8. Salah Lagi

1423 Kata
“Deril, tunggu!” panggil Laras segera mengejar Deril yang tergesa-gesa berlari masuk ke dalam rumah setelah mereka turun dari mobil. Tapi Deril tak mendengarkan panggilan Laras. “Alena! Alena!” panggil Deril saat menyusuri ruang tamu. “Ada apa, Tuan Deril?” tanya Pak Sapta menghentikannya di ruang tengah. “Aku ingin bertemu Alena. Apa dia ada di kamar tamu?” Mata Deril mengarah ke lantai dua. Dia akan bergegas ke lantai dua. “Tunggu, Deril. Tenangkan dirimu dulu,” tutur Laras terlihat kepayahan. “Cepat, katakan! Alena ada di kamar mana? Apa dia di kamar tamu?” Deril mengulangi pertanyaannya dengan wajah sudah tidak sabar. “Nona, Alena----- “ Pak Sapta belum menyelesaikan kata-katanya. “Mengapa kamu mencari Alena di sini?” tanya Ryan tiba-tiba muncul dan turun dari tangga. “Dia tidak ada di sini,” tegas Ryan berjalan mendekat. “Untuk apa kamu berbohong padaku, Ryan. Laras telah mengatakan segalanya.” Deril tersenyum sinis. Laras menatap suaminya dengan ekspresi wajah penuh penyesalan. “Maaf. Aku hanya ingin---” “Cukup! Aku sangat kecewa denganmu, Laras.” Ryan menatap tajam istrinya itu. “Tuan, Anda mau ke mana?” tanya Pak Sapta. Ryan dan Laras menoleh ke arah Deril yang bergegas menaiki tangga. Dia tak menjawab sepatah kata pun. Deril yakin, Alena sekarang ada di kamar tamu. Dan, dia sangat tahu kamar itu ada di mana. Setiap sudut rumah ini, dia sudah sangat hafal. Sebagai teman Ryan sejak di bangku sekolah, dia sangat sering menginap di rumah ini. “Deril, berhenti!” perintah Ryan. Kemudian bergegas menyusulnya. Laras pun demikian Tapi Deril tak memperdulikan mereka. Dia terus saja berjalan menuju kamar tamu. Setelah beberapa saat, Deril sampai di depan kamar Alena. Tanpa mengetuk atau pikir panjang lagi. Deril membuka pintu itu dan masuk ke dalam. Alena yang sedang duduk di sofa tampak terkejut dan ketakutan. Tapi tak pedulikan itu, Deril langsung mendekat dan memeluknya. “Jangan sedih, Al. Aku juga bersamamu. Aku bersamamu,” ucap Deril. Alena meronta dalam pelukan Deril. Ingin melepaskan diri. “Tidak. Tidak terjadi apa-apa denganku. Tidak pernah terjadi apa-apa denganku.” Mendengar itu Deril melepaskan pelukannya. Memperhatikan Alena yang terus menggelengkan kepala dengan raut wajah panik. “Tidak, apa-apa, Al. Kamu benar, tidak terjadi apa-apa denganmu.” Alena mendorong Deril. Seakan ingin menangis dia bersuara dengan lantang, “Pergilah, Deril! Aku baik-baik saja. Tidak pernah terjadi apa-apa denganku!” Deril hampir terjatuh ke belakang. Alena berlari keluar kamar. “Alena, kamu mau kemana?” tanya Laras ketika dia dan Ryan berpapasan di depan kamar. Alena tidak menjawab. Sambil menangis dia berlari. “Alena, tunggu!” Ryan langsung mengejarnya. Laras juga berbalik lagi mengikuti Ryan. “Alena! Alena!” panggil Deril menyusul keluar kamar. Dilihatnya Laras dan Ryan berlarian mengejar Alena. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun segera menyusul mereka. Laras dan Ryan mengejar Alena sampai ke halaman depan. Sementara Alena terus berlari menuju pintu gerbang. “Pak Pras tutup pintu gerbangnya! Tutup pintu gerbangnya,’ perintah Ryan dengan suara cukup keras. Tapi, Pak Pras kurang mendengar dengan jelas. Dia terlihat kebingungan. Sebentar dia melihat ke arah Alena. Lalu berpindah melihat Laras dan Ryan. Kebetulan gerbang masih terbuka karena beberapa detik yang lalu Tuan Damawan dan Nyonya Sarah baru saja keluar. Dan, Alena bisa keluar begitu saja. Alena tampak kebingungan berdiri di tepi jalan. Kemudian dia agak berjalan ke tengah jalan melambaikan tangannya berusaha menghentikan taksi. “Apa yang kamu lakukan, Alena?” Ryan menarik lengan Alena ke pinggir jalan. “Itu tadi berbahaya. Kamu bisa tertabrak kendaraan.” “Alena, ada apa? Mengapa kamu malah pergi? Kamu mau pergi ke mana, Alena?” tanya Deril beruntun begitu tiba di dekat Alena. “Lepaskan aku, Ryan. Biarkan aku pergi dari sini,” kata Alena berusaha melepaskan cengkraman Ryan. “Satu persatu orang ingin melihat kehancuranku. Mereka hanya ingin mengasihaniku. Aku benci seperti ini.” Alena terlihat marah dan menyeka air matanya. “ Aku tidak apa-apa. Tidak terjadi apa-apa denganku. Aku harus pergi dari sini,” teriak Alena marah. “Tidak akan kubiarkan kamu pergi dari sini! Kamu akan tetap di sini bersamaku, Al,” tegas Ryan dengan sorot mata tajam. “Tidak, Ryan,” sahut Alena menolaknya. Tapi Ryan segera menarik Alena ke dalam pelukannya. Seakan ingin memperjelas pernyataannya dia memeluknya erat-erat. “Tidak, boleh. Kamu akan terus dan tetap di sini. Karena aku akan menjagamu, Al.” Laras yakin Ryan berkata demikian hanya sebatas teman. Tapi tak tahu mengapa batin Laras berdesir bagai disayat sembilu. Mendengar dan menyaksikan adegan itu hatinya meronta tidak rela. Pemandangan itu begitu terlihat begitu romantis. Jika orang tidak tahu, pasti akan mengira Ryan dan Alena adalah sepasang kekasih. Laras tidak ingin memiliki perasaan demikian. Tapi dia juga mencegahnya. Entah perasaan tidak rela tau pun cemburu itu muncul secara alami begitu saja di dalam hatinya. “Aku hanya ingin mendukungmu, Al. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku peduli padamu. Aku tidak bermaksud menga---- “ Deril tak bisa menyelesaikan penjelasannya karena Ryan sudah memotongnya. “Cukup! Jangan katakan apa pun lagi!” Bukan hanya Deril, Laras juga terkejut. Tak disangka suaminya akan memotong penjelasan Deril. “Mengapa, Ryan? Deril hanya ingin memberi penjelasan pada Alena.” “Itu tidak perlu,” sahut Ryan dengan cepat. “Tapi, Ryan. Bukankah Deril juga teman Alena. Berikan kesempatan padanya untuk membantunya,” protes Laras. “Laras, benar, Al. Aku juga ingin membantu dan menjagamu seperti Ryan. Aku tidak bermaksud mengasihanimu,” sahut Deril. Alena tak membalas penjelasan Deril. Dia malah menempelkan kepalanya di dadda Ryan dengan wajah sedih. Ryan menggelengkan kepalanya memandang Laras dan Deril dengan tatapan sinis. “Aku sedih sekali. Mengapa kalian tak bisa memahami kondisi Alena sekarang?” Ryan lalu menggenggam pergelangan Alena. “Ayo, kita masuk ke dalam.” Laras dan Deril hanya bisa menatap keduanya menjauh. “Tak kusangka, Alena bisa salah sangka padaku.” Deril menyeringai kesal. “Bisa-bisanya dia berpikir aku ke sini hanya untuk mengasihaninya.” “Jangan marah padanya, Deril. Kita harus berusaha memahaminya,” tutur Laras. “Tapi, aku kecewa dengannya. Alena melihatku seperti orang asing,” ungkap Deril. Di sudut bibirnya tersungging senyuman seraya mendengus. “Mungkin karena selama ini Ryan ada di dalam hatinya. Sementara aku tidak.” Deril menoleh pada Laras. "Maaf, aku tidak bermaksud memanasimu.” “Tidak apa-apa. Aku sudah tahu.” “Oh, ya. Apa Ryan yang mengatakannya? Aku pikir selama ini Ryan tidak tahu.” Deril terlihat cukup terkejut. “Bukan. Aku mengetahuinya sendiri sudah lama.” “Oh, kupikir Ryan yang membritahumu. Temanku itu memang perlu minum suplemen pencerdas otak untuk bisa menyadarinya.” “Ya, aku juga heran. Mengapa sampai sekarang dia belum mengerti perasaan Alena.” Laras mengedikkan bahunya. “Masuklah. Aku buatkan teh hangat untukmu.” “Terima kasih. Tapi aku akan pulang saja.” “Baiklah, kalau begitu.” Kemudian keduanya kembali ke halaman menuju ke mobil Deril. *** Laras sedang merapikan tempat tidurnya saat Ryan masuk ke kamar. Dia sudah bersiap untuk tidur. Tentu hatinya senang sekali, karena dia pikir kali ini Ryan akan tidur di kamar mereka. Ryan tak berbicara sepatah kata pun. Baru Laras akan menyapanya tapi dia langsung menuju walking in closet. Tak berapa lama dia sudah kembali dengan piyama berwarna biru tua. “Apa Alena sudah bisa ditinggal tidur sendirian?” tanya Laras saat Ryan duduk di tepian ranjang. Wajah Ryan terlihat dingin. “Belum. Dia masih terus menangis sekarang.” “Benarkah? Maafkan, aku. Aku tak sengaja membuat Alena jadi panik seperti tadi.” “Apa sebenarnya yang kamu pikirkan, Laras? Sudah kubilang Alena tidak ingin musibahnya diketahui oleh orang lain. Bagaimana kamu malah menceritakannya pada Deril?” tanya Ryan dengan wajah penuh kemarahan. “Sudah kubilang, aku benar-benar tidak sengaja tadi. Maafkan aku,” ucap Laras dengan raut penuh penyesalan. “Seharusnya tadi kamu tidak bersikap demikian, Ryan. Kamu harusnya menjelaskan pada Alena, kalau Deril tidak seperti yang dia pikir. Ajari Alena untuk mulai membuka diri dan tidak berprasangka buruk pada setiap orang. Kalau kamu yang menjelaskan semuanya aku yakin dia pelan-pelan akan berusaha menurut.” Ryan melihatnya semakin kesal dan tatapan sinis. “Oh, ya. Benarkah ini kata-kata orang yang menyesal dan baru saja minta maaf? Bukan hanya Alena, jika aku mengantarnya ke psikolog kamu juga harus ikut. Kamu sangat butuh bantuannya” tegas Ryan. Kemudian berjalan keluar kamar dengan sejuta rasa kesal. Kali ini Laras bersyukur dia tak membanting pintu. “Apa, aku juga butuh bantuan psikolog? Hah, yang benar saja. Keterlaluan!” tanya Laras menyeringai kesal menatap pintu. "Sudah menelantarkan dan mengabaikan aku seperti ini, masih ingin memperlakukan aku macam-macam. Benar-benar suami tak berperasaan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN