Niken menatap ke arah Darwis, “Ya tolong antarkan wanita ini ke rumah sakit, dia mengalami cidera parah karena tersiram air panas.”
Dengan cepat dua pria berbadan kekar itu menggendong tubuh Melati ke dalam mobil, dan bersiap untuk melaju ke rumah sakit.
“Bu ayo ikut dengan kami,” ujar pria itu.
Niken menatap Darwis, “Nak ikutlah dengan ibu, ayo,” ajaknya.
Darwis menggeleng, “Pergilah bu, saya masih harus bekerja jika nanti ibu butuh bantuan cari saja ya. Saya akan bantu, saya selalu memulung di sekitar sini.”
Mendengar hal itu hati Niken begitu dingin, anak muda di hadapannya benar-benar baik, “Baiklah nak terimakasih, ibu ikut mereka ya?”
Darwis mengangguk, dan setelah itu mobil yang ditumpangi oleh Niken juga Melati melaju ke arah rumah sakit terbesar di kota itu.
Kepanikan begitu terasa di rumah Akmal, terlebih puspa sang nenek lampir dari sejak kepergian Niken dan Darwis yang membawa Melati dirinya tidak tenang.
“Pah jangan diem aja dong pah, mama takut pah kalau mama masuk penjara gimana pah? Mama gamau,” rengeknya.
Akmal hanya terdiam, sedari tadi dia terus memikirkan pria yang baru saja ditemuinya itu wajahnya begitu familiar dan tatapan matanya seolah mengisyaratkan kebencian padanya.
“Siapa dia kenapa aku merasa mengenalnya,” gumam Akmal frustasi sambil memijit keningnya.
“Aku pulang!”
Sanju terlihat begitu happy, dengan semua belanjaan yang ada di tangannya, bahkan sampai tidak menyadari kondisi kedua orang tuanya.
“Pa, ma, kok enggak sambut Sanju sih kan sanju baru balik ini,” kesalnya sambil menghentakkan kedua kakinya di lantai.
Akmal hanya melirik sekilas sedangkan Puspa duduk dengan kasar di samping suaminya, “Pah mama mau kita sekarang pergi ke luar negeri,” ujarnya memberikan ide gila.
Akmal mendelik, “Kamu sehat Puspa? Kita harus menyiapkan semuanya jika berangkat kesana, lagipula kita belum memesan tiket.”
“Mama gamau tahu pah, sekarang juga kita berangkat enggak perlu packing kita udah kaya kita bisa beli disana, ayo pah ayo!”
“Mah pa, sebenarnya ini kenapa kok jadi tegang gini?”
Puspa menatap putrinya itu dengan tajam, “Kamu juga, bukannya diem dirumah malah keluyuran sampe gak pulang, mama udah buat Melati masuk rumah sakit Sanju, mama siram dia dengan air panas.”
Mata Sanju membelalak sempurna, “Mama gila?” pekiknya.
“Pah udah mama bener pah, kita harus segera pergi ke luar negeri pasti polisi bakal dateng kesini pah, ayo pah sanju enggak mau reputasi Sanju sebagai anak CEO tercoreng.”
Mau tidak mau akhirnya Akmal menurut, semua hal di urus oleh orang kepercayaannya, sekitar 30 menit berlalu mereka akhirnya berangkat dengan hanya berbekal ATM dan juga penutup wajah, mereka tidak mau ada yang mengetahui kepergian mereka.
**
“Dok bagaimana keadaan anak saya dok?”
“Luka bakarnya cukup serius bu, dan itu membutuhkan waktu untuk pemulihannya dan saran kami jika ingin bekas luka itu menghilang maka putri ibu harus menjalani operasi.”
Wajah Niken menegang, operasi? Keadaan anaknya separah itu? Tuhan bagaimana caranya agar dia bisa membayar semua itu.
“Untuk biaya perawatannya berapa dok?” lirih Niken.
“Silahkan ke bagian administrasi ya buk, saya permisi.”
Tubuh Niken merosot ke bawah, Melati harus dirawat disana, dan operasi Melati harus di operasi jika ingin tubuhnya seperti dulu.
Niken lantas berjalan gontai menuju ke bagian administrasi, disana dia bertanya pada petugas berapa nominal biaya perawatan anaknya.
“Sudah ibu, biaya perawatannya sudah di bayar lunas sampai putri ibu siuman dan keadaannya pulih.”
Mendengar hal itu Niken terkejut Siapakah yang sudah membayar biaya pengobatan anaknya, “Maaf sus, siapa yang sudah membayar perawatan anak saya?”
“Oh itu pria yang datang bersama ibu tadi, dia mengatakan bahwa ibu adalah kerabatnya.”
Mendengar hal itu Niken bersujud karena bahagia, ternyata ada orang baik yang sudah menolongnya dia tidak akan melupakan semua itu.
Kini keluarga Akmal sudah berada di bandara, 30 menit lagi mereka akan berangkat dan hal itu membuat kekhawatiran Puspa sedikit berkurang.
Berbeda halnya dengan Akmal dia terus memikirkan soal Darwis, entah kenapa pesona pria itu sungguh mengganggunya.
“mama sepertinya papa tidak bisa ikut bersama kalian, papa harus mengurus sesuatu disini,” ucap Akmal tiba-tiba yang langsung membuat Puspa kesal bukan main.
“Pah papa sadar tidak, jika Niken melapor ke polisi bukan hanya mama tapi papa juga akan terseret, semua akan terbongkar pa sudah jangan banyak membantah pa kita pergi sekarang!”
Puspa menarik lengan Akmal untuk bangkit dari duduknya, benar-benar aneh pikir Puspa entah apa yang dipikirkan suaminya itu.
Di sisi lain kini Darwis datang menjenguk Melati di rumah sakit, entah apa yang Darwis pikirkan namun sejak tadi menolong Niken dan Melati, pria itu terus memikirkan kondisi Melati.
Ceklek!
“Selamat malam bu,” sapanya pada Niken.
Niken yang melihat Darwis lantas bangun dari duduknya, “Selamat malam nak Darwis, ayo duduk ayo!”
Niken menarik lengan Darwis ke arah sofa kamar, “Terimakasih ya nak bantuannya tadi siang.”
Darwis mengangguk dan meletakkan bawaannya di atas meja, “Sama-sama buk, bagaimana keadaan Melati apa dia baik-baik saja?”
Wajah Niken berubah sendu, “Melati harus segera di operasi nak, jika ingin tubuhnya kembali seperti dulu tapi ibu tidak tahu harus mencari uang kemana bahkan untuk biaya rumah sakit pun di tanggung orang lain.”
Darwis menatap Niken, “Siapa yang membayarnya buk, apa orang-orang yang menolong tadi?”
Niken mengangguk, “Iya nak mereka baik sekali, ibu tidak akan melupakan kebaikan mereka.”
Darwis mengangguk, “Maaf Bu saya tidak bisa bantu apapun,” ujarnya.
“Ah jangan seperti itu nak, ibu senang kamu mau berteman dengan putri ibu,” Niken menatap sendu ke arah Melati, “Dia tidak memiliki teman sejak kecil, hari-harinya hanya sibuk di dapur bersama ibu, bahkan sangat jarang dia melihat dunia luar.”
Entah kenapa Darwis terlihat begitu penasaran dengan cerita Niken, “Jadi bagaimana Melati sekolah bu?”
Niken menggeleng sambil menyeka sudut matanya dengan ujung hijabnya, ”Melati tidak pernah sekolah nak, kami tidak memiliki biaya dan juga berkas untuk mendaftar beasiswa atau bantuan siswa miskin.”
Darwis terkejut mendengarnya, “ibu serius? Bagaimana mungkin itu semua tidak ada,” jawabnya tidak percaya.