“Jadi bagaimana, apa sudah ada hasilnya?” tanya Gilbert pada detektif yang merupakan teman baiknya itu.
Pria itu memberikan hasil rekaman CCTV, “CCTV-nya mati di saat hari kejadian, dan kabarnya di hari itu karyawan libur dan menurut berita Jack sendiri yang meliburkan mereka.”
Gilbert menatap Thomas dengan dalam, “Apa kau tahu? Menantuku juga meninggal dengan motif seperti ini.”
Thomas terlihat mengerutkan keningnya, “Apa berita yang beredar dulu ada kaitannya? Jika putramu terlibat cekcok dengan istrinya karena wanita lain?”
Bukan tanpa alasan Thomas bertanya seperti itu, dalam dunia kejahatan apapun bisa terjadi dan Thomas sudah banyak menangani kasus seperti ini dan semua kasus mengarah pada satu pelaku yang sama, bermotif balas dendam dan sakit hati.
Gilbert menggeleng, “Tidak ada yang tahu, karena saat itu Jack dan Ambar hanya berdua sedangkan aku bersama cucuku. Aku sempat berfikir bahwa Jack melakukan itu, tapi setelah kejadian ini aku berfikir sepertinya Jack benar bukan dia pelakunya,” lirih Gilbert.
Thomas menepuk pundak Gilbert dengan pelan, “Kita akan cari, siapapun dia pasti kita dapatkan aku yakin itu, sekarang kita tinggal cari orang-orang yang sempat menjadi saksi dan juga pengacara dari Jack mereka tentu tahu bagaimana proses Jack membuat surat itu.”
Gilbert mengangguk, “Raksa sudah menyelidikinya, bisa saja besok mereka kemari dan tolong datanglah kesini kita akan lihat bersama bagaimana kesaksian mereka.”
Gilbert dan Thomas melanjutkan perbincangan mereka, hingga beberapa saat kemudian terdengar suara deru mobil dan panggilan seorang pria.
“Opa !” Panggil Raksa memanggil Gilbert dari arah luar.
Gilbert dan Thomas saling pandang, sesaat setelahnya mereka mengalihkan fokus pada Raksa yang tampak kelelahan.
“Duduklah, kenapa kamu berteriak seperti itu,” Thomas memberi ruang di sebelahnya agar Raksa bisa duduk berdampingan bersama Gilbert.
“Huh, terimakasih paman, aku hanya terkejut mendengar kabar dari para bodyguard Opa, mereka mengatakan bahwa si Akmal itu mengundang semua orang yang terlibat di hari pembuatan surat wasiat itu, huh sudah aku duga pria itu benar-benar memiliki niat buruk aku yakin dia bersekongkol dengan mereka.”
Raksa tampak begitu emosi mengatakan hal itu, sembari memijit kepalanya yang mendadak pusing Raksa mengeluarkan handphonenya dan membuka foto kiriman dari bodyguard.
“Lihatlah opa, ini adalah Raditya salah satu pengacara om Jack dan sekarang aku tahu bahwa om Jack sempat bertemu dengannya sehari sebelum kematiannya.”
Gilbert meraih handphone itu dan menatapnya, begitu juga dengan Thomas dia mendekat dan ikut melihat foto itu, “Sudah jelas pria bernama Akmal itu ada kaitannya, tapi aku tidak yakin dia melakukan ini seorang diri,” gumam Gilbert dan di angguki oleh Thomas.
**
Di sisi lain kini Niken dan Melati masih sibuk berkutat di dapur, padahal waktu menunjukkan pukul 11 malam, itu artinya sebentar lagi hari akan berganti.
“Ibu tidurlah, ini tinggal sedikit biarkan aku yang menyelesaikannya,” pinta Melati sembari menggosok kamar mandi.
Niken menatap putrinya itu dengan sendu, kehidupan apa yang sudah dia berikan untuk anak itu bahkan dia merasa tidak pantas di panggil ibu karena membuat sang anak menderita karena ulahnya.
“Ibu, apa ibu mendengarku?”
Niken terkesikap, “Ah iya maaf nak, kamu tidak papa sendirian disini? Ibu takut nyonya marah,” cemas Niken.
Melati menggeleng, “Sudahlah, ibu tidur ya istirahat aku tidak mau melihat asam urat ibu kambuh aku hanya tinggal menggosok sisi ini dan menyiramnya.”
Mendengar hal itu Niken pun menurut, hatinya mendadak sedih melihat sang putri diberlakukan seperti itu, Niken pamit masuk ke dalam kamar mereka sesampainya disana Niken tidak kuasa menahan tangisnya.
Tubuh Niken luruh ke lantai seiring tertutupnya pintu kamar, “Hiks hiks, Tuhan maafkan aku yang belum bisa berkata jujur pada putriku. Maafkan aku yang bersikeras menahannya di tempat terkutuk ini, aku hanya takut orang-orang itu melakukan hal yang lebih kejam padanya.”
Niken menyeka sudut matanya, dia beranjak dari duduknya dan meraih tas lusuh miliknya yang berisi pakaian yang sudah banyak jahitannya.
Niken mengeluarkan sebuah foto yang tampak tua, disana terlihat seorang ibu muda yang tengah menggendong putrinya di atas ranjang rumah sakit dan seorang pria yang berdiri di sampingnya. namun sayang sekali, wajah pria itu sengaja di lubangi entah apa yang sebenarnya terjadi tapi tangis Niken semakin keras tatkala melihat semua itu.
Tidak mau Melati melihatnya menangis seperti itu, Niken segera mengusap wajahnya dengan kasar mencuci wajahnya dengan air minum yang ada di dalam kamar mereka, dan menyimpan foto tadi di tempat semula.
Srek srek srek, byur!
“Heh Melati!”
Melati membalikkan tubuhnya dan melihat Akmal yang sudah berdiri di belakangnya, “Ada apa tuan?”
Akmal melipat kedua tangannya di depan d**a, “Tidak ada, hanya memastikan bahwa kau bekerja sebaik mungkin karena aku mengeluarkan cukup banyak uang untuk memberimu makan disini,” setelah mengatakan hal itu Akmal pergi begitu saja, sudah biasa bagi Melati dan Niken pasangan suami istri juga anak itu memang suka merendahkan orang, mungkin hiburan bagi mereka.
Setelah memastikan semua beres Melati lantas berjalan menuju kamar di bagian gudang, iya gudang karena Puspa hanya memberikan tempat itu sebagai tempat istirahat mereka.
Ceklek!
Terlihat Niken yang sudah tertidur pulas membuat Melati tersenyum, Melati kemudian mengganti baju dan ikut merebahkan diri bersama sang ibu.
**
Pagi menjelang, suasana pagi itu begitu syahdu bagi keluarga Akmal, terlihat biasa saja bagi Melati dan Niken tapi begitu menegangkan bagi keluarga Gilbert.
Raditya dan beberapa orang lainnya datang berkumpul di rumah Gilbert, hal itu Gilbert lakukan karena dia ingin perbincangan mereka lebih santai dan privasi.
Thomas juga Raksa juga ada disana, mereka akan ikut mendengarkan bagaimana kesaksian dari orang-orang itu.
“Kami secara sadar melihat tuan Jack membuat surat itu, di hari itu semua karyawan kantor diliburkan dan kami di minta datang kesana untuk menjadi saksi terkait dengan surat wasiatnya.”
“Lalu apa kalian tidak tahu apa alasan Jack melakukan itu?” tanya Thomas.
Empat orang itu menggeleng, “Tuan Jack hanya berpesan bahwa semua itu dia lakukan untuk melindungi haknya dari keluarganya yang serakah, terlebih sudah tidak ada lagi ahli warisnya.”
Mendengar hal itu Gilbert benar-benar tidak percaya, rasanya sulit sekali mempercayai semua ucapan mereka terlebih dia begitu mengenal putranya.