Hutang

1061 Kata
Setibanya di rumah Puspa lantas melepaskan kekesalannya pada Melati dan juga Niken, “Melati, Niken dimana kalian" teriak Puspa. Melati dan Niken langsung berlari tergopoh-gopoh menuju ke arah Puspa. “Iya nyonya,” hormat Niken dengan menunduk. “Kamu itu ya, paling susah kalau di panggil merasa hebat kamu? Atau kamu budeg hah!” Puspa menonyor kepala Niken dengan kuat membuat wajah wanita itu terdorong ke belakang. “Nyonya, jangan kasar seperti itu, saya dan ibu baru saja membersihkan kamar mandi kami juga butuh tenaga untuk berjalan kemari nyonya,” bela Melati. Mendengar Melati begitu berani Sanju bangkit dari kursi, dia melompat dan berjalan cepat menuju ke arah sang mama. “Mah ini anak makin hari makin sok berani, pukul aja ma,” adu Sanju yang semakin membuat keributan semakin besar. Melati dengan berani langsung memeluk sang ibu dengan erat, “Silahkan anda pukul saya,” ujarnya dengan berani membuat Sanju di tantang. Sanju dengan cepat langsung menarik rambut panjang Melati dengan keras, “Gini kan yang lo minta hah gini kan!” teriaknya dengan wajah puas melampiaskan emosinya pada Melati. Melati berusaha melepaskan tarikan itu dan juga masih tetap memeluk sang ibu, Puspa pun tidak tinggal diam dia menarik dengan keras Niken hingga akhirnya pelukan Melati terlepas dan Niken tersungkur di lantai. “Hahahahahha, mampus lo gimana enak hah!” sentak Sanju sambil kembali menoyor kepala Melati. Melati tidak kuasa menahan tangisnya dan berusaha merangkul sang ibu yang tampak kesakitan, “Ibu ayo bangun,” Melati merangkul tubuh sang ibu hingga Niken bisa kembali bangkit. Puspa dan Sanju tampak tersenyum puas, mereka berdua menatap Niken dan Melati dengan tatapan bagaikan singa yang lapar yang siap menerkam mangsanya. “Kami ingin berhenti bekerja!” Ucapan Melati itu sontak membuat Niken mengalihkan tatapannya ke arah sang putri, Puspa dan Sanju pun tak kalah terkejut mendengar hal itu. “Siapa yang mau berhenti!” Tiba-tiba suara Akmal terdengar keras dari luar, dengan suara sepatunya yang beradu dengan lantai rumah membuat mereka berempat terdiam seketika. Akmal menatap mereka satu persatu, “Siapa yang akan berhenti?” ulangnya lagi. “Saya!” Akmal menatap Melati dengan tatapan dingin, dan kemudian beralih menatap Niken yang sejak tadi tertunduk dalam. “Kau ingin keluar Niken?” Niken dengan spontan langsung menggeleng, membuat Melati geram dengan jawaban ibunya itu. “Bu kita harus keluar, mereka jahat bu mereka nyiksa kita ayo bu biar Melati yang cari tempat buat kita tinggal.” Niken menarik tangan Melati, “Melati, tidak semuanya harus sesuai kehendak kita sudahlah nak kita tetap disini saja ya ibu mohon.” Melati melepaskan pegangan itu, dengan tatapan kecewa Melati menggeleng lemah, “Apa ibu tidak lelah bu, bertahun-tahun hidup dalam kungkungan mereka? Sampai kapan bu sampai kapan.” “Sampai hutang ibumu lunas,” bukannya Niken yang menjawab tapi Akmal. “Hutang, hutang apa yang anda maksud? Jangan semakin mempersulit, kami disini bekerja bahkan saya sama sekali tidak pernah mendapatkan upah atas apa yang Kami kerjakan!” geram Melati. Akmal mendekat ke arah Melati, “Ibumu bekerja disini karena hutang, ibumu terlalu miskin untuk bisa melunasi hutang itu mungkin saja sampai dia mat* hutang itu tidak bisa dia lunasi.” Mendengar itu rasanya kaki Melati tidak lagi berpijak, rasanya udara