Sudah Terlambat

1043 Kata
Mendengar hal itu akhirnya James mengalah, tapi dia tidak akan menjauh seperti apa yang opanya katakan. James akan tetap melihat jenazah papanya itu meski harus membahayakan dirinya. Gilbert dan James memutuskan berpisah disana, Gilbert akan menuju kediaman Jack. Sedangkan James? Dia di minta oleh Gilbert untuk beristirahat di apartemen yang sudah dipersiapkan oleh sang opa untuknya. Tapi bukan James namanya jika menurut begitu saja, dia sudah mempersiapkan suatu rencana. Gilbert tiba di kediaman Jack di jam 1 pagi, ternyata disana masih begitu ramai awak media yang ingin melihat jenazah putranya itu. Para awak media langsung menggerubungi mobil Gilbert dan memberikan pertanyaan untuknya. “Tuan apakah benar putra anda meninggal dunia karena serangan jantung tiba-tiba?” Ujar mereka namun sama sekali tidak di jawab oleh Gilbert. Tentu itu semua tidak benar, putranya itu adalah pria sehat yang selalu menjaga tubuhnya. Gilbert di bantu oleh para bodyguardnya langsung masuk ke rumah Jack yang megah itu. Ternyata disana sudah terparkir mobil mewah entah milik siapa, sepertinya mobil itu keluaran terbaru. Saat Gilbert masuk tatapannya langsung terpusat pada Peti mati yang berada di ruang tengah, bersama seorang wanita muda yang sibuk mengaji di sampingnya. Melihat hal itu Gilbert lantas mendekat sudah lama dia tidak mendengarkan lantunan ayat suci itu, saat dia melihat wanita itu tampak begitu cantik tampilannya begitu sederhana dan berhasil memikat hati. “Permisi maaf mengganggumu,” Ujar Gilbert pada wanita muda itu. Mendengar ada yang menyapanya, wanita itu lekas menghentikan bacaannya dan melirik ke asal suara dan mendapati seorang pria berusia lanjut namun begitu gagah berdiri di sampingnya. “Ah maaf tuan, saya lancang sudah membaca alquran disini.” Gilbert tersenyum dan menggeleng, “Terimakasih sudah membacanya untuk putraku, siapa namamu? Ujar Gilbert. Wanita itu tersenyum, “Nama saya adalah Melati, saya adalah pembantu tuan Akmal. Saya diminta disini untuk menjaga jenazah tuan Jack,” Ujarnya. Mendengar hal itu Gilbert lantas duduk di samping keranda Jack dan berhadapan dengan Melati. “Apa kamu hanya seorang diri disini, dimana tuanmu?” Melati tersenyum dan menutup kitab suci itu, “Mereka ada di atas beristirahat, saya disini bersama ibu saya. Tapi ibu saya sedang ada di belakang menyiapkan air untuk pemandian jenazah tuan Jack besok.” Mendengar hal itu Gilbert terlihat tersenyum, ternyata ada yang perduli pada putranya itu. “Apa kamu mengenal baik putraku Melati?” tanya Gilbert sambil menatap kaca bening yang memisahkan dirinya dengan sang anak. Melati mengangguk dan ikut menatap ke arah Jack, “Tuan Jack pria baik, dia laki-laki ramah dan juga tidak pelit ilmu dia selalu mau berbicara denganku begitu lembut berbeda dengan tuan Akmal,” lirihnya di akhir kalimat. Mendengar hal itu Gilbert menatap Melati, “Apa kamu tidak diperlukan dengan baik Melati?” tanya Gilbert. ”Ah maaf tuan, tidak seperti itu, “ Jawab Melati sambil tersenyum kecut. “Melati, kamu bersama siapa?” Tiba-tiba saja Niken datang dan menghampiri mereka. Gilbert tersenyum, “Kenalkan saya Gilbert ayah dari Jack purnama,” Gilbert mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Niken dan hal itu membuatnya terkejut. “ah tuan tangan saya kotor,” Ujarnya tidak enak meskipun tangannya tampak bersih, dia hanya takut Gilbert tidak biasa bersalaman dengan rakyat kecil sepertinya. “Apa masalahnya,” Ujar Gilbert membuat Niken terharu dan mengelap tangannya ke baju lusuhnya, kemudian menjabat tangan Gilbert itu. “Jadi tuan adalah pria yang sering diceritakan oleh tuan Jack,” Ujar Niken dan di angguki oleh Melati. “Benarkah, apa yang dia ceritakan?” tanya Gilbert tampak haru. “Dia mengatakan anda adalah pria terbaik yang pernah dia miliki, anda lebih dari seorang pahlawan di dalam hidupnya dia selalu mengatakan jika ada kehidupan lain dia ingin hidup bersama istri anak, ibu dan juga ayahnya.” Mendengar hal itu Gilbert meneteskan air mata, tentu saja Jack menginginkan hal itu karena dia begitu kesepian sejak kepergian istri, ibu dan juga dirinya bersama James. Gilbert menatap ke arah peti itu dan memeluknya, “Maafkan aku Jack, maafkan aku, sungguh pahlawanmu ini gagal menjadi sosok yang engkau mau. Sungguh bukan ini inginku, bangunlah nak,” isak Gilbert. Melihat itu Melati mengelus pundak gagah itu, “Tuan, ikhlaskan tuan Jack, dia pasti bahagia melihat anda sudah datang,” ujarnya. “aku adalah pria jahat aku tidak bisa menjadi pahlawan bagi putraku.” Mendengar hal itu Melati menggeleng, “Dari semua cerita yang tuan Jack katakan, tidak ada sedikitpun terbersit bahwa anda pria yang gagal justru anda begitu sukses karena membuat tuan Jack menjadi pria yang begitu baik dan sukses.” “Benarkah?” ujar Gilbert membuat Melati mengangguk mantap, “Jangan bersedih tuan, tuan Jack tidak suka itu jadilah kuat untuknya.” Mendengar hal itu Gilbert mengusap wajahnya dengan kasar, “Bolehkah kita membacanya lagi Melati? Tuntun aku untuk ikut bersamamu, aku mungkin sudah tidak bisa membacanya lagi,”Ujarnya pada Melati bermaksud untuk membaca Alquran. Melati mengangguk dan menyerahkan sebuah Alquran pada Gilbert, “Ini tuan mari kita membacanya bersama.” Gilbert, Melati serta Niken lantas membaca alquran di samping peti mati Jack, disana tumpahan air mata Gilbert terus mengalir deras karena kini dia tahu betapa jauhnya dirinya dengan sang Pencipta. ** James menatap bangunan menjulang tinggi di depannya dengan tampan tajam, kemudian dia menatap benda yang ada di tangannya, “Aku harus melakukan ini.” Kondisi rumah yang kini telah sepi membuat James nekat melakukan aksinya, dia berfikir tidak mungkin ada orang yang menjaga mayat sang papa di saat malam seperti ini. James menutup wajahnya dengan benda yang berbentuk topeng itu, kemudian James langsung memanjat tembok rumah Jack untuk bisa masuk ke halaman. Bruk! Tubuh James mendarat sempurna di atas rerumputan hijau, saat dia melihat konstruksi bangunan itu ternyata sama sekali tidak ada yang berubah bahkan catnya masih berwarna sama seperti dulu saat dia tinggalkan. James langsung mengendap masuk dan berjalan tanpa suara menuju ruang tengah, dia yakin disana mayat sang papa berada. Saat sudah berada di dinding pembatas ruangan James melihat Melati yang sedang tertidur tepat di samping keranda itu, sedangkan Gilbert tidak ada disana. “Siapa dia, apa yang dia lakukan disitu?” James lantas berjalan cepat kesana karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Saat dia mendekat tatapannya langsung melirik kearah Melati yang tertidur pulas meski hanya di atas karpet sederhana. Tidak mau menyia-nyiakan waktu James lantas membuka peti itu untuk bisa memeluk tubuh sang papa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN