Mr. Galak (B)

1234 Kata
Hari ini Angela datang lebih siang daripada biasanya. Angela duduk di atas sofa sambil mengelap keningnya yang basah dengan keringat. Ryani datang sambil membawakan orang jus, gadis itu menaruh di atas meja, lalu mempersilahkan Angela untuk meminumnya. "Diminum Nyonya, pasti tadi kepanasan diluar deh." Kata Ryani dengan tawa riang. Angela meraih gelas berisikan orange juice diteguknya hingga menyisahkan setengah. Kembali ia menaruh gelasnya, Ryani masih berdiri di samping Angela sambil memeluk nampan stenlis. "Kamu tahu aja kalau saya lagi kehausan. Makasih ya, Ryan." Angela menepuk-nepuk lengan Ryani. Sebenernya, Ryani paling sebel kalau dipanggil 'Ryan' lah, dikira dia cowok dipanggil Ryan! Ryan, Ryan. Emangnya Ryan jombang! Heh. Untung saja Nyonya Angela baik, kalau Nyonya Angela segalak Leo, pasti Ryani sudah siap-siap cari racun tikus buat racunin Nyonya Angela sampai is dead! "Oh iya, Leo mana?" Angela celingak-celinguk. "Ini kan hari minggu, kok nggak kelihatan. Apa dia lagi ngebo di kamar?" Tanya Angela pada Ryani. "Tuan Leo lagi jalan-jalan sama Jona, Nyonya." Jawab Ryani ringan. Angela melirik ke arah Ryani yang memasang tampang sumringah. Ryani senang bukan main. Mr. Galak memilih berjalan-jalan hanya berdua dengan Jona tanpa repot-repot membawanya. Bisa dibayangkan betapa repotnya jalan-jalan bersama seorang bocah lelaki? Heh. Biarpun Jona masih kecil, tapi sama-sama se-menyebalkan seperti bapaknya—-si Leo. "Kenapa dia ngajak kamu? Kamu kan baby sitternya! Ah, pasti Leo sengaja nggak bawa kamu kan!" Ooh.. Belum sempat Ryani menjelaskan kenapa Leo tak mengajaknya bepergian menjaga Jona, Angela sudah marah-marah. Beranjak dari tempat duduknya berdiri, berkacak pinggang sambil mengomel. Ryani bergidik, ternyata Nyonya Angela terlihat menyeramkan bila sedang marah. Pantas saja Leo selalu memilih mengalah pada Mamanya. "Anak itu. Udah dibilangin juga! Percuma dong kalau ada baby sitter kalau nggak dipake!" Omel Angela tanpa jeda. Brak. Angela menggebrak meja di depannya keras-keras. Ryani tercenung, lalu menatap Angela yang kembali meminum orang jus-nya hingga tandas. "APA SIH! STOP NGEJAR-NGEJAR GUE!" Baik Angela dan Ryani saling menatap heran satu sama lain. Suara lantang diluar rumah terdengar hingga sampa ke dalam rumah. Angela berdiri hendak beranjak keluar rumah, Ryani menyusul dari belakang Angela. "LEPASIN!" Angela mematung melihat anak bungsunya sedang tarik-tarikan dengan seorang pria dipelataran rumah. Selena menepis tangan pria itu berkali-kali, namun pria itu masih saja terus dan terus menarik tangan Selena lagi. Selena meringis, cekalan tangan pria gila ini membuatnya kesakitan. Angela ingin menghampiri Selena yang berusaha berontak. Bukannya pria itu adalah kekasih Selena yang diperkenalkan dengannya dan Mark beberapa waktu yang lalu? Tetapi kenapa sekarang mereka malah bertengkar, sedangkan beberapa waktu yang lalu mereka bermesra-mesraan. "Dengerin aku dulu, Sel. Kamu itu salah paham sayang," "Salah paham? Heh. Mana ada orang cium-ciuman sama cewek lain salah paham? b******k emang lo!" Selena mendorong bahu kekasihnya. Pria itu hampir terjatuh, Selena melipat dua tangan di depan d**a. Pria itu tak mau kalah, kembali ia menarik tangan Selena, malah kali ini lebih kasar dari sebelumnya. "Kamu udah berani kasar sama aku? Dasar cewek manja!" Pria yang dikenal sebagai kekasih Selena itu melayangkan tangannya ke arah Selena, namun seseorang menahan tangannya. "Jangan pernah kasar sama cewek!" Seru Ryani tajam. Tatapan mata gadis itu menajam ketika melihat sikap kasar pria yang ia sendiri tak tahu siapa namanya. Ryani menepis tangan pria tersebut dengan kasar. Selena dan Angela menjadi penonton. Apalagi Angela, wanita itu sampai melongo. "Siapa lo? Dilihat dari tampilannya sih kaya pembantu. Jangan ikut campur!" Pria itu mendorong bahu Ryani. Wah, nih cowok kayanya mau cari perkara sama Ryani. Belum tahu siapa Ryani sebenernya. BUG. Kepalan tangan Ryani berhasil melayang mulus pada wajah tampan pria yang mendorongnya tadi. Angela ternganga, ia bertepuk tangan sambil menatap Ryani yang berhasil merobohkan tubuh kekasih Selena. Selena tak bisa berkata apa-apa, ia memilih menjadi penonton daripada harus ikut mematahkan