Baby Sitter Gila (B)

886 Kata
Ryani sedang mencari-cari resep masakan di internet. Sepertinya mulai dari sekarang ia harus belajar memasak. Minimal ia bisa membuat Leo beserta Nyonya Angela percaya kalau dirinya memang seorang baby sitter yang sudah di pesan dari seorang jasa. Kalau ia terus menjadi Ryani yang menyamar sebagai baby sitter, ia takut kalau Leo atau Nyonya Angela akan curiga padanya. Tidak. Satu orangpun tidak boleh mengetahui jati diri Ryani yang sebenarnya. "Sayur sop..." Gumam Ryani. "Kayanya gue bodoh banget, ya, masa ketimbang masak sayur sop doang nggak bisa. Selama ini gue nyopet sih!" Ryani memukul kepala dirinya sendiri. "Cara pertama, potong semua sayuran, bumbunya, hem... Oke, gue catet deh." Satu tangan Ryani menulis resep-resep tersebut. Sedangkan satu tangannya memegang handphone di tangannya. Ngomong-ngomong soal handphone, kebetulan handphone yang ia pegang adalah hasil dari mencopet. Ternyata berguna juga. Batin Ryani lagi. "Perlu dicoba!" Katanya antusias. Ryani menutup buku yang di pegangnya, lalu memasukan handphone tersebut pada saku seragam baby sitter yang di kenakannya. "Kayanya gue masak dulu deh ya, udah sore. Pasti Mr. Galak bentar lagi pulang." Gumam Ryani. "Oke, semangat masak!" Katanya menyemangati dirinya sendiri. Ryani bergegas masuk ke dapur, menyiapkan bahan-bahan yang ia butuhkan, memotong sayuran, lalu ayam dan sosis. Ini kali pertama juga Ryani memotong sayuran, jadi maklum, potongan wortel dan sosisnya berasa aneh. Ada yang tipiiis banget, dan ada juga yang potongannya tebel, gede, segede gajah. Ryani mengaduk-aduk sayuran sop yang di masaknya. Menghirup kepulan asap yang muncul dari masakan yang ia buat. Dari baunya sih lumayan, semoga hasilnya tak terlalu memalukan. Oek...Oek...Oek... "Aduh, gue lupa belum buatin s**u buat Jona." Ryani menepuk keningnya pelan. Ryani berlarian menaiki anak tangga menuju ke kamar Leo, Jona tak diberi kamar khusus oleh Leo, kata Nyonya Angela, Leo tidak ingin berjauhan dengan anaknya, selalu ingin menjaga bocah lelaki lucu itu. Jadi, setiap malam Jona selalu tidur bersama Leo. Ah, ternyata dibalik sifat galaknya, Leo adalah seorang Papa yang baik dan sempurna bagi anaknya. "Hai tampan..." Diangkatnya tubuh mungil Jona. Ryani menopang tubuh Jona dengan satu tangannya, satu tangannya lagi mengocok botol s**u yang dipegangnya. Karena takut salah, Ryani mencoba s**u tersebut, Ryani meringis karena s**u yang ia buat terlalu panas. "Ah! Panas!" "Hehehe." Tiba-tiba baby Jona tertawa melihat Ryani yang lidahnya kepanasan. Ryani terbengong, sial. Dia menjadi bahan tawaan bocah usia satu tahun. Dengan hati-hati Ryani mengayun tubuh mungil Jona dalam gendongannya. Setelah menaruh botol s**u tadi, menunggu s**u tersebut hingga lebih dingin. Ryani mengayun badan Jona, sambil mengusap kening Jona lembut. Ryani pernah melihat tetangganya dulu, ketika menidurkan anaknya, tetangganya itu selalu mengusap kening anaknya, dan alhasil anak tetangganya itu selalu tertidur. Dan kalian tahu? Cara yang Ryani pakai berhasil. Jona tertidur dalam gendongannya, Ryani tersenyum lembut. Sebelumnya ia berpikir akan kerepotan untuk menjaga Jona, dipikirannya pasti Jona adalah bocah lelaki yang rewel dan akan membuatnya pusing. Tetapi ternyata Jona tak serewel apa yang dibayangkannya. Jona--bocah lelaki itu begitu lucu dan menggemaskan, dan tak pernah lama-lama menangis. Mungkin Ryani akan betah mengurus Jona setelah ini. "Hoam..." Setelah menaruh Jona diranjang, Ryani merasa begitu mengantuk. Ryani melirik jam di atas nakas, baru jam lima sore, mungkin ia tidur sebentar tak masalah. Lagipula Leo belum datang juga, kalau Ryani meninggalkan Jona tidur di bawah, ia takut terjadi sesuatu dengan Jona. Lebih baik ia tidur di sini menemani Jona. Ryani tidur di samping Jona, tangannya mengelus lembut pipi chubby Jona, lantas mengecup pipi Jona. *** Leo melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Ia melihat dari dapur hingga ruang tamu gelap. Kenapa tak ada satu pun lampu yang hidup? Leo mengidupkan lampu, ia melihat makanan yang terhidang di atas meja makan. Ternyata gadis gila itu sudah memasak. Leo duduk di meja makan, lalu mencicipi satu persatu makanan yang terhidang di atas meja makan. "Uek, kenapa asin!" Buru-buru disambarnya segelas air putih. "Ryani masak sayur sop atau mau masak sayur garem sih?! Ini asin banget. Kalau sampai Mama yang makan, bisa-bisa Mama ngomel tanpa berhenti." Gerutu Leo. Leo beranjak dari kursi yang di dudukinya. Ia merindukan Jona, biasanya Jona berhasil membuat rasa lelahnya hilang. Krek. Gelap. Satu kata yang diucapkan Leo ketika membuka pintu kamarnya. Ryani ke mana? Kenapa semua lampu tak di hidupkan. Leo membuka pintu kamarnya lebih lebar, di depannya, ia mendapati Jona sedang tertidur pulas. Ah, tetapi... "Ryani.." Leo melihat gadis itu tertidur pulas disamping Jona. Gadis itu terlihat begitu kelelahan, tanpa sadar pria itu menyunggingkan senyuman. Ternyata gadis gila itu cantik juga. Batinnya sambil memandang Ryani yang sedang tertidur pulas. Ia tak mau mengganggu tidur Ryani dan Jona yang begitu pulas. Agak kesal juga melihat Ryani yang berani meniduri ranjangnya seenaknya, tapi, ia tak mau mengganggu tidur jona. Kalau ia membangunkan gadis itu, pasti akan terjadi percekcokan antara dirinya dan Ryani. Dan itu pasti akan mengganggu tidur putranya. Leo menarik selimut hingga setengah badan Ryani, "Lo pikir, gue mau kerja beginian? Kalau gue bisa milih, gue juga nggak mau kerja beginian. Gue juga pengen jadi orang baik-baik." Ryani mengigau. Leo mengusap puncak kepala gadis itu. "Sst.. Tenang, Ryani." Perlahan suara igauan Ryani hilang. Leo tak mau ambil pusing dengan igauan Ryani. Mungkin gadis itu hanya bermimpi biasa. Leo memutari ranjangnya mendekati Jona. Leo mencium kening putranya, biarpun ia memilih hidup berdua dengan Jona, itu sudah membuat dirinya bahagia. Lagipula, ia belum bisa melupakan sosok Aline Septria, Ibu kandung dari Jonathan Alexandra--putranya. "Selamat malam," gumam Leo menatap Ryani dan Jona.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN