Setelah keributan kemarin, kini disinilah Melati dan Niken berada di depan sebuah rumah mewah menjulang tinggi dan bahkan menjadi rumah paling mewah di kawasan tersebut, rumah yang memiliki 4 lantai dilengkapi dengan kolam renang, tempat gym, dan juga lift begitu tampak megah di depan mata bagi siapapun yang memandangnya, tapi tidak bagi Melati dan juga Niken.
“Heh, ngapain bengong disitu mau minta sedekah? Masuk sini banyak kerjaan!” teriak Puspa sambil berkacak pinggang dari arah pintu.
Melati menghela nafas berat, padahal mereka baru saja tiba disana setelah melewati jalanan kota yang cukup ramai untuk bisa sampai disana, apakah tidak ada belas kasihan sedikit? Minimal memberikan minum agar mereka tidak dehidrasi.
Melati dan Niken berjalan cepat mendekati puspa, belum sampai mereka melangkah ke atas marmer mewah itu Puspa lebih dulu menghentikan langkah mereka.
“Heh stop, mau ngapain?” sentaknya.
“Kami mau masuk nyonya,” jawab Niken dengan pelan.
Puspa mendekat, sambil menutup hidungnya dengan kedua jarinya puspa menggeleng, “Kalian bau sekali, bahkan bau tubuh kalian melebihi bau sampah, apa kalian memulung dulu tadi baru sampai kesini?”cecarnya.
Huh, “Kamu boleh masuk atau tidak nyonya? Kami bau sebab kami harus berjalan jauh untuk sampai kesini, harusnya jika anda ingin kami cepat anda membolehkan kami untuk naik ke atas truk pengangkut barang.”
Puspa memutar bola matanya tidak suka, “Cih itu sudah resiko kamu, makanya jangan miskin jadi beban kan?” Puspa pergi begitu saja meninggalkan Niken dan Melati yang berdiri di tengah terik matahari, padahal dia yang meminta mereka untuk kesana tapi malah dia sendiri yang merasa tidak suka dengan kehadiran mereka.
Lama menunggu tidak ada tanda-tanda Puspa membolehkan mereka untuk masuk, “Bu ayo kita masuk,” ajak Melati pada Niken.
Sambil menarik tangan Niken Melati berusaha memberanikan diri untuk masuk kesana, meskipun dia tahu akan ada sesuatu yang mengerikan yang akan terjadi padanya.
“Jangan Melati, sudah kita disini saja ibu tidak mau membuat mereka kembali memarahimu.”
“Sudah tidak masalah, ayo masuk matahari semakin tinggi dan cuaca akan semakin panas kita akan dehidrasi disini.”
Niken menggeleng, “Kita duduk disana saja nak, tidak baik masuk ke rumah orang tanpa dipersilahkan,” Niken menunjuk ke arah salah satu sudut yang memiliki atap.
Niken dan Melati duduk disana sambil menunggu puspa yang belum membolehkan mereka masuk, entah apa kali ini yang akan puspa perbuat pada mereka sudah sering sekali Puspa menjahili mereka hingga berakhir Niken ataupun Melati harus di hukum oleh Akmal.
Ingin rasanya Melati pergi dari sana melarikan diri atau melaporkan kekejaman Akmal pada pihak berwenang, tapi itu dirasa percuma laporan melati tidak akan di gubris karena dia tidak memiliki uang, jikapun ada yang berbelas kasih padanya itu mungkin hanya sesaat karena setelahnya power Akmal akan bermain dengannya.
“Tidurlah bu, ibu pasti lelah kan?” Melati mengelus kepala Niken yang tengah bersandar di dekat tanaman yang cukup besar itu.
Niken mengangguk lemah, “Maafkan ibu yang sempat membentakmu semalam ya nak? Ibu hanya tidak ingin kamu kecewa,” ujarnya.
Melati hanya mengangguk, biarlah saat itu dia mengiyakan ucapan ibunya jika nanti ibunya tidak mau mengatakan siapa ayah Melati sebenarnya biarlah dia sendiri yang akan mencari tahu soal itu.
“Pah, papa tunggu dulu pa Sanju mau ngomong!”
Teriakan Sanju yang begitu keras itu membuat melati dan Niken tersadar dari lamunannya, Melati bangkit dan melihat Akmal sudah rapi dengan pakaian kantornya.
“Kenapa Sanju, papa ada meeting pagi ini,” jawab Akmal.
Sanju bergelayut manja di lengan Akmal, kemudian dia mengecup pipi sang papa, “Eumm mau minta jajan dong pah, Sanju mau jalan sama temen boleh kan?”
Akmal menggeleng, dengan tergesa dia mengeluarkan dompetnya dan mengambil semua isi yang ada disana, “Cukup kan?” ujarnya seraya memberikan uang yang sangat tebal itu.
“Cukup kok, kalo kurang kan papa bisa transfer nanti.”
Setelah memberikan uang itu Akmal kembali melanjutkan langkahnya, melihat Melati yang sudah berdiri tegap di halaman Akmal langsung menatap tidak suka.
“Ngapain kamu disana? Bukannya masuk beberes malah keenakan.”
“Nyonya Puspa tidak memberikan kami izin untuk masuk, jadi kami menunggu disini,” jawab Melati.
Mendengar ada keributan Sanju yang tadi masuk kedalam akhirnya kembali keluar, “Pah udah papa berangkat aja, ini babu emang banyak tingkah pah, harusnya kalo mama gak izin lewat depan kan bisa lewat pintu belakang itu aja kok repot.”
Mendengar ucapan sang putri tercinta Akmal lantas masuk ke dalam mobil barunya, dia begitu berbangga hati karena sebentar lagi statusnya akan menjadi seorang direktur.
“Udah masuk lo sana, malah bengong gue kasih tahu mama habis lo,” ancamnya.
Melati membangunkan niken yang terlelap tidur, “Bu ibu ayo kita masuk,” ujarnya sambil menepuk pelan pipi Niken.
Niken membuka matanya, “Apa nyonya sudah izinkan kita masuk nak?” lirihnya sembari menatap ke arah tumbuhan.
Melati mengangguk, “Sudah bu, kita lewat pintu belakang ayo,” Melati merengkuh tubuh ibunya itu dan membawanya masuk lewat pintu belakang.
Byur!
“Ups maaf,” Tanpa rasa bersalah Sanju menyiramkan air kotor bekas para pekerja rumah yang tadi sempat membersihkan langit-langit rumah, Sanju hanya mengatakan maaf dengan nada lucu seolah mengejek Niken juga melati yang wajahnya tampak basah.
Melati mengusap wajah sang ibu dengan lembut, “Sudah ya nak jangan di perpanjang,” lirih sang ibu karena takut sang anak akan kembali ribut dengan majikannya hingga akhirnya mereka akan di hukum untuk tidur di toilet.
Sanju masuk begitu saja, Niken dan Melati pun turut kembali melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam, tapi sebelum mereka tiba di ambang pintu terlebih dulu suara teriakan keras dari dalam memekakkan telinga mereka.
“Hey babu, bersihkan badan kalian di kamar mandi dapur, rumah ini akan terkena kuman jika kalian masuk.”
Melati menarik nafasnya dalam, benar-benar keterlaluan pikirnya, seolah kotornya tubuh mereka karena kesengajaan padahal hal itu terjadi karena ulah mereka. Entahlah, Sanju dan Puspa memang begitu bahagia jika melihat kedua pembantunya itu menderita.
Melati dan Niken menuruti perintah itu, mereka masuk ke dalam kamar mandi yang cukup sempit, tidak memiliki bak mandi hanya ada satu ember yang menampung air yang menetes dari keran.
“Ibu, ibu duluan saja yang mandi,” ujar Melati mengingat sang ibu tidak akan nyaman jika tidur dalam keadaan tubuh yang kotor.