekali lagi?”
Darwis mengangguk dengan mantap, “Tolong jaga Melati ya nak, ibu takut tidak bisa bersamanya sampai nanti dia menemukan tambatan hatinya.”
Entahlah ucapan Niken itu terasa begitu menghipnotis Darwis hingga pria itu hanya mengiyakan tanpa berpikir lebih jauh.
**
Pagi hari tiba, Niken yang baru saja melaksanakan ibadah lantas berniat untuk keluar dari area rumah sakit untuk membeli sesuatu.
“Melati ibu pamit dulu ya nak jaga diri kamu, cuppp!”
Niken berpamitan dan mengecup kening putrinya begitu lama, entah kenapa wanita itu merasa berat meninggalkan putrinya. Meskipun Melati tidak mendengarkan ucapan Niken tapi Niken yakin putrinya itu pasti merasakan kecupan lembutnya.
Niken berbalik dan berjalan keluar dari pintu kamar Melati, tujuannya adalah warung di depan rumah sakit dia harus membeli nasi untuk mengganjal perutnya.
Suasana yang belum terlalu ramai karena waktu juga masih subuh, mungkin masih banyak orang-orang yang berada di rumah meskipun hal seperti itu jarang terjadi di kota besar.
Niken berdiri di pinggir jalan melirik ke kanan dan kiri untuk melihat kendaraan yang berlalu lalang, merasa tidak ada yang hendak lewat Niken berjalan pelan untuk menyebrang.
Brummmmmmm!
Mata tajam itu menatap Niken layaknya seperti mangsa yang sudah di depan mata, dengan gerakan cepat dan tarikan gas full seseorang itu melaju dengan kecepatan tinggi.
Brak!!
Tubuh Niken terpental sejauh 20 meter ke depan, Orang-orang yang melihat itu lantas langsung berlari ke arah Niken sedangkan mobil yang menabrak Niken langsung melarikan diri dengan kecepatan tinggi.
Kejadian yang terjadi di depan rumah sakit itu sontak menjadi pemberitaan di dalam negeri, bagaimana tidak korban tewas seketika sebelum mendapatkan tindakan medis.
Niken meninggal dunia.
Orang-orang yang berada di rumah sakit langsung mengenali siapa Niken, mereka benar-benar merasa berduka atas peristiwa yang menimpa Niken terlebih Melati yang masih dalam keadaan koma.
Mereka berupaya mencari informasi tentang sanak saudara Niken, terlebih pihak posisi yang langsung menyelidiki siapa yang sudah menabrak Niken.
Dari rekaman CCTV polisi baru bisa menyimpulkan bahwa peristiwa penabrakan itu adalah kesengajaan, karena sewaktu Niken masih berdiri di pinggir jalan mobil tersebut tidak melaju melainkan hanya berdiam diri 70 Meter dari tempat Niken berada.
Peristiwa penabrakan itu menjadi bahan perbincangan hangat di setiap kalangan, terlebih keadaan korban yang benar-benar mengenaskan dan juga tidak adanya sanak saudara korban yang bertanggungjawab untuk menjemputnya.
“Kasihan ya itu pembantunya pak Akmal si Niken meninggal, kabarnya pak RT juga gak berani untuk jemput mayatnya karena si Niken itu tidak punya identitas dan keluarganya gak jelas dimana.”
Ucapan para ibu-ibu komplek itu sontak menghentikan langkah Darwis yang sejak tadi sibuk memulung, dia sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya kembali mendengar ucapan para ibu-ibu itu.
“Yah kabarnya juga itu si Melati masuk rumah sakit, untuk sakitnya enggak tahu karena apa kasihan juga ya pak Akmal juga kemana ya kok gak jemput.”
Mendengar hal itu Darwis tidak lagi dapat berfikir positif, dia segera mendorong kembali gerobaknya dan bergegas pulang ke gubuknya. Disana dia langsung berganti pakaian dan lekas pergi.
Darwis menghentikan sebuah taxi di depan jalan dan lekas meminta di antarkan ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit ternyata begitu ramai orang-orang disana, yang membuat Darwis heran adalah begitu banyak pria bertubuh tegap yang berdiri di depan ruang gawat darurat.
“Hey mau kemana kamu!” sentaknya pada Darwis yang hendak masuk ke ruangan tersebut untuk melihat Niken.
Darwis menatap tajam pria itu, “Saya kerabat korban,” jawabnya tegas.
Pria itu menarik Darwis dengan kasar, “Anda tidak boleh masuk ini perintah.”
“Perintah siapa? Jawab!”
Pria bertubuh tegap itu terdiam, namun dia tetap kekeh menahan Darwis disana.
“Kalau kamu ingin selamat tetap patuh, kami hanya melaksanakan perintah!” tegasnya.
Darwis tidak mengindahkan ucapan pria itu, dia langsung berbalik dan tetap berusaha menerobos masuk.
Bruk!
Para orang-orang itu langsung memukul Darwis, hal itu kembali menjadi tontonan orang-orang.
Bruk!
Darwis membalas pukulan itu, hal itu berhasil membuat kemarahan memuncak di antara orang-orang tersebut. Mereka menarik Darwis menjauh dari sana dan di bawa ke salah satu ruangan.
Sesampainya disana mereka langsung mengacungkan pisau ke arah leher Darwis, “Katakan siapa kau sebenarnya!”
Darwis menyeringai, “Justru aku yang harus bertanya, kenapa kalian menghalangiku untuk melihat kerabatku, apa kalian merupakan komplotan orang yang sudah menabraknya.”
Mendengar hal itu mata mereka membola, salah satu dari mereka lantas menghubungi seseorang, entah apa yang mereka bicarakan sampai akhirnya mereka mengunci Darwis disana.
“Ikat dia disini, bos mau kita segera memakamkan wanita itu, administrasi dan semua hal sudah beres, ayo.”
“Akhhh lepaskan, kalian akan merasakan akibatnya!”
“Diam!” bentaknya sambil mengikat kaki dan tangan Darwis dengan kuat.
Mulut Darwis di sumpal dan Darwis sengaja di lumpuhkan dengan obat bius yang sengaja di suntikkan ke tubuhnya.