bc

FRANDA’S SECRET

book_age18+
9
IKUTI
1K
BACA
like
intro-logo
Uraian

Sebelum membaca novel [Franda’s Secret]. Baca dulu novel [A Camouflage] supaya ceritanya nyambung.

Sudah mimpiku sejak lama ingin memakai gaun yang cantik dan memoles riasan di wajahku. Namun, aku selalu saja menepis mimpi maupun keinginanku karena aku paham dengan kondisiku saat ini.

Alasan “salah tempat” itu merupakan alasan klise yang dilontarkan sebagai tameng untuk mencari pembenaran.

Namun, dari hati terdalam aku hanya ingin menjadi diriku sendiri siapa aku? Bukan berpura-pura menjadi orang sukses yang dikagumi banyak orang, sehingga gila pujian.

chap-preview
Pratinjau gratis
#1 Divorce
Laras POV Surabaya, 5 Mei, 1970. Merupakan pesta pernikahan Adik iparku, Amira tengah berlangsung khidmat dan meriah. Yup, Amira adalah adik bungsu suamiku, dari empat bersaudara dan suamiku anak ke dua. Amira adalah seorang dokter muda dengan segudang prestasi, dan juga berwajah cantik jelita. Keluarga besar suamiku mengantarkan Mira, yang biasa kusapa. Untuk menjadi nyonya, atau menjadi seorang istri dari pengusaha keturunan keluarga “kayu manis”. Oleh karena itu, pesta yang digelar pun tak main-main. Yup, tentunya menjadi kebanggaan tersendiri ketika menjadi bagian dari keluarga kaya penguasa negeri. Setelah acara akad nikah selesai. Dilanjutkan dengan acara makan-makan dan tak lupa pemotretan untuk keluarga besar kedua mempelai. Di meja khusus yang diperuntukan untuk keluarga besar Mira. Aku duduk termenung menikmati pesta mewah dan meriah. Begitupun dengan Ibu mertuaku, Hj. Melanie yang biasa disapa Cik Mel tengah menatapku serius, dengan bercampur rasa kesal. “Ibu, kenapa? Apa ada yang salah kah denganku,” tanyaku penasaran. “Bulan ini kamu benar-benar udah periksa ke dokter kandungan ‘kan?” cecarnya. Sembari menatapku serius. “Udah, Bu,” sahutku. “Gimana dengan suamimu? Apakah dia juga sudah ikut periksa?” tanyanya serius sembari menatap dan menggenggam kedua lenganku. “Belum,” jelasku menggelengkan kepalaku. “Tapi, Ibu yakin kok, Kamu yg bermasalah,” hinanya padaku. ...jeda... Jujur, aku tak bisa lagi debat karena semua letak kesalahan selalu ada padaku sehingga menjadikanku sebagai sumber atas semua masalah. Bahkan, dihari pernikahan Amira, aku masih saja dicecar pertanyaan “Jadi kapan kamu akan menghasilkan anak!?”, bisik ibu mertua yang selama ini sangat kuhindari pertemuan dengannya. Dengan semua hasil pemeriksaan dari dokter kandungan, bahwa aku tak ada masalah. Bahkan tak hanya dokter, tapi juga tukang urut, tabib dan ahli herbal yang mengerti seputar kandungan menyatakan jika rahimku sehat dan baik-baik saja. Sementara, aku sudah berobat dari tradisonal sampe medis dan bahkan di dalam maupun di luar negeri. Aku pun ku rela jika dokter "mengobrak-abrik" bagian tersensiku demi supaya aku bisa mengandung. Tapi hasilnya apa? Keluarga suami tetap tak menghargai upayaku. Namun, malah melindungi suamiku yang selalu menghindar ketika diajak periksa ke dokter ataupun ke rumah sakit dengan seribu alasan. Rasa sedih, sakit hati, putus asa dan kecewa menghantuiku. “Gabah kopong pun akan dibuang karena tak guna!” ketus Ibu mertuaku, sembari berlalu. Aku hanya diam seribu bahasa, dengan berlinang air mata yang tak bisa kutahan lagi. Wendy dan Nadya yang merupakan sepupu dari suamiku. Membantu untuk menenangkanku, dengan mengelus punggungku. “Sabar ya, Mbak. Udah biarin aja gak usah dimasukin ke hati,” timpal nadya. Aku cuma menunduk malu, dengan rasa sesak dan benci yang luar biasa mendalam pada diriku yang tak becus menjadi “pabrik” anak. Aku sudah bertahan dua belas tahun dengan pernikahan ini. Kubuat hatiku sekuat baja supaya aku tak gampang goyah dengan segala cobaan “semburan api” yang pada akhirnya mampu membakar baja menjadikan lava pijar. Tak ada kata pamit pada Wendy dan Nadia karena aku tahu jika aku pamit malah menambah kacau suasana pesta. Mereka pun paham jika saat ini kamar mandi menjadi tujuanku. “Mau ke kamar mandi yuk, aku antar ya Mbak?” ajak Nadia. Sembari memapahku yang juga ikut meneteskan air mata. “Tak usah Nad, Mbak mau nyari udara segar aja di luar,” sahutku berusaha menolak ajakan Nadia karena aku takut nanti malah orang-orang curiga jika aku nangis-nangis di kamar mandi. Kuberjalan sekuat tenaga meninggalkan ruangan megah tempat resepsi untuk menyusuri berjalan menuju lobi hotel. Bertujuan mencari sebuah Becak sekalipun karena rasa pengap luar biasa. Tanpa pamit pada suamiku, Elang Samudra. Bohong jika aku selama dalam perjalanan pulang tak memikirkan tentang perpisahan atau lebih tepatnya lagi perceraian karena kejadian hari ini. Hari dimana aku dihina habis-habisan oleh Ibu mertuaku di depan orang-orang. Suamiku adalah orang baik, penyabar, penyayang dan pengertian. Dia menghormatiku dan mencintaiku bukan karena aku wanita cantik, tapi karena aku seorang anak Kiyai pemilik Pondok Pesantren di Madura. Suamiku sangat menyayangiku apa adanya. Meskipun pada kenyataannya, pernikahanku ini adalah hasil perjodohan. Namun, suamiku tak pernah mempersalahkan apapun itu. Lamunanku melayang jauh karena pengorbananku sampai dititik ini, dimana, aku harus rela melepaskan cita-citaku sebagai pengajar di Pondok Pesantren. Selain itu, akupun mengubur mimpiku menjadi seorang perancang busana demi menjadi istri seorang Pengusaha yang telah banyak berkontribusi untuk pesantren. Jika bukan ayahku yang menjodohkanku dengan lelaki pilihannya. Aku pun tak akan sudi menjadi bagian dari keluarganya karena diawal memang tak ada rasa cinta. Aku rela mengubur mimpi-mimpiku, dan meninggalkan pekerjaanku sebagai seorang guru Madrasah di Pondok agar aku bisa mengabdi dan fokus menjadi seorang istri. Bagi sebagian orang Indonesia, salah satu tujuan membina rumah tangga adalah sebagai “pabrik” anak, dengan harapan akan segera memiliki buah hati. Namun, bagiku semua itu sirna karena pada kenyataannya sampai detik ini setelah melewati dua belas tahun lamanya aku selalu gagal mendapatkan bayi, meskipun melalui proses bayi tabung. Aku pun tak pernah dihargai sebagai seorang istri di keluarga suamiku. Bahkan, dimata keluarga suamiku aku tak jauh berbeda dengan gabah kopong yang seharusnya segera dibuang. Rumah tangga yang selama ini kupertahankan, akan segera kuakhiri saja. Supaya suamiku bisa memilih dan menikahi wanita lain yang bisa menghasilkan keturunan. Bukan karena aku tak ingin terus bersamanya. Bukan Karena aku menyerah pada keadaan, tapi sudah seharusnya aku tahu diri untuk memberikan kesempatan pada suamiku. Supaya menjajal wanita lain yang siapa tahu akan menghasilkan keturunan, yang bisa meneruskan nama keluarga dan bisa menjadi yang diharapkan oleh Ibunya. Sampailah di rumah mewah yang terletak di kawasan Mulyorejo, Surabaya. Yup, rumah ini adalah rumah suamiku. Meskipun telah sah menjadi milikku sebagai hadiah pernikahan yang ke-10. Namun, aku merasa rumah mewah ini adalah masih rumah milik suamiku dan masih atas namanya. Pada intinya aku tak berhak atas apapun. Ketiba sampai di rumah, tak lama telephone rumah pun berbunyi. Aku pun langsung mengangkatnya karena aku tahu jika suamiku lah yang menelponku. “Halo, assalamualaiku” sapaku. “Kamu udah sampai rumah rupanya. Kata Mama kamu udah pulang, jadi beneran ya? Kamu kenapa gak pamit dulu? Tahu gitu ‘kan kita pulang bareng. Kenapa kok pulang mendadak? Kamu sakit?” cecarnya, dengan semua pertanyaan yang gak bisa aku menjawabnya. “Mas, tolong ceraikan aku. Supaya Kamu cari wanita lain yang bisa mengandung anakmu,” pintaku dengan suara lantang. “Pasti Mama ngomong gak enak ‘kan?” Tanyanya. “Mmm,” “Udahlah gak usah didengerin ocehan mamahku, anggap saja angin lalu. Bulan depan Kita bulan madu lagi ke Tokyo ya?” rayunya. jeda “Mau ‘kan? ‘Kan?” ajaknya. “Gak, Mas. Aku serius! Aku minta cerai saja. Maafkan aku yang tak guna ini, yang bisanya cuma menghabiskan uangmu dan menikmati semua fasilitas ternyaman yang telah kamu berikan untukku,” ucapku terbata-bata dengan berlinang air mata. “Apaan sih!? Kamu ngomong apa? Ngawur aja, asal kamu tahu Aku tak mau pisah dari kamu,” sahutnya dengan suara bergetar. Kupejamkan mataku, lalu kututup sambungan telpon dengan suamiku yang sebentar lagi akan jadi mantan suamiku. Kududuk terpaku di ruang tamu menikmati angin semilir dari kipas angin. Otakku mulai mencerna kalimat apa yang telah kuucapkan tadi barusan pada suamiku? Namun, disatu sisi aku harus kuat dan juga bisa berkomitmen dengan apa yang telah kuucapkan. Disisi lain, aku berpikir, tentang betapa jahatnya aku sebagai istri yang meminta cerai ditelephon. Apakah langkah yang sudah kuambil ini benar atau hanya sekedar untuk meluapkan amarahku? Entahlah, sudah berapa lama tatapanku terpaku pada pemandangan kolam renang dengan pepohonan yang rimbun? Tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi tanda suamiku datang yang membuyarkan semua lamunanku. Namun, posisiku masih sama duduk di kursi kayu jati di ruang keluarga tanpa bergeser sedikitpun, atau beranjak untuk menyambutnya di pintu seperti biasa. Langkah sepatu pantofole terdengar berlari ke arahku semakin jelas. Pelukan hangat berlabuh di dadaku. Yup, pelukan dari seorang Lelaki yang telah menjadi partner hidupku selama dua belas tahun lamanya. “I love you more my queen,” lirihnya. Aku hanya terdiam tanpa membalas ucapan cintanya, dan tanpa mengedipkan pandanganku pada taman ala jepang yang ditata sangat cantik. “Gak boleh ngomong sembarangan lagi ya,” imbuhnya. “Minggu depan Kita ke Tokyo dan setelah itu kita langsung ke Hokkaido. Sesuai dengan keinginanmu jika winter besok berencana berkeliling Jepang. Kamu mulai siap-siap belanja baju dan peralatan untuk musim winter disana,” rayunya. Lalu melepaskan pelukan dan menarik nafas lebih dalam. “Gak usah pergi jauh-jauh. Kita akan sibuk dengan pengacara masing-masing dan juga persidangan. Minggu depan aku sudah pindah dari sini,” ketusku serius. Berusaha serius dengan keadaan dan belajar untuk berkomitmen dengan apa yang telah kuucapkan. ...jeda... Kita saling tatap-tatapan. Lalu, Suamiku tiba-tiba berlutut. “Kasih aku kesempatan satu kali ini saja untukku sebagai suamimu,” ucapnya dengan berlinang air mata dan menggenggam erat kedua tanganku. Jujur, sebagai wanita ketika menghadapi seorang laki-laki berlutut untuk memohon supaya menarik kembali ucapanku itu terasa berat sekali. Aku hanya terdiam dengan berurai air mata. Rasa ingin “menyerah” menyelimutiku dan tekadku untuk bercerai mulai hilang, dengan berganti ingin memeluknya. Kemudian disusul dengan kalimat, maafkan aku, Mas. Karena atas alasan apapun suamiku tak bersalah. Salahnya adalah ia tak pernah mau diperiksakan kondisi kesehatan alat reproduksinya, sehingga aku dan dokter pun tak tahu apa suamiku sehat atau tidaknya. Berkesimpulan saja, jika sebenarnya penyebab “keinginan” berpisah adalah adanya orang ketiga yang membuatku bertekad ingin mengakhiri pernikahan ini. Dikarenakan tak ada jawaban apapun dari mulutku. Akhinrnya, Mas Elang yang biasa kusapa, berjalan menuju keluar rumah dengan langkah gontai. Ingin rasanya tanganku ini menghentikan langkah suamiku. Tapi rupaya bisikan batinku lebih kuat untuk tetap membiarkannya pergi. Bulir bening menumpuk dari pelupuk mataku tak bisa lagi kubendung. Dadaku berasa sesak dan tiba-tiba aku menyesali keputusanku. Kuluapkan pada sebuah bantal di kursi kayu, dengan teriakan dan tangisan yang luar biasa. *** Seminggu berlalu tak ada kabar berita dari suamiku, yang lebih mengagetkan lagi ia juga tak pulang meski hanya untuk mengambil barang-barangnya. Begitupun aku tak ingin menanyakan kabarnya? Dimana? Sudah makankah? Malah Aku semakin berpikir jika ini adalah bagian dari introspeksi diri. Supaya Kami bisa saling melepaskan ketergantungan diantara kami yang sudah lama terjalin. Hari ini sesuai ucapanku. Aku akan pindah dari rumah mewah ini. Rumah mewah yang telah sah menjadi miliku dua tahun lalu sebagai hadiah pernikahan dari suamiku. Pengacara yang sekaligus Pamanku yang akan menyelesaikan prahara rumah tanggaku dan sekaligus urusan pembagian harta gono-gini. Setelah memilah-milah mana barang suamiku dan mana barang-barangku. Akhirnya aku selesai juga berkemas semua barang-barang dan juga perabotanku. Aku bersiap untuk pindah ke rumah sederhana yang kubeli dari menyisihkan uang jajanku tiap bulannya. Rumah yang berada di pinggiran Sidoarjo ini kubeli tanpa sepengetahuan Elang, suamiku. Bukannya aku mengharapkan perceraian, tapi perceraian adalah bagian dari resiko pernikahan yang harus dipersiapkan oleh semua pasangan menikah. Seperti layaknya jatuh cinta, maka ketika itu seseorang harus siap dengan resikonya putus cinta yang menyebabkan patah hati. Maka, dari itu kupersiapkan rumah yang kubeli dari uang jajanku sebagai tempat "liburanku". Jika suatu hari aku kehujanan, sehingga tak kebingunggan lagi dimana aku harus berteduh.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Bukan Calon Kakak Ipar

read
146.6K
bc

The Perfect You

read
297.7K
bc

Skylove

read
115.1K
bc

Symphony

read
184.7K
bc

Istri Simpanan CEO

read
214.5K
bc

Love Match

read
180.3K
bc

Stuck With You

read
75.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook