Sudut Pandang Maxine Martin "Tuan Enzo?" Aku menggenggam erat selimutku. Baru saja detak jantungku mulai tenang sedikit, kini kembali melesat tak terkendali karena pria yang tadi menjadi penyebab pikiran liar di kepalaku. "Maxine..." Suara panggilan lagi dari balik pintu. Aku menggigit bibir bawahku. Astaga, apa yang dia lakukan di sini? Aku kini memegangi dadaku, napasku terasa berat karena gugup yang berlebihan. Seolah-olah adegan yang kulihat sebelumnya kembali terputar di pikiranku. Aku merasa konyol, buru-buru menutupi wajah dengan kedua tangan seperti ada seseorang yang bisa melihatku. Ketika aku sadar betapa berlebihan reaksiku, aku berbaring lagi dan membenamkan diri di balik selimut. Tidak mungkin. Aku tidak akan keluar. Aku tidak ingin bertemu ayahnya Ethan. Aku yang merasa