disekitarnya mendadak tidak bisa mengisi rongga paru-parunya membuat nafasnya terengah-engah. Puspa tersenyum sinis, “Udah denger kan? Gausah belagu masih syukur disini di kasih makan di kasih tempat tidur, kalo enggak tau deh bisa jadi wanita panggilan kayaknya.” Melati lantas meninggalkan mereka semua begitu saja, dia benar-benar terguncang dengan fakta yang baru saja dia ketahui, hutang? Bagaimana mungkin ibunya berhutang, sebanyak apa hutang itu sampai ibunya harus bekerja tanpa di gaji bahkan sampai usianya kini hampir menginjak kepala 4. Melati masuk ke dalam kamar usangnya, di atas tikar yang begitu tipis dan sebuah selimut kecil yang tampak begitu tipis Melati menangis tersedu meratapi nasibnya. “Kenapa, kenapa ibu enggan keluar dari neraka ini? Setidaknya jika ibu mau keluar dari sini ada kemungkinan kami bisa bertemu ayah, dan ayah mau membantu kami untuk melunasi hutang itu. Aku yakin ayah pasti mencari kamu sekarang.” Ceklek Melati menyeka tumpahan air matanya dengan cepat, sudah pasti itu ibunya karena tidak mungkin sang nyonya mau bertandang ke kamarnya yang selalu di katakan sebagai kamar hewan. Melati duduk dan menatap ibunya dengan kesal, Niken pun paham bagaimana perasaan putrinya itu. Niken mendekat dan berusaha membujuk putrinya itu untuk berhenti menangis. ”Ibu tahu kamu baru saja menangis kan? Maafkan ibu ya nak tidak bisa melindungi kamu,” sesal Niken sambil mematut kedua tangannya di atas pangkuan. “Hutang apa yang di maksud pria itu bu?” tanya Melati. Niken mengelus rambut melati dengan lembut, “Tidak perlu dipikirkan nak, itu bukan tanggung jawabmu.” Melati meraih kedua tangan Niken, “Bu setidaknya dengan kita keluar dari tempat ini kita bisa mencari ayah bu, Melati yakin ayah pasti mencari kita bu,” ujarnya berusaha meyakinkan Niken. Mata Niken tampak berkaca-kaca, entah kenapa bibir itu sulit untuk mengutarakan isi hatinya, hanya getaran kuat menahan tangis yang bisa dia lakukan. Melati memeluk ibunya dengan sayang, “Kalau ibu takut biar Melati yang cari ayah bu, Melati yakin ayah pasti mencari kita.” Niken menggeleng di dalam pelukan Melati, “Jangan cari dia nak, dia tidak menginginkan kita sudah jangan pikirkan dia cukup kita berdua saja ya kamu mau kan?” “Tapi kenapa bu?” “Sudah Melati cukup nak jangan bahas itu lagi ya,” pinta Niken lagi. “Tapi bu, beri Melati alasan bu agar melati tidak terus bertanya, Melati mohon bu.” Rengek melati sambil menarik tangan ibunya. “Melati!” bentak Niken membuat Melati terdiam, “Ibu bilang jangan cari dia, harusnya kamu tahu jika dia menginginkan kita tidak mungkin dia membiarkan kita seperti ini!” Tubuh Melati tampak menegang, “Apa salah bu Melati ingin bertemu ayah Melati? Melati juga ingin merasakan kasih sayang seperti orang-orang, bukan hanya sibuk dengan pekerjaan yang setiap hari tidan ada habisnya bu.” Niken menjatuhkan tubuhnya dengan kasar, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ”Sudah cukup, kamu tidak akan pernah bertemu dengannya, dan ibu mau kamu tidak lagi mencarinya ataupun membahasnya ibu tidak suka.” Setelah mengatakan hal itu niken pergi meninggalkan Melati yang menangis tergugu seorang diri, dia benar-benar berharap ibunya mengerti bahwa dia begitu mendambakan sosok ayah, dia ingin mereka terbebas dari semua itu dengan bantuan sang ayah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN