“Melatiiiii Niken! Kemana kalian cepat kesini!” teriak Puspa dengan nada melengking memenuhi isi ruangan.
Melati dan Niken tampak tergopoh berlari ke arah Puspa yang tampak sudah berkacak pinggang sembari memegang sebuah ulekan.
“Mana sarapan, kalian benar-benar tidak tahu di untung mana sarapan!” teriaknya dengan nada semakin keras.
“Tidak ada,” jawab Melati simple sambil menatap remeh ke arah Puspa, dan hal itu semakin membuat amarahnya memuncak.
Plak!
Puspa melemparkan ulekan itu tepat ke arah kepala Melati alhasil kening wanita itu tampak mengeluarkan cairan merah, “Melati, Melati!” panik Niken sambil memeluk putrinya itu.
Melihat anak pembantunya terluka wajah Puspa yang tadinya garang mendadak takut, “Hey kamu jangan sok kesakitan, itu hanya luka kecil saja,” tutur Puspa berusaha menetralkan jantungnya.
“Anda benar-benar tidak punya hati nyonya, anak saya terluka harusnya nyonya minta maaf dan bertanggungjawab bukan malah mencari pembenaran!” geram Niken.
“Halah memang dasar anak kamu itu lemah!”
Plak!
Niken menampar pipi Puspa dengan wajah bengisnya, “Kau memang tidak punya hati Puspa, sudah lama aku ingin menampar mulutmu yang tidak berpendidikan itu. Kau pantas mendapatkannya!” teriak Niken.
Mendapatkan perlawanan seperti itu, Puspa tidak mau kalah dia menjambak kepala Niken yang ditutupi kerudung itu, hingga keduanya terlibat keributan besar.
“Mat* kau Nikennnnn!” geram Puspa sambil mencekik leher Niken.
Niken pun tidak mau kalah dia menarik rambut panjang Puspa yang baru di salon itu hingga wajahnya mendongak ke atas, tidak ada yang menghentikan mereka. Mereka sama-sama kuat dan tidak dapat dihentikan.
Mendengar keributan dari bawah, Akmal yang baru saja bangun tidur itu langsung bergegas turun. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat istrinya kini sedang di tampar oleh Niken dan parahnya Niken menginjak tubuh puspa.
“Berhenti kalian berhenti!” teriak Akmal namun tidak ada yang mau berhenti.
“Mas tolong mas, sakit!” rintih Puspa dengan wajah yang tampak memar di bagian pelipis dan juga sudut bibirnya.
Şrek, akhhh!
Akmal dengan kejam langsung menarik kepala Niken dan mendorongnya hingga terjatuh di lantai.
“Ibu!” teriak Melati.
“Papa, wanita itu sudah menghajarku lihat ini pa lihat wajahku yang baru perawatan ini sudah hancur di buatnya,” adu Puspa pada Akmal.
Melihat kondisi sang istri yang tampak mengenaskan pria itu lantas berdiri dan menarik kembali Niken dengan kasar.
“Dasar wanita miskin tidak tahu di untung,” makinya.
“Istrimu pantas mendapatkan itu, kalian manusia jahat harusnya kau tahu aku tidak akan melakukan hal itu jika istrimu tidak memulai lebih dulu!” lawan Niken.
“Cihhh, dasar wanita tua miskin, kau dan anakmu itu yang harusnya meminta maaf padaku, kau lihat rambut dan juga wajahku rusak karena ulah bod*hmu itu kau yang miskin ini tidak akan mungkin bisa mengganti semua ini!”
“Kau pantas mendapatkan itu Puspa bahkan aku berharap kau mendapatkan keburukan yang lebih besar dari itu, aku tidak akan segan melakukan hal seperti tadi jika kau berani melukai putriku.”
“Papa, lihat dia sudah berani mengancam hajar dia pah aku tidak sudi dia melawan seperti ini pada kita.”
