“Jangan biarkan pria jahat ini masuk ke dalam perusahaan ini, mereka jahat sengaja membunuh Raditya, padahal Raditya adalah pengacara dari tuan Jack sudah tentu maksud mereka ingin menguasai perusahaan ini,” teriak seseorang begitu kencang.
Plak, seseorang dengan tega melemparkan telor busuk tepat ke depan wajah Gilbert, alhasil telor itu pecah tepat di keningnya.
“Berhenti, kalian benar-benar jahat justru kalian lah manusia yang jahat kalian mendukung seseorang yang bahkan tidak memiliki hubungan darah dengan paman Jack untuk mewariskan perusahaan ini, apa kalian tau surat wasiat itu tidak sah tertulis jelas tidak ada pewaris sah padahal paman Jack...........”
Bibir Raksa langsung berhenti berucap saat tiba-tiba ada tangan kekar yang menutup mulutnya, dan saat dia berbalik ternyata itu tuannya. opa Gilbert menggeleng dan memberi isyarat agar Raksa tidak mengatakan siapa anak Jack sebenarnya.
“Selamat siang tuan Gilbert, mari ikut kami ke Kantor polisi ada beberapa hal yang harus kami tanyakan pada kalian.”
Tiba-tiba saja empat orang petugas polisi datang meringsek masuk ke dalam kerumunan dan segera menyatakan maksud kedatangan mereka.
“Huuuuuu pembunuh!” teriak mereka.
Gilbert kooperatif, Dia ikut bersama para polisi itu sedangkan di dalam singgasana besarnya tepat di atas kursi CEO Akmal tersenyum puas, “Kalian lihat, bahkan dengan mudah semua ini menjadi milik kita.”
Empat orang itu tersenyum, “Jangan lupa janji anda tuan, semua ini tidak gratis dan ini semua adalah usaha kita bersama.”
“Tentu,” Akmal meraih cek dan menuliskan nominal fantastis untuk ke empat orang itu, “Aku rasa ini cukup untuk awal,” ujarnya seraya menyerahkan ke empat cek itu.
Empat orang itu tersenyum senang, kemudian bangkit dan lekas berpamitan, “Nikmati kekuasaanmu ini tuan, tapi jangan lupa jatah kami semua.”
“Tenang saja, kalau begitu jangan lupa,” Ucapnya seraya memberi isyarat.
Akmal tersenyum kemudian menaikkan kakinya ke atas meja, sembari bersender dengan nyaman di kursi CEO itu.
“Aku benar-benar mencintai semua ini, hahahahahha ternyata tidak sulit untuk menjatuhkan keluarga purnama. Lihatlah setelah ini tidak akan ada lagi purnama di dunia ini, hanya ada seorang Akmal si penakluk bisnis.”
Akmal lantas meraih handphonenya dan segera menghubungi Puspa, “Halo sayang bagaimana kamu sudah ke salon?”
“Sudah mas, mas aku bahagia sekali melihat berita di TV akhirnya pria tua sombong itu kini mendekam di jeruji besi, mama tidak sabar melihatnya membusuk disana pah,” kelakar Puspa di ujung telpon.
Akmal tersenyum, “Mama tenang saja, papa tidak akan membiarkan siapapun membebaskannya, dia harus mendekam disana dan bertanggungjawab atas kematian Raditya.”
Puspa menyenderkan tubuhnya di sofa empuk itu, “Harus pa, jangan biarkan dia merebut perusahaan ini mama tidak rela jika keluarga purnama itu justru menjadi pemimpin dan pemilik perusahaan itu.”
“Ini nyonya,” Melati datang membawakan jus beserta kue kesukaan Puspa.
“Ya itu harus, papa akan terus mengawasi mereka jika perlu kita suruh orang-orang yang ada di dalam sel sana untuk menyiksa mereka.”
“Hahahahah rencana bagus pa,” Puspa menjawab sembari menatap Melati tajam, “Heh babu, ngapain masih disini nguping kamu!” sentaknya.
Melati menggeleng, “Saya hanya menunggu uang untuk membeli bahan dapur nyonya, tadi nyonya yang meminta saya menunggu.”
