Nayang terseyum tipis mengingat perdebatannya dengan Sammy .... perdebatan yang tak pernah usai ... bahkan sampai cerita ini selesai ditulis dan dikirimkan ke produser dan disetujui setelah berbulan-bulan dan berkali kali presentasi. Belum pernah ia dan paman Dan seperti ini memperjuangkan sebuah cerita ... tapi ini memang bukan sekedar cerita ....
Tanpa sengaja Dimas menangkap senyum tipis itu, sedikit tersentak saat pemiliknya mengangkat kepala sejenak, menampakkan kilatan sedih dimata kelamnya sebelum kembali menunduk dan sibuk dengan catatannya. Ada sesuatu dari perempuan itu yang menarik rasanya .. entah apa.
Ditariknya nafas panjang, mencoba mengembalikan perhatian pada percakapan disekitarnya. Cerita sekuel ketiga drama ini cukup sederhana, tapi tidak bisa dikatakan dangkal. Membahagiakan semuanya seperti yang diharapkan sebagian besar pecinta drama, tapi prosesnya cukup rumit tanpa banyak kesalahpahaman. Penguatan masing masing karakter didalamnya membuatnya tertantang, apalagi kali ini Dan Lambert .... Sutradara senior yang sudah merambah mancanegara bertekad menanganinya secara langsung. Drama pertama yang ditanganinya, karena ia lebih dikenal lewat karyanya di layar lebar. Tenang, ramah, perfeksionis ... tiga kata yang cukup tepat menggambarkan lelaki dengan rambut keperakan itu. Sungguh pengalaman yang luar biasa bisa bekerja bersamanya.
“ Nay .... coba bantu Dimas dibagian itu.” Dan menatap layar diujung ruangan, melingkari sepenggal percakapan antara Aneth dan Nara.
Nayang menarik nafas, fokus pada barisan kata di layar yang sudah tertanam dalam otaknya, berusaha mengabaikan rasa sedihnya ,” Hmmm.” Mengangguk kecil pada Dimas, meminta lelaki itu mulai.
“ Rory mencintainya ....”
“ Ya ... sangat.” Nara menarik nafas dan menghembuskannya perlahan ,” Sebesar cintamu.”
“ Sheeba nyaman bersamanya.”
“ Tapi hatinya milikmu .... dan Rory tahu itu.”
Aneth tersenyum tipis saat Nara menatapnya, tersenyum menenangkan.
“ Rory tidak akan melupakan rasanya pada Sheeba, dia akan tetap melakukan yang terbaik untuknya. Tapi dia tidak akan mengganggu hubungan kalian.” Nara menggigit bibirnya melanjutkan dengan suara bergetar ,” Dia akan melakukannya diluar lingkaran, karena dari dulu itulah caranya mencintai.”
“ Kamu mencintainya ?”
“ Aku mencintai caranya mencintai seseorang.” Nara mencoba membuang muka tapi gagal.
Aneth menatap dalam, melihat riak dimata Nara ,” Dan kamu melakukan cara yang sama.”
“ Aku gadis kecilnya ... akan selalu seperti itu.”
Hening untuk beberapa saat ... sebelum tepuk tangan pecah diruangan itu. Belasan pasang mata tertuju pada Dimas dan Nayang.
“ Wow .... luar biasa.” Dimas menatap dalam dalam perempuan yang hanya tersenyum tipis sebelum sibuk dengan buku di pangkuannya. Ini kali pertama ia menemukan sesorang yang begitu mudah menyatu dengan dirinya sejak kalimat pertama. Siapa perempuan ini ? Kemampuannya luar biasa, tapi apa yang dilakukannya dibelakang Dan Lambert ?”
Dan Lambert berdehem ,” Sambil kita nunggu pemeran Nara, sementara bisa latihan dengan Nayang. Dan kalian semua bisa berlatih bersamanya, dia hafal hampir seluruh naskah ini.”
“ Kenapa bukan Nayang saja ?” Lyra dan Lody bertanya serempak.
Dan tersenyum tanpa menjawab setelah menatap sekilas pada perempuan dibelakangnya.
Dimas melihat wajah Nayang sejenak memucat. Dialihkannya pandangan saat Lody dan Lyra mencoba bagian lain dari naskah. Sempat dilihatnya Nayang serius menyimak keduanya dengan tangan tetap bergerak diatas catatan.