Bruk!
James menjatuhkan tubuhnya di tengah-tengah makam papa dan mamanya itu, dia menutup wajahnya dengan kuat sambil berusaha menahan tangis yang sejak tadi sudah tumpah.
“Kenapa, kenapa kalian meninggalkanku ma pa bangunlah aku butuh pelukan kalian, aku butuh usapan lembut kalian, untuk apa semua kekuasaan ini jika kalian tidak berada di sampingku untuk apa hiks hiks.”
“Apa aku terlihat seperti anak yang lemah? Opa mengajariku untuk tidak menangis karena semua hal tapi kehilangan kalian adalah mimpi buruk yang tidak pernah aku inginkan.”
James memeluk nişan Jack itu dengan deraian air mata, “Papaa, james pulang pa james kembali bangunlah pa, papa merindukan james bukan? Sekarang james disini, ayolah pa pukul james yang papa bilang anak nakal ini. Kenapa pa, kenapa papa meninggalkan james, apa papa marah pada james? Jika iya mari bertukar tempat pa hiks.”
Grrrrrr duarrr
Gemuruh petir menyambar dengan keras di langit, menandakan akan datang hujan sebentar lagi, james mendongakkan wajahnya ke langit dan menantikan air hujan itu membasahi wajahnya.
“lihatlah langitpun bersedih akan kepergianmu pa, mereka tahu dirimu adalah orang baik.”
James menutup kedua matanya menikmati gemuruh hujan yang deras itu, tapi tiba-tiba mendadak hujan itu berhenti mengenai tubuhnya.
“Tuan bangunlah, jangan menangis seperti ini."
Ucapan itu sontak membuat mata James kembali terbuka dan terlihat sudah ada seseorang yang memayunginya.
“Untuk apa kamu kesini?”
Raksa mensejajarkan tubuhnya dengan ikut berjongkok di samping James, “Aku datang untuk melihat makam om Jack, tapi ternyata kamu juga ada disini."
James menatap nişan kedua orang tuanya itu, “Sekarang aku benar-benar sendiri Raksa, kenapa kemalangan terus menimpaku.”
Raksa mengelus pundak James, “Kau tidak sendiri aku dan opa selalu di sampingmu, bangkitlah James kau harus menyelidiki semua ini, ” ucap Raksa sambil memandang sendu ke arah James.
James menyeka sudut matanya, “Kau benar, aku tidak boleh lemah aku harus mencari tahu semuanya, aku tidak boleh lemah!"
“Sekarang kita pergi dari sini, jangan sampai ada orang yang melihat keberadaanmu, aku akan mengantarmu pulang.”
James menggeleng, “Biar aku pulang sendiri saja, mungkin kau masih ingin disini tidak perlu khawatir aku sudah punya rencana sekarang."
Raksa mengangguk, “Baiklah James besok aku akan datang ke perusahaan dan melihat keadaan disana mungkin bersama opa. Jaga dirimu baik-baik kabari aku jika ada sesuatu ya.”
James mengangguk, “Iya tolong jaga opa aku akan berada jauh darinya, jika ada sesuatu tolong kabari aku segera.”
James dan Raksa berpisah disana, James akan tinggal di suatu tempat yang sama sekali tidak diketahui oleh keluarganya. Hal itu dia lakukan demi melancarkan rencananya.
**
Gilbert lantas pulang kembali ke rumah Jack, entah tidak ada komunikasi apapun sebelumnya justru tiba-tiba saat Gilbert tiba rumah itu sudah di penuhi oleh koper.
“Ini milik siapa?” Salah seorang pelayan keluar, “Maaf tuan ini koper kami mulai hari ini kami sudah berhenti bekerja.”
Mendengar hal itu Gilbert tentu saja kaget, “Berhenti bekerja? Siapa yang mengatakan kalian berhenti bekerja?” Ujarnya.
Para pelayan itu saling sikut, kemudian salah seorang dari mereka berujar, “Kami diberhentikan oleh tuan Akmal.”
