Saat tangan kekar James menyentuh wajah Jack yang kini telah dingin itu disitulah dia seakan di tarik kembali pada saat kejadian masa lalu, dimana sang ayah memeluknya sebelum dia pergi dan James menyentuh wajah Jack dengan deraian air mata.
Perasaan James seketika tidak dapat dikondisikan, James menangis dan mengangkat tubuh Jack keluar dari peti agar dia bisa memeluknya lebih erat.
Air mata James terus mengalir hingga tanpa sadar suara isakan tangisnya mengganggu Melati yang sedang tertidur pulas disana.
“bangunlah, kau ingin aku pulang sekarang aku sudah pulang bangun jangan jadi penjahat yang pergi begitu saja, bangun!” isak James.
“Kau jahat, kenapa kau meninggalkanku bangunlah aku mohon pukul aku seperti yang kau mau tapi jangan pergi, jangan hukum aku seperti ini Tuhan!” Jerit James.
“Engghhh,” Melati mengerjapkan matanya dan menatap ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan hampir jam 4 pagi, suara tangisan itu masih terdengar hingga membuat Melati bangkit untuk bisa melihat siapa yang sudah menangis.
Saat tubuh itu bangkit sambil berpegangan tangan pada Peti yang ada di sebelahnya, disanalah Melati melihat tubuh Jack yang sedang di peluk seorang pria bertopeng yang kini sedang menangis.
“Siapa kau, lepaskan tuan Jack!” Teriak Melati agar semua penghuni yang ada disana bangun.
Mendapatkan teriakan seperti itu, James terkejut dia langsung meletakkan tubuh Jack dengan hati-hati seperti posisi semula dan langsung berjalan ke arah Melati.
Melihat pria itu yang mendekat ke arahnya, Melati semakin histeris dan berteriak kencang. “Siapa kau, jangan mendekat!” teriak Melati sambil memundurkan tubuhnya ke belakang, namun James sama sekali tidak perduli dan langsung menutup mulut Melati agar wanita itu berhenti berteriak, dan menarik tubuh Melati ke arahnya.
”Eeeee, eeeeee!” suara Melati sambil menepuk tangan James agar dia melepaskan tubuh Melati.
James menatap ke sekitarnya, dan kemudian berbisik pada Melati, “Saya mohon jangan berteriak saya bukan orang jahat, saya hanya ingin melihat papa saya untuk terakhir kalinya. Tolong jangan katakan dan beritahu siapapun soal ini termasuk pada Akmal.”
Mata Melati menatap pria bertopeng itu yang hanya terlihat matanya saja, mata itu berwarna biru di seputar lingkar mata pria itu terlihat kulit yang berwarna putih dengan bulu mata tebal. Sejauh ini Melati sudah memperkirakan pria itu sangat tampan.
“apa kau mengerti?”
Melati mengangguk patuh dan sesaat setelahnya James langsung melepaskan tubuh Melati dan melihat ke sekelilingnya. Dengan cepat James berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu.
Melati yang masih syok melihat itu hanya terdiam dengan nafas terengah-engah, masih jelas teringat di pikirannya pria itu mengatakan papa dan memohon padanya agar Melati tidak memberitahu pada siapapun, termasuk Akmal.
James yang melompat dari dinding pembatasan rumah itu ternyata terlihat oleh orang lain selain Melati, siapa dia? Dia adalah Gilbert. Gilbert yang saat itu masih berada di dalam kamarnya terkejut saat ada benda keras yang menghantam kaca.
Dengan cepat Gilbert membuka jendela itu dan melihat ada seseorang yang melompat dari sana.
Gilbert yang selama ini tahu bagaimana James langsung dapat mengenali pria itu sebagai cucunya, “James,” Lirihnya sambil melihat kepergian James yang menjauh dari rumah itu.
“Jack lihatlah kenekatan putramu dia lebih tangguh dari aku ataupun dirimu, aku akan menjaganya Jack sebagai permohonan maafku padamu,” Lirih Gilbert dengan wajah sendu.
**
Azan berkumandang pagi itu Melati, Niken dan juga Gilbert langsung melaksanakan sholat subuh begitu juga dengan penghuni rumah lainnya.
Setelah selesai sholat mereka langsung bahu membahu untuk melaksanakan proses pemandian jenazah dan ini adalah detik terakhir Gilbert dapat melihat putranya itu.
Para tetangga lantas berdatangan kesana untuk membantu proses pemandian jenazah juga proses pengkafanan. Tangisan orang-orang disana pecah, Jack benar-benar berarti di mata mereka dan hal itu membuat hati Gilbert semakin sedih karenanya.
Gilbert yang selama ini jarang sekali menangis akhirnya melepaskan semuanya di saat memandikan jenazah Jack, tangannya yang dulu juga memandikan Jack saat anaknya itu lahir dan tumbuh dewasa kini juga harus memandikan Jack untuk terakhir kalinya.
Setelah selesai dengan proses memandikan jenazah orang-orang lantas menyiapkan kafan Jack, Lagi-lagi proses itu mengingatkan Gilbert saat dulu dia membedongi tubuh Jack ketika lahir, sungguh begitu hancur hatinya saat sang putra lebih dulu menghadap sang kuasa.
“Tuan, apa anda ingin memeluk tuan Jack sebelum di masukkan ke dalam keranda?”
Gilbert mengangguk dan memeluk tubuh putranya itu dengan deraian air mata, “Nak kau meninggalkanku, bagaimana caranya aku mengatakan jika ini terlalu berat bagiku. Jack maafkan semuanya kesalahan papa di masa lalu nak,” isaknya membuat orang-orang yang ada disana ikut menangis.
Setelah cukup lama Gilbert melepaskan pelukannya pada Jack, dan membiarkan tubuh itu di angkat ke dalam keranda karena akan di bawa ke pemakaman khusus yang ada disana.
Gilbert ikut serta dalam proses pemakaman itu, kuburan Jack berada persis di sebelah makam istrinya yaitu Ambar.
Setelah selesai dan orang-orang yang ada disana mulai pulang satu persatu, Gilbert terdiam seakan tidak tahu harus melakukan.
Gilbert berjongkok dan mengelus nişan itu, “Ambar, sekarang aku telah membawa Jack padamu, kamu tidak akan lagi merasa sendiri disini. Jack menepati janjinya untuk tetap sendiri meskipun kamu telah tiada, Ambar perlu kamu tahu putramu telah dewasa dan dia berada disekitar sini sekarang. Cintamu dan Jack abadi untuk selamanya.”
Gilbert menyeka matanya yang kian basah, hingga beberapa saat kemudian seseorang datang dua orang yang menyapanya.
“Saya turut berduka cita tuan Gilbert. Dan maaf saya tidak menyambut kedatangan anda semalam, saya benar-benar tidak tahu jika anda datang,” ujar Akmal.
Gilbert memejamkan matanya dan melirik ke arah suara, “Terimakasih,” jawabnya singkat.
“Saya adalah teman Jack tuan, nama saya Akmal dan ini istri saya Puspa.”
Gilbert segera bangkit dari posisinya dan pergi begitu saja meninggalkan Akmal juga Puspa disana, hal itu membuat puspa kesal tidak terkira karena diacuhkan oleh Gilbert.
“Pah, dia sombong banget sih? Baru juga kaya dikit udah sesombong itu,” geram Puspa sambil menatap tajam punggung Gilbert.
Akmal menepuk genggaman tangan Puspa, “Sudah biarkan saja, dia hanya orang tua jika bukan karena powernya dulu tentu saja dia hanya seperti pemulung di luar sana.”
Puspa mengangguk senang, “Ah sudahlah pa, lebih baik kita pulang saja mama malas disini berharap dapat sambutan yang baik eh malah dicuekin.”
Puspa dan Akmal segera melangkahkan kaki pergi dari sana, begitu juga orang-orang yang ramai tadi kini berangsur-angsur menghilang satu persatu hingga tidak tersisa satupun.