Mendengar hal itu puspa lantas meraih dompetnya dan mengeluarkan lembaran uang 100 ribu.
“Kamu beli, ingat kamu jangan korupsi awas saja kalau sampai tidak ada catatan harga habis kamu.”
Melati menarik nafasnya dalam, 100 ribu? Apa tidak salah rumah semegah dan semewah itu hanya beli bahan dapur 100 ribu? Ah jika hanya bawang merah saja yang habis itu cukup, tapi ini tidak ada satupun bahan dapur yang tersisa.
“Nyonya, 100 ribu ini tidak cukup. Semua bahan dapur habis, ini hanya cukup untuk membeli bawang dan sayur dua ikat.”
Mendengar ucapan protes itu tampak puspa begitu kesal, “Heh, harusnya kamu mikir dong kamu juga makan disini harusnya ikut patungan beli bahan dapur, kamu kira nyari duit itu gampang apa hah! Sana ganggu aja kamu.”
Mendengar hal itu Melati benar-benar murka di buatnya entah terbuat dari apa hati manusia yang hidup di rumah itu, Melati segera meninggalkan Puspa menuju ke tukang sayur keliling, dia tidak akan ke pasar uang saja tidak cukup bagaimana mau ke pasar.
Prak!
Melati langsung menatap ke arah sumber suara, ternyata suara keras itu berasal dari seorang pemulung yang sedang memasukkan besi bekas ke dalam gerobaknya.
Melihat pria itu ingatan Melati kembali saat dia terjatuh dari pohon, “Itu pria yang menolongku waktu itu,” gumamnya dan segera berjalan cepat ke arah pria itu.
“Mas maaf mengganggu,” sapa Melati pada pria yang tampak sibuk itu.
Pria itu menoleh sekejab kemudian melanjutkan aktivitasnya, “Mas jika mau di belakang rumah majikan saya ada barang bekas, jika mas mau akan saya ambilkan,” tutur Melati.
Mendengar hal itu pria itu lantas menoleh ke arah Melati kemudian menatap ke arah rumah Akmal, sedetik kemudian dia mengangguk.
“Baik dimana barangnya,” ucapnya dengan suara datar.
“Mari ikut saya,” Melati membawa pria itu masuk ke dalam pekarangan rumah, memang sewaktu membersihkan rumah banyak sekali barang yang tidak lagi terpakai, sebenarnya bukan tidak terpakai tapi Puspa enggan memakainya hanya karena di anggap barang murahan.
“Nah ini barangnya,” Melati menunjuk beberapa buah sofa yang tampak lumayan, sebuah rice cocer, dan beberapa barang rumah tangga lainnya.
“Saya tidak bisa bawa itu semua sekarang, karena grobak saya sudah penuh besok saya akan datang lagi.”
Melati mengangguk, “Baik tidak masalah, anda tinggal masuk saja besok atau jika sungkan anda boleh mengetuk pintu ini,” tunjuk Melati pada pintu samping yang menghubungkan halaman dengan dapur kotor itu.
“Baiklah,” jawab pria itu.
Pria itu lantas melangkah menjauh begitu saja, melihat kecuekan pria itu Melati tampak penasaran akan sosoknya terlebih wajah yang cukup tampan, berkulit putih bersih, hidung mancung seperti tidak layak jika hanya menjadi seorang pemulung.
“Mas sebentar!”teriak Melati sembari berlari ke arahnya.
Pria itu menoleh dengan tatapan bingung, “Nama kamu siapa?” ujar Melati sembari menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
Pria itu tampak hanya menatap tanpa menyambut ikutan tangan itu, “Darwis!”
Merasa tidak enak Melati menurunkan uluran tangannya, “Saya Melati, saya pembantu di rumah ini salam kenal ya dan terimakasih karena waktu itu sudah menolong saya,” tutur Melati.
Pria yang baru diketahui bernama Darwis itu hanya mengangguk, Benar-benar sombong, pikir Melati.
Pria itu akhirnya benar-benar meninggalkan pekarangan rumah itu, berjanji akan datang kembali besok hari untuk mengambil barang itu.