tulang kekasihnya itu. "Cowok yang berani sama cewek itu banci! Banci! Lo tahu banci?! Itu kaya lo. Minggat lo dari sini. Sebelum gue patahin tulang-tulang lo itu." Kaki Ryani menendang-nendang tubuh pria tersebut. Sambil memegangi ujung bibirnya yang berdarah, pria itu berlari meninggalkan pelataran rumah Leo. Selena terperangah, Angela berlarian mendekati Ryani, lalu mengangkat satu tangan Ryani tinggi-tinggi. "Hebat! Keren!" Angela berdecak kagum. "Dia siapa, Ma?" Tanya Selena sambil menatap Ryani. "Dia yang Mama ceritain, Sel. Inget kan?" Selena mengangguk. "Eh, makasih ya, lo udah nyelametin gue dari cowok b******k tadi. Kalau nggak ada lo, mungkin gue udah kena gampar tadi." Kata Selena berterima kasih. "Sama-sama. Lain kali kalau pilih cowok hati-hati. Kadang tampang suka nipu." Jawab Ryani. Tampang kadang menipu. Kenapa kalimatnya seakan menyindiri dirinya sendiri? Ryani mendesis tertahan. Ini namanya orang bego. Niatnya mau saranin orang, malah jatuhnya nyindir diri sendiri. Tampang Ryani kan kalem gitu, mana ada tampang-tampang copet. Ryani terkekeh sendiri dalam batin. "Selena, bukannya tadi itu cowok kamu kan? Kenapa kalian berantem." Kata Angela bingung. "Mending kita masuk aja deh, Ma. Selena bakal ceritain di dalem." "Oke." Angela mengajak putrinya masuk ke dalam rumah. *** Harusnya di jam seperti ini Ryani sudah tidur nyenyak di dalam kamarnya. Tapi, setibanya Leo pulang ke rumah, pria itu mengeluh badannya terasa panah dan kepalanya pusing. Terpaksa Ryani harus menunggui Leo di dalam kamar sambil menjaga Jona yang sudah tertidur sejak pulang dari jalan-jalan tadi. Badan Leo begitu panas. Sambil memeras handuk kecil, Ryani melihat Jona yang tidurnya seperti terganggu. Ternyata orang segalak Leo bisa sakit juga. Batin Ryani. "Aduuuh." Ryani memukul kepalanya. Ia baru mengingat kalau di bawah ia meninggalkan masakannya. Ryani terjingkat, lalu berlarian turun menuju dapur. Kira-kira buburnya jadi apa di bawah sana. "Heh." Ryani terbengong melihat tutup panci yang bergerak-gerak hingga mengeluarkan isinya. "Huaaa!" Buru-buru ia mematikan kompornya, dan dengan bodohnya ia malah mengangkat panci tersebut tanpa kain serbet. "Aw!" Ryani meniup jari-jarinya. Kenapa masak sesusah ini sih. Dengus Ryani. Baru saja ia ingin mencari kain serbet, tiba-tiba ia melihat Leo berdiri menjulang disampingnya. Kenapa Leo bisa ada di sini? Bukannya tadi ada di dalam kamar. "Bodoh." Cibirnya sinis. "Kamu ini niat masak atau mau merusak dapurku?" Katanya membuat Ryani merasa bersalah. "Maaf," Bruk. Tiba-tiba tubuh Leo yang menjulang tinggi jatuh ke lantai. Leo pingsan! Ryani tercenung di tempat, ditepuknya pipi Leo yang terasa panas. "Tuan Leo. Tuan." Digoyang-goyangkan lengan Leo. "Aduh, jangan pinsang di sini dong! Gue mana kuat angkat dia." Gumam Ryani lirih. Gadis itu berusaha mendudukan Leo. Dengan susah payah Ryani membawa Leo menuju kamar atas. Jalan Ryani tak seimbang, bagaimana tidak? Badan Leo lebih besar darinya, belum lagi tinggi badannya yang jauh diatas Ryani. Ryani mendorong pintu dengan kakinya. Ia menidurkan Leo ke ranjang. Hah. Membawa Leo sampai ke kamar butuh tenaga ekstra yang kuat. Ini cowok kenapa pingsan nggak milih-milih sih. Pingsan di kamar aja sih, jangan di dapur. Kan Ryani jadi kerepotan. Ryani menempelkan telapak tangannya pada kening Leo. Badannya makin panas. Ryani berdiri menatap Leo cemas. Kenapa badannya makin panas. Aduh, dia mesti ngapain? Telepon Nyonya Angela aja kali ya? Ryani bertanya pada dirinya sendiri. "Iya, mendingan gue telepon Nyonya Angela aja." Kata Ryani mantap. "Jangan telepon Mama." Sahut suara serak dibelakang Ryani. Ryani menoleh ke belakang menatap Leo yang sudah sadar. Sue banget nih orang. Pingsan kenapa bentaran amat, udah gitu, giliran udah dibawa ke kamar baru sadar. Batin Ryani gemas. "Aku baik-baik aja." Leo bergumam pelan. "Tapi—-" "Bisa kamu buatin aku makanan? Mungkin setelah aku makan, badan aku bakal enakan. Tapi please, jangan telepon Mama. Kasihan Mama, ini udah terlalu malem." Ucap Leo lirih. "Baik." Kata Ryani akhirnya. "Kalau gitu aku tinggal ke bawah dulu. Aku mau buatin makanan, tunggu sebentar," ucap Ryani lalu beranjak keluar menuju dapur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN