Ryani membuka matanya saat sinar matahari menerobos melewati celah jendela kamar Leo. Gadis itu menguap lebar sambil merentangkan kedua tangannya. Sepertinya tidurnya tadi malam begitu nyenyak, Ryani tersenyum lebar.
Mata Ryani mengerjap-ngerjap ketika melihat Leo masuk ke dalam sambil menggendong Jona. Ryani tersadar, bukannya minta maaf, tetapi gadis itu malah menjerit mengusir pria itu.
"Hah! Ngapain kamu di sini?!" Teriak Ryani melengking.
Leo mengernyitkan dahinya tajam. Satu tangannya menahan gendongan Jona, sedangkan satu tangannya lagi memegang botol s**u bocah lelaki berusia satu tahun tersebut. Leo mendelik garang, sambil mendengus, ia mencibir, "Bagus. Udah nggak sopan diranjang aku, sekarang kamu malah usir aku dari kamar aku sendiri." Ryani melongo.
Kamarnya?
Ryani menatap sekeliling kamar bercat kuning tersebut. Seingatnya, warna cat kamarnya bukan kuning, melainkan putih. Kenapa dalam semalam warna cat kamarnya bisa berubah? Leo semakin jengkel melihat ekspresi Ryani yang masih tenang-tenang saja, yang dilakukan gadis itu hanya diam seraya memperhatikan dinding kamarnya. Dasar gadis bodoh! Mana sopan santunnya? Harusnya ia berdiri dan meminta maaf padanya. Tapi apa, yang dilakukannya malah berdiri diri sambil memperhatikan dinding kamarnya yang terkesan hangat.
"Ini kamar kamu? Ah, masa—-"
Kalimat Ryani berhentit bingkai foto di atas nakas. Itu foto Leo bersama baby Jona.. Ryani menepuk keningnya, lalu dengan cepat berjingkat turun dari atas ranjang Leo. Bodoh! Kenapa dia bisa tidur di atas ranjang Mr. Galak. Ryani, kelar hidup lo setelah ini! Lo bakal kena omelan Leo! Ryani sudah membayangkan hal yang aneh-aneh, tentang kemarahan Leo. Kenapa dia bisa lupa kalau kemarin sore dia tertidur di kamar Leo?
"Eh, mau ke mana?" Leo menghalangi tubuh Ryani yang hendak keluar kamar.
Ryani berdecak. Antara malu, kesal dan menghindari kemarahan Leo nanti. Leo itu pria yang galak, kemarin saja, saat Ryani menggigit jari Leo, ia mendapatkan hukuman. Agak aneh sih, namun tetap saja itu hukuman mengerikan bagi Ryani. Hukuman macam apa yang dibuat Leo kemarin? Meniup-niup poninya. Kalau hukuman Leo lebih parah dari kemarin bagaimana? Baru membayangkan saja bisa membuat bulu kuduknya merinding.
Ryani menggaruk pelipisnya. Ryani, sumpah, lo kelihatan bodoh banget! Gerutunya dalam batin.
"Daripada kamu garuk-garuk kepala nggak jelas, itu makin buat kamu kelihatan bodoh! Lebih kamu gendong Jona, karena aku mau mandi. Jaga anakku baik-baik, awas kalau sampai lecet!"
Sambil terbengong-bengong, Leo memindahkan gendongan Jona pada Ryani. Ryani ingin membalas cibiran Leo, namun pria galak itu sudah keburu masuk ke dalam kamar mandi. Ryani tidak menyalahkan kalau nantinya Leo akan memberikannya hukuman atau memberikannya wejangan yang panjang lebar padanya, karena bagaimana pun ia bersalah. Tak seharusnya ia tidur di atas ranjang Leo.
"Hehehe." Tiba-tiba Jona tertawa, tangan mungilnya menggapai rambut panjang Ryani yang berantakan khas orang bangun tidur.
Sial. Lagi-lagi ekspresi bodohnya menjadi bahan tertawaan bocah berusia satu tahun ini. Tawa Jona semakin pecah, kedua tangannya bertepuk, sepertinya bocah lelaki ini sama se-menyebalkan Papanya. Selalu menertawakan kebodohannya.
***
"Apa lihat-lihat?!"
Ryani tercenung mendengar seruan galak Leo baru saja. Ryani mengerutkan dahinya, ditatapnya sang majikannya yang begitu galak. Leo mengunyah roti di tangannya, Ryani masih berdiri mematung disamping Leo yang menikmati sarapan paginya.
"Ngapain masih di sini?" Tegur Leo lagi.
Duh, boleh nggak dorong Leo dari tempat duduknya? Dari kemarin tangan Ryani begitu gatel untuk melukai pria itu. Kalau perlu dia bakal menendang kursi yang di duduki Leo sampai terjungkal ke lantai. Ryani buru-buru pergi ke dapur untuk menghindar dari Mr. Galak. Hah. Ia baru bekerja dalam hitungan hari, tapi sudah membuatnya darah tinggi setiap hari. Kalau saja sekarang ia menjadi sosok Ryani si 'Pencopet' mungkin Ryani akan menendang dan membuang Leo ke laut. Tapi sayangnya, sekarang ia harus berperan sebagai Ryani, seorang 'Baby sitter' jadi ia tak berbuat banyak.
Sudah lah Ryani, terima aja nasib lo! Guman Ryani dalam batin.
"Aneh. Kenapa Mr. Galak nggak marah gue tidur di kamarnya? Dia biasanya bakal marah kalau gue nyentuh barang-barang dia," gumam Ryani lagi.
"Kalau gue ketiduran di kamarnya, terus Mr. Galak tidur di mana?" Ryani menggaruk pelipisnya.
"Jangan-jangan.. Dia—-"
Tuk.
"Jangan mikir yang macem-macem. Aku nggak ada niatan buat ngapa-ngapain kamu!" Leo memukul kepala Ryani untuk kedua kalinya.
Ryani menoleh ke belakang, ke arah Leo yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Leo ini mirip Jelangkung sepertinya, datang tak di jemput, pulang tak diantar. Selalu muncul di saat-saat yang nggak disangka. Seperti saat ini, tiba-tiba Leo berdiri di belakangnya, dan lagi-lagi memukul kepalanya. Sue banget!
"Gara-gara kamu, kemaren aku harus tidur di sofa. Mana sopan kamu sebagai pelayan di sini?!"
Ryani memasang senyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya. Leo menatap tajam ke arah gadis itu. "Ya maaf." Kata Ryani sedikit menundukan kepalanya.
Leo mendengus. Maaf katanya. Semalaman Leo tidur di sofa tanpa guling atau pun selimut. Selama ini Leo belum pernah tidur tanpa guling dan selimut, tetapi karena gadis bodoh di depannya yang tertidur di atas ranjangnya, mau tak mau Leo akhirnya tidur di sofa. Awas saja kalau ia sakit karena gadis bodoh ini. Ryani bergidik melihat tatapan Leo yang semakin menajam. Dalam batin gadis itu ngedumel. Sampai kapan ia harus pura-pura menjadi sosok Ryani yang menjadi seorang baby sitter! Ryani menghentakan kakinya tanpa sadar. Leo memperhatikan setiap gerakan gadis itu.
"Ngapain kamu hentakin kaki kaya gitu? Dasar aneh. Sekali aneh, tetep aja aneh!" Cibir Leo santai.
Ryani mendelik, Leo hanya bersiul santai seraya memasukan satu tangannya pada saku celana. Ryani menggeram, meremas kesepuluh jarinya kuat-kuat. Hah. Kenapa Mr. Galak hobby banget ngatain dia bodoh dan aneh. Memangnya Ryani terlihat begitu bodoh dan aneh?! Ia terlihat aneh juga gara-gara Leo. Dasar Mr. Galak!