Mendengar hal itu kemarahan Akmal semakin menjadi dia menyeret Niken dengan kasar menuju ke halaman rumah, entah apa yang hendak dia lakukan.
“Tuan berhenti jangan sakiti ibu tuan!”
Puspa yang melihat Melati hendak menolong ibunya langsung menarik rambut Melati dengan kasar, “Kau lihat apa yang akan terjadi pada wanita bodoh itu, dan kau juga harus merasakannya.”
Puspa menarik rambut Melati dan menyeretnya menuju ke arah yang sama seperti Akmal, tidak tanggung Puspa mengambil air panas dan bersiap menyiramkan air itu pada Niken dan Melati.
“Tidak nyonya jangan,” Melati menarik sang ibu ke dalam pelukannya dan naas air itu berhasil mengenai punggung Melati.
“Akhhhhh”
Brak!
“Berhenti!”
Melati terjatuh tidak sadarkan diri tepat di samping sang ibu, tepat setelah air panas itu dan juga teriakan seorang pemuda yang begitu menggelegar terdengar di telinga mereka.
Wajah Akmal tampak menegang saat melihat wajah pemuda yang muncul tiba-tiba itu, dia menggeleng menepuk wajahnya dan berusaha menyadarkan diri dari kenyataan yang dia anggap mimpi itu.
“Melati bangun nak Melati hiks bangun Melati!” teriak Niken.
Pemuda bernama Darwis itu lantas mendekat dan menatap Akmal dengan tajam, hal itu semakin membuat wajah Akmal tidak karuan.
Melihat wajah sang suami yang tampak ketakutan itu Puspa lantas menjatuhkan teko yang tadi dia pegang, “Pah papa kenapa!” Panik Puspa.
Akmal menggeleng, “Niken masuk kamu sekarang!” perintahnya.
Niken menatap Akmal tajam, “Bahkan disaat seperti ini pun kau tidak bisa menolong Melati, dimana hati nuranimu sebagai seorang manusia, aku akan melaporkan kalian atas semua ini,” ancam Niken.
Mendengar hal itu wajah Puspa tampak panik, dia langsung merengek seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainannya karena di ambil orang lain pada Akmal.
“Jangan mengada-ngada Niken, kau hanya manusia miskin yang tidak punya saudara atau apapun disini jangan kau anggap kau bisa menjebloskan kami ke penjara, sekarang masuk aku akan menghubungi dokter,” titah Akmal.
“tidak , aku tidak sudi, aku akan tetap melaporkan perbuatan kalian ini.”
Niken menatap ke arah Darwis, “Nak bolehkah kamu menolong putriku, bawa dia ke rumah sakit dia butuh pertolongan sekarang.”
Darwis mengangguk, dia menggendong tubuh lemah Melati itu dan berlari ke arah gerobaknya, “Maafkan saya, saya hanya punya ini untuk mengangkat anak anda,” ujarnya.
Niken menggeleng, “Tidak masalah nak, ayo kita segera pergi dari tempat terkutuk ini.”
Darwis dengan cepat mendorong gerobak sampahnya itu dengan kuat, tubuhnya yang kekar itu tampak mengeluarkan kekuatan besar untuk mendorong gerobak itu dengan kencang layaknya sedang berlari.
Kini Darwis juga Niken sudah berada di jalanan besar, sudah cukup jauh dia mendorong gerobak tersebut namun tidak terlihat sedikitpun wajah lelahnya.
Tin tin!
Darwis dan Niken menatap ke arah suara, dimana sebuah mobil tiba-tiba melintas di samping mereka dan dari tampilannya mobil itu benar-benar mewah bahkan hanya ada beberapa di dunia ini, Niken tahu itu karena Puspa sempat ingin meminta mobil itu pada Akmal namun tidak terpenuhi.
Darwis menatap mobil itu datar, “Maaf apa kalian butuh bantuan?” ujar pengendara itu.