Ryan masih belum pergi dari ruangan rawat inap Laras. Setelah adegan istrinya digendong Deril tadi, dia jadi berat meninggalkan ruangan itu. Ia tahu Laras hanya ingin memanasinya. Tapi, sebagai suami dia tidak terima kalau istrinya disentuh pria lain. Itu sama artinya martabatnya direndahkan. “Deril, aku lapar,” ucap Laras lirih pada Deril yang duduk di kursi di dekat ranjangnya. “Apa?” tanya Deril mendekatkan diri, karena kurang jelas dengan ucapan Laras. “Aku lapar,” jawabnya lebih keras. Melihat itu Ryan segera mendekatinya. “Ada apa? Kamu masih lapar? Bukankah tadi sudah makan. Apa tadi tidak kamu habiskan?” Laras tak menjawab pertanyaan Ryan. Meski sebenarnya dia ingin berteriak dengan kencang padanya sembari mara-marah. Bagaimana suaminya bertanya bagai orang tak berdosa saja. D

