Niken memiringkan tubuhnya berusaha melirik ke dalam, “Airnya sedikit nak, kamu bagaimana?”
Melati menggeleng, sambil membersihkan sudut mata sang ibu yang menempel kotoran bekas air tadi “Sudah nanti aku juga mandi, sekarang ibu duluan ya hari sudah sore ayo bu.”
Akhirnya Niken menurut, dia masuk ke kamar mandi dan lekas membersihkan tubuhnya, sedangkan melati hanya berdiri termenung di ambang pintu menunggu sang ibu selesai.
Plak!
Sebuah lap kotor penuh debu mendarat tepat di wajah melati, melati menurunkan lap itu dan menatap tajam pelaku yang sudah berani berlaku demikian.
“Heh, kenapa natap enggak senang gitu? Udah mulai berani sekarang!” teriak Puspa garang.
Melati mengalihkan pandangannya berusaha menetralkan degub jantungnya, enggan untuk bersitegang dengan sang majikan.
Ceklek!
Melati menatap ke arah suara, sang ibu keluar dari dalam dengan tubuh yang sudah bersih. Melihat itu Melati tersenyum, namun tidak dengan Puspa seperti enggan melihat kedua orang itu bahagia.
“Heh Niken, segera masak kami lapar!” titahnya sambil melipat kedua tangan di depan d**a.
“Iya nya,” jawab Niken sopan sembari melirik ke arah Melati dan Melati mengangguk.
Niken lantas masuk ke bagian dapur meninggalkan melati dan juga puspa.
“Untuk kamu, bersihin halaman aja ya, air kamar mandi ini bakal ketampung lama daripada kamu capek nunggu terus lantai rumah jadi kotor lebih baik bersih halaman saja.”
“Tapi halaman sudah bersih nyonya,” kesal Melati.
Puspa menatap jengah, “Kamu lihat itu,” tunjuk nya ke arah pohon rindang di sisi rumah.
“Bersihkan daun kering yang masih menempel di pohon, jangan sampai terlewat saya tidak mau besok pagi halaman kotor hanya karena daun itu berjatuhan.”
Setelah memberikan tugas itu Puspa pergi begitu saja, sedangkan Melati menatap tidak percaya akan tugas aneh yang Puspa berikan.
Melati mau tidak mau harus menuruti tugas aneh itu, jika tidak dia dan ibunya akan terkena imbasnya mereka tidak akan di beri makan, harus mengerjakan semua pekerjaan dengan cepat dan tidur di toilet. Sekejam itu? Iya mereka memang tidak berakal.
Mulanya Melati menggoyangkan batang kayu itu, selanjutnya dia menggunakan kayu untuk menjatuhkan daun yang tampak menguning tapi belum terlalu tua, dan terakhir Melati memanjat pohon itu untuk memetik sendiri dengan tangannya.
Wush!!!
“Eh, eh,” Melati memeluk batang pohon dengan kuat, sembari berusaha mempertahankan pijakan kakinya yang sedikit lagi hampir terpleset.
Cetak!
“Aaaaaaaaa!”
Bruk !
*******************************************
“Silahkan masuk tuan Gilbert dan Sekretarisnya sudah menunggu anda di dalam.”
Akmal mengangguk mantap, dengan langkah tegap dan santai dia berjalan masuk ke dalam ruang meeting. Saat dia membuka pintu ternyata sudah banyak orang disana menanti kehadirannya, termasuk gilbert dan sanju.
“Selamat pagi semua,” salam sapa Akmal sambil sedikit membungkukkan badan.
“Apakah seperti ini seorang direktur? Harus di tunggu kedatangannya oleh pemilik asli dari perusahaan?” sindir sang Sekretaris langsung.
“Ehem, maaf nona saya ada urusan mendadak jadi sedikit terlambat.”
“oh begitu, sudahlah mendapat jabatan dari hasil duka, seenaknya pula.” Sindir sekretaris itu karena Akmal sudah dengan lancang mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin baru disana.
Akmal mengepalkan tangannya dengan kencang, benar-benar wanita kurang ajar pikirnya jika saja bukan karena tuan Gilbert Akmal tidak akan menahan diri dengan wanita itu.
“Sudah, mulai meetingnya, jangan buang waktu dengan percuma terlebih dengan hal tidak berguna.”
Ucapan Gilbert itu sontak membuat orang-orang yang ada disana kembali fokus, tujuan pertemuan hari ini adalah membahas tentang masalah yang terjadi di perusahaan selama Jack ada dan setelah dia tiada dan juga menghadirkan beberapa ahli detektif terkenal berasal dari Amerika untuk menyelidiki langsung kasus kematian Jack.
“Jadi saya harap, kalian kooperatif, selama beberapa bulan bahkan mungkin tahun ke depan selama kasus ini belum terungkap maka Saya yang akan menjadi direktur disini.”
“Tidak bisa!” Akmal yang sejak tadi menahan diri lantas langsung bangkit dari duduknya, “Tidak bisa, meskipun anda adalah orang tua dari Jack tapi perusahaan ini miliknya kekuasaan penuh ada padanya dan keputusannya adalah mutlak.”
Gilbert memicingkan matanya menatap akmal, “Sebenarnya anda siapa? Ada hubungan apa anda dengan Jack?” pancing Gilbert.
“Saya teman baiknya,” balasnya.
“Lalu apakah jika berteman baik harus juga mewarisi semua miliknya? Apa anda tidak malu jika sewaktu-waktu surat itu terbukti bukanlah tulisan asli putra saya?”
Akmal menatap semua orang yang ada disana, “Apa kalian setuju jika tuan Gilbert dan Sekretarisnya ini yang memimpin perusahaan ini? Sedangkan kita tahu almarhum Jack tidak memiliki hubungan yang baik dengan mereka, harusnya kita curiga pada mereka.”
Ucapan Akmal itu berhasil memantik api kemarahan sekretaris yang sejak tadi diam, “Apa maksud mu, kau menuduh kami sebagai pelaku?”
Akmal tersenyum sinis kemudian melipat kedua tangannya di depan d**a, “Lalu apa? Tuan Gilbert tidak lagi berkuasa seperti dulu dan itu semua karena Jack, Jack berhasil mengalahkan perusahaan tuanmu siapa yang tidak curiga? Kalian sama sekali tidak pernah menampakkan diri tapi di saat Jack meninggal justru kalian bersikeras untuk mewarisi perusahaan ini.”
Bisik-bisik mulai terdengar di dalam ruangan, banyak orang yang membenarkan ucapan Akmal itu hal itu membuat Gilbert benar-benar muak.
“Kau terlalu pandai bersilat lidah, jelas-jelas kau sendiri yang membuat surat wasiat itu, jika paman Jack benar-benar membuat surat itu tidak mungkin dia mengatakan tidak memiliki pewaris yang sah.”
Tidak mau kecolongan, Akmal justru tersenyum puas, “Lalu dimana anak Jack? Tunjukkan pada kami, kau tidak mau mengatakan dirimu sebagai anak Jack bukan hemm? Karena aku tahu anak Jack adalah seorang laki-laki.”
Gilbert menahan Sekretarisnya itu untuk berdebat, dia memberi kode agar diam.
“kalau begitu, tunjukkan pada kami pihak mana saja yang terlibat dalam hal ini, kau tidak mungkin tidak tahu siapa yang menjadi pengacara putraku bukan? Bawa dia padaku untuk meluruskan semua hal ini.”
Mendengar hal itu Akmal terdiam, tapi sesaat kemudian dia mengangguk mantap, “Baiklah, besok aku akan membawa pengacara itu kemari dan beberapa orang lainnya setelah itu kalian tidak lagi bisa mengelak dan jabatan ini resmi milikku.”
Gilbert menatap sinis Akmal yang tampak tersenyum puas ke arahnya, benar-benar gila jabatan pikirnya dia harus menyelidiki semua itu, tidak mungkin Jack akan gegabah memberikan hal sebesar itu pada seseorang yang hanya mengaku sebagai temannya.