Mendengar nama Akmal disebutkan Gilbert terlihat kesal, apa tak Akmal memecat semua karyawan itu. Lalu siapa yang akan membersihkan rumah jika mereka tidak ada, apa Akmal mau melakukannya?
“Tidak ada yang di berhentikan bekerja seperti biasanya karena saya sendiri yang akan tinggal di rumah ini bersama kalian!” ujar Gilbert dengan tegas.
Mendengar hal itu tentu saja para pelayan itu sedang, bukan mudah mencari pekerjaan baru terlebih usia mereka sudah tidak produktif lagi.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil mewah datang dan parkir di garasi milik Jack, dengan santai tiga orang itu keluar sambil terlihat tertawa bahagia.
“Loh, kalian kenapa masih ada disini?” ujar Puspa, “Harusnya kalian sudah keluar dari rumah ini.”
Mendengar teriakan itu Gilbert yang berada di dalam rumah langsung keluar, “Apa hal kalian memecat mereka?”
Ucapan Gilbert itu benar-benar mengejutkan mereka, mereka berfikir Gilbert sudah tidak ada disana.
“Tuan Gilbert,” lirih Akmal berusaha tenang.
Gilbert berjalan tegap ke arah 3 orang manusia itu, ”Sebenarnya kalian itu siapa, apa hak kalian memecat para pelayan ini? Jangan sembarangan,” ujar Gilbert.
Ketiga orang itu menunduk, “Maaf tuan, saya mengira sudah tidak perlu lagi adanya ART karena sudah tidak ada yang tinggal di rumah ini.”
“Apa kamu bilang? “ geram Gilbert, “Apa kamu mengira jika rumah ini kosong tidak perlu di rawat? Saya yang akan tinggal disini.”
“apa!” Kini Puspa ikut terkejut hingga suaranya melengking, “Anda akan tinggal disini, lalu kami akan tinggal dimana?” Ujarnya sebelum akhirnya menutup mulutnya karena sadar sudah teledor.
Ucapan Puspa itu tentu saja membuat Gilbert Syok sekaligus kesal, “Siapa yang mengizinkan kalian tinggal disini? Enak saja, jangan kalian pikir jika Jack tidak ada maka kalian bebas melakukan apa saja.”
“maaf tuan,” ujar Akmal.
Gilbert langsung berbalik badan dan masuk ke dalam rumah, benar-benar aneh pikirnya siapa mereka begitu lancang seperti itu.
“Pa gimana dong ini,” Kesal Puspa karena rumah impian mereka tidak bisa mereka tempati.
Akmal menepuk pelan tangan Puspa, “Sudah kita pulang sekarang, jangan berulah ayo Sanju,” ujarnya.
Puspa dan Sanju tampak menghentakkan kakinya di lantai, kesal sekali rasanya padahal mereka benar-benar tergila-gila dengan rumah Jack yang super mewah itu. Apalagi setelah menginap semalam uh rasanya seperti Miliuner kelas elit.
Mereka akhirnya kembali pulang ke rumah mereka, meski tidak sederhana tapi rumah itu jauh sekali bedanya dengan rumah Jack.
Raksa yang baru saja tiba di kediaman Jack lantas langsung masuk, dirinya memang sedikit terlambat untuk datang kesana karena terlalu lama mendapatkan informasi.
"Raksa kamu sudah datang?" ujar Gilbert dan di angguki oleh Raksa.
Raksa menyalami Gilbert dan duduk di sampingnya, "Tidak ada yang berubah dari rumah ini," Ujar Raksa dan di jawab anggukan oleh Gilbert.
“Kita harus mulai menyelidi semuanya Raksa, ternyata tubuh Jack sama sekali tidak dilakukan otopsi."
ucapan Gilbert itu tentu membuat Raksa terkejut, "Apa lalu kabar otopsi itu darimana?"
Gilbert menggeleng, “Aku mulai mencurigai seseorang."