Memulai Hari
Nayang membuka lebar lebar pintu balkon, menghirup udara pagi yang basah, menatap langit yang matahari beranjak terang. Ditariknya nafas panjang .... matanya tak lepas dari matahari yang muncul perlahan, lambat menembus kabut.
Semua butuh waktu .... pelan pelan saja, toh tebalnya kabut tidak akan menghalangi matahari bersinar pada saatnya. Pagi adalah saat yang tepat untuk memulai hari ... bagaimanapun pagimu hari ini.
Pagi ini berkabut, ada yang hilang saat matahari menampakkan diri bukan dari garis batas cakrawala .... seperti saat menyadari pagi ini dan ke depannya ada yang hilang dalam langkahnya mewujudkan cerita ini. Cerita yang mereka susun bersama dari perdebatan imajinasi, emosi dan tenaga hampir lima belas bulan lamanya. Cerita yang merekatkan cinta mereka semakin dalam ditengah rasa sakit dan lelah, diantara harapan dan keputusasaan.
Selamat pagi ..... Matahari masih bersinar, masih ada asa dan harapan disana .... Masih ada mimpi yang akan kucukupkan untuk diriku sendiri, Masih ada permintaan orang orang tercinta yang akan kucoba untuk meraihnya. Selamat pagi Sammy .... aku akan bersama paman Dan untuk mewujudkannya .... aku akan melakukan apapun yang bisa kulakukan untuk memenuhi mimpi terakhirmu tentang cerita ini.
Nayang meraih sepatunya, memutuskan memulai hari ini dengan menyusuri beberapa kilometer pantai sebelum kabut benar benar menghilang.
“ Mau lari, Nay ?”
Nayang tersenyum ... memeluk singkat lelaki yang berdiri di teras ,” Mumpung belum panas, paman.” Dilambaikannya tangan singkat.
“ Jangan lupa nanti jam delapan siap reading.”
Nayang hanya mengangguk samar sambil berlari menjauh, menghindari beban dan tekad yang tergambar jelas di mata biru milik pamannya itu. Tertekan dan kehilangan membuat guratan usia nampak jelas dalam beberapa bulan terakhir di wajah kharismatik itu. Lelaki tegar yang murah senyum selama bertahun tahun membesarkan putri dan keponakannya seorang diri ... lelaki setia dan penuh cinta yang selalu mengenang istrinya dengan segenap rasa sejak pertama bertemu sampai maut memisahkan.
Page Break
Nayang membagikan naskah pada belasan pemeran yang duduk mengelilingi meja oval besar, sebelum mengambil tempat dibalik punggung Dan Lambert, bersiap dengan copy naskah dan buku catatan yang sudah terbuka. Seperti biasa, dalam diam ia menyerap semua pembicaraan dan atmosfir yang terbangun .... dari balik punggung kokoh itu ia mengamati dan merekam satu persatu pihak pihak yang terkait dalam produksi .... dan menjadikan catatannya bahan bagi pamannya untuk bersikap.
Diangkatnya kepala saat mendengar tawa ringan diseberang meja, mendapati dua wajah tampan dengan sentuhan berbeda itu ... Dimas dan Lody ... pemeran Aneth dan Rory, berada diantara wajah cantik Lyra sang pemeran utama, Sheeba. Satu lagi wajah baru dalam sekuel ketiga masih kosong, karena belum ada yang memuaskan tim setelah pemeran sosok Nara yang disetujui sebelumnya mendadak mengundurkan diri setelah mengumumkan kehamilan dan kepindahannya keluar negeri mengikuti suaminya.
Aneth lebih layak mendapatkan Sheeba, dia sudah mengorbankan semuanya, bahkan bertaruh nyawa.
Tapi Rory yang bisa menghadirkan senyum di hari hari Sheeba .... dia juga berkorban banyak. Lagipula bukan sebuah kesalahan untuk berpindah ke lain hati setelah bertahun tahun Aneth menghilang tanpa kabar.
Noway .... di hati Sheeba hanya ada Aneth, dan dia toh sudah mengatakan itu sampai episode terakhir sekuel kedua. Sheeba bukan sosok yang mudah berpaling.
Nooooo ..... aku gak rela kalau Rory cuma jadi penonton ditengah kembalinya Aneth