Bruk!
Melati menutup matanya seiring tubuhnya terjatuh dari atas pohon, namun beberapa detik berlalu tubuhnya tidak merasakan sakit hal itu membuatnya membuka matanya secara perlahan.
Saat matanya terbuka, betapa terkejutnya Melati saat tatapan matanya beradu pandang dengan wajah tegas seorang pria tampan, yang tampak begitu sempurna bahkan tidak bisa di sebut sebagai warga Pribumi asli karena melihat struktur wajahnya yang begitu berbeda.
“Sudah bisa turun?” ucap suara berat itu menyadarkan Melati dari lamunannya.
Melati turun dari gendongan pria itu dengan perlahan, wajah Melati menunduk dalam malu karena sempat menatap wajah pria itu.
Pria itu menatap ke arah Melati, “lain kali Berhati-hatilah, jangan membuat orang lain susah karena kecerobohanmu.”
Mendengar hal itu wajah Melati semakin tertunduk malu, benar apa yang dikatakan pria itu ibunya akan susah jika dia cidera dan itu akan menimbulkan masalah baru bagi mereka.
Pria itu meraih tas lusuhnya yang sempat dia letakkan di sisi jalan, tanpa berbicara lebih pria itu berbalik badan dan pergi meninggalkan melati.
Melati yang melihat pria itu pergi begitu saja merasa tidak enak, “Tuan sebentar tunggu sebentar!” teriak Melati membuat pria itu menghentikan langkahnya.
Pria itu berbalik, “Ada apa?”
Melati mendekat, “Saya belum berterimakasih tuan, terimakasih sudah menolong saya,” ujar Melati sembari menunduk dalam.
Pria itu hanya mengangguk kecil, Tiba-tiba pandangannya terfokus pada kediaman Melati, “apakah kamu tinggal di rumah itu?”
Melati mengikuti arah pandang pria itu ke arah rumah akmal, “Iya tuan, saya pembantu disana,” jawabnya sekenanya.
Pria itu tidak lagi menjawab, lantas pergi begitu saja, Melati pun tidak lagi menghentikan langkah pria itu yang penting dia sudah berterimakasih pikirnya.
Melati lantas melangkah masuk kembali ke pekarangan rumah, berniat membereskan semua kekacauan yang tadi terjadi.
“Melati, Melati, Melati!”
Mendengar teriakan Puspa Melati segera bangkit dari posisinya dan berjalan cepat ke arah sumber suara.
“Masak kamu, malah enak – enak di luar,” geram Puspa.
Melati menghembuskan nafasnya kasar, tidak mau mendapatkan lebih banyak omelan melati segera masuk lewat pintu belakang, Niken sudah menunggunya di ambang pintu membawa handuk dan juga baju ganti.
“Airnya sudah tertampung nak, mandilah dulu,” ujar Niken yang di angguki oleh Melati.
Lima belas menit berlalu, Melati sudah selesai dengan mandinya dan lekas membantu Niken memasak di dapur, Niken mengatakan bahwa akan ada tamu besar malam ini jadi mereka harus memasak lumayan banyak.
“Atau mungkin syukuran ya bu, karena tuan Akmal baru pindah kesini?” Tanya Melati, pasalnya sangat jarang keluarga Akmal membuat acara seperti itu, rugi uang katanya.
Niken mengangkat kedua bahunya, “Entahlah nak, itu bukan urusan kita setelah selesai kita langsung hidangkan agar kita bisa lekas istirahat,” ujar Niken sembari memotong sayuran.
Melati mengangguk mengerti dan lekas menggoreng ayam, dan juga menyiapkan bumbu untuk rendang dan berbagai olahan lainnya.
Detik menjadi menit, jam berganti kini semua hidangan sudah selesai di tata di meja makan tidak lama berselang suara klakson mobil terdengar, itu artinya akmal telah tiba disana.
Tap tap tap!
Suara tapak sepatu Akmal saling bersahut sahutan, tidak lama berselang terdengar lagi suara deru mobil, dan di iringi suara bercakap-cakap antara Akmal dan beberapa orang itu.
Niken dan Melati saling pandang, selanjutnya mereka melangkahkan kaki untuk melihat siapa gerangan tamu besar itu.
“Ayo silahkan masuk, maaf jika rumahnya belum terlalu nyaman,” basa basi Puspa.
Puspa dan Sanju terlihat begitu rapi dan tentunya wangi, mereka duduk sejajar di sofa, sedangkan lima orang tamu itu duduk berhadapan dengan Akmal.
Mereka terlihat berbincang santai, sampai saat Puspa memanggil Melati untuk membuat minuman.
“Melati, kesini sebentar!” panggil Puspa begitu lembut.
Melati berjalan mendekat, “Buatkan minum ya,” titahnya dan di angguki Melati.
Perbincangan mereka mendadak lebih serius, kini membahas soal perusahaan tempat Akmal bekerja hal itu terbukti dari bagaimana wajah mereka tampak menegang satu sama lain.
“Jadi bagaimana kalian setuju? Bagaimanapun caranya, berapapun biayanya aku akan bayar asalkan kalian setuju.”
Tingggg!
Melati meletakkan cangkir minum itu kurang hati-hati membuatnya sedikit terbentur dengan meja hingga menimbulkan suara nyaring.
Mereka menatap ke arah Melati, tapi sedetik kemudian langsung kembali fokus, “Saya takut dengan konsekuensinya,” ujar seseorang yang Melati dengar sebelum dia benar-benar pergi dari sana.
“Tuan apa wanita tadi tidak berbahaya?”
Tubuh Melati menegang mendengar pertanyaan itu, sudah tentu pertanyaan itu ditujukan padanya, takut terkena masalah Melati lantas mempercepat langkahnya.
Akmal melirik ke arah Melati yang tubuhnya menghilang di balik dinding pembatas ruangan, “Dia hanya perempuan bod*h yang bahkan tidak pernah mengenyam bangku sekolah,” jawab Akmal dengan angkuhnya.
Mereka semua mengangguk, dan perbincangan mereka dilanjutkan terlebih Akmal yang terus meyakinkan orang-orang yang ada disana.
“Tidak ada yang perlu di khawatirkan, justru ini menjadi kesempatan untuk kita. Kapan lagi kita akan menikmati semua ini? Sudahlah, dengan kalian membantuku otomatis kehidupan kalian akan terjamin bahkan masa depan anak kalian tidak perlu ada yang dikhawatirkan.”
Rayuan maut itu tampaknya mulai menggoyahkan hati orang-orang yang ada disana, lama berselang salah satu dari kelima orang itu menyatakan dirinya setuju untuk membantu Akmal.
“Baiklah aku setuju, tapi anda tidak boleh ingkar janji tuan Akmal, semua keuntungan kita bagi rata,” tegasnya dengan wajah serius.
Akmal tersenyum senang, kemudian beralih menatap ke empat orang lainnya, sesuai dugaan tiga orang lainnya setuju itu artinya hanya salah seorang yang tidak mau ikut dengan rencana Akmal.
”Maaf aku tidak bisa melakukan ini, bagaimanapun selama ini keluarga tuan Jack sudah banyak membantuku, tidak mungkin aku mengkhianatinya.”
Mendengar hal itu wajah Akmal tampak tidak terima, pengacara bodoh pikirnya padahal Akmal memberikannya begitu banyak keuntungan jika pria itu mau membantunya.
“Apa kau serius?" tekan Akmal.
Pria yang bernama Raditya itu lantas bangkit, “Maaf saya tidak bisa, permisi,” pamitnya dan lekas pergi keluar dari kediaman.
“Bagaimana ini tuan, apa tidak berbahaya? Dia bisa saja membocorkan semua rencana ini, saya tidak mau karir saya sebagai seorang pengacara hilang begitu saja karena masalah ini.”
Akmal menatap tajam ke arah pintu dimana terlihat mobil Raditya mulai mundur dari halaman rumah, “Apa kalian mau pekerjaan tambahan?”