Si Rusuh Orion (A)

1331 Kata
"YES!" Leo melompat dari ranjang, lalu berlari mendekat ke arah pintu. Lelaki itu menyembulkan kepalanya lewat celah pintu yang setengah terbuka. Leo terkekeh sambil menutupi mulutnya, ia tak boleh mengacaukan rencananya untuk mengelabuhi Ryani. Lelaki itu memundurkan kepalanya, lantas menutup pintunya pelan. Huh, ternyata untuk mengelabuhi gadis bodoh itu begitu gampang. Namanya saja bodoh, makanya gampang dibohongi! Leo kembali duduk di ranjang dengan senyum penuh kemenangan. Jadi ceritanya, Leo tengah mengerjai Ryani. Kalau soal keluhan badannya yang panas itu memang benar adanya. Tetapi mengenai soal sakit kepala, itu sama sekali tidak benar. Entah darimana datangnya muncul ide pingsan tadi. Memangnya Leo lelaki lemah, yang badannya hanya demam lalu pingsan? Sesakit apapun, selama ini Leo tak pernah pingsan. Ceklek. Kekehan Leo berhenti setelah mendengar handle pintu terbuka, lelaki itu kembali membaringkan dirinya pada ranjang, Ryani masuk ke dalam seraya membawa nampan berisi mangkuk dan segelas teh hangat. Ryani menaruh nampan, lalu menatap Leo yang tengah tertidur. Acting Leo benar-benar berhasil mengecoh Ryani. Gadis itu belum mengetahui kalau ternyata, Tuan-nya sedang berpura-pura pingsan tadi. Kalau saja Ryani tahu, heh, pasti akan kalian pastikan. Leo akan jatuh dari lantai dua rumahnya. "Udah nggak panas," gumam Ryani. Gadis itu kembali menarik punggung tangannya dari kening Leo. Leo membuka sedikit matanya, mengintip apa yang sedang dilakukan Ryani. "Tuan Leo," di goyangkannya lengan Leo pelan. Mata Leo terbuka perlahan, memperlihat acting sebagus mungkin. Ia belum puas mengerjai Ryani. Hampir satu minggu gadis itu tinggal di rumahnya, mengasuh Leo dan sering membuatnya hampir terkena penyakit 'Darah tinggi' karena masakannya yang setiap hari selalu asin. Leo seperti tinggal di neraka sejak kehadiran Ryani. "Kenapa?" Suara Leo terdengar berat. "Makanannya udah jadi. Mendingan dimakan sekarang, entar keburu dingin." Ryani meraih mangkuk, lalu menyodorkannya pada Leo. Leo mengernyit tajam. Mana ada sopan-sopannya gadis ini. Geruru Leo dalam batin. Ryani menyodorkan lebih dekat pada Leo. "Mana sopan kamu? Harusnya kamu bantu aku duduk dulu," kata Leo galak. Gadis itu mencebikan bibirnya lucu. Leo menahan senyumnya, dengan sedikit menggeram, gadis itu membantu Leo untuk duduk bersandar pada kepala dipan. "Sakit gini aja ngerepotin. Masih muda tapi udah kaya kakek-kakek nggak punya tenaga buat duduk. Gimana tuanya nanti?" Leo mendelik. "Kamu bilang apa?" "Hah, apaan? Emang situ denger?" Elak Ryani. "Nggak. Aku budek." Sewot Leo. Ryani kembali duduk di tepi ranjang, meraih mangkuk di atas meja samping ranjang. Leo melirik isi makanan di dalam mangkuk, dahi lelaki itu melipat tajam. "Nih makan," Ryani menaruh mangkuk di tangan Leo. Ditatapnya isi mangkuk di tangannya, tangan lelaki itu meraih garpu, lantas memainkan isi mangkuk. Mie instan? "Kenapa nggak dimakan? Mumpung masih panas loh, kalau dingin nggak bakal enak." Kata Ryani yang terdengar nada penuh perintah. "Kamu tahu betapa bahayanya sering makan mie instan? Nggak. Aku nggak mau. Kamu makan sendiri." Lelaki tapi banyak bicara. Dikit-dikit protes, dikit-dikit ngomel. Perasaan apa yang gue lakuin selalu salah. Terus gue mesti ngapain? Ryani mengeluh dalam batin. "Jangan berlebihan!" Kata Ryani enteng. "Tuan Leonard Alexander baru sekali ini kan makan mie instan?" Mata hitam lekatnya menatap Leo. "Lagian makan mie instan sekali nggak akan membuat Tuan Leonard Alexander masuk UGD, kan?" Sial. Umpat Leo. Dia kalah telak dengan gadis bodoh ini. Bahkan Ryani berani memanggilnya dengan nama lengkap penuh penekanan. Itu sama saja seperti meledeknya. "Mie instan nggak kalah enak sama spagetti kok." Sahutnya ringan. Bagaimana Leo selalu tak ingin mengerjai Ryani? Gayanya begitu tengil. Selalu membuatnya migrain. Awas saja, dia akan mengerjai gadis itu lebih parah dari tadi. Leo pikir tadinya, berpura-pura pingsan di bawah, lalu Ryani memindahkannya ke kamar itu sudah cukup keterlaluan. Karena mengingat postur tubuh Leo yang begitu jauh dengan Ryani yang lebih kecil darinya. Pasti gadis bodoh itu kesusahan memindahkannya ke kamar. Tadinya Leo sempat berpikir kasihan, tetapi melihat betapa tidak sopannya gadis ini, Leo malah semakin gencar untuk mengerjai Ryani lebih gila lagi. Leo mengulum senyum licik, "Daripada kamu nganggur. Mendingan kamu suapin aku." "Heh?" "Iya, suapin. Buruan! Tangan aku lagi lemes banget, jadi nggak kuat buat angkat sendok." Jelas Leo berdusta. Cih.. Ryani tercenung, di elusnya dadannya agar bersabar pada Tuan-nya yang galak dan gila. "Ayo," Leo menaik turunkan alisnya jahil. Sambil meraih mangkuk dari tangan Leo, gadis itu ngedumel sadis, "Semoga tangan lo lumpuh sekalian. Gue lebih redho nyuapin orang lumpuh." "Aku denger." Sahut Leo cepat. "Oh, sori. Sengaja!" Ryani menjawab santai. Sepertinya pendengaran Leo begitu tajam. Sampai-sampai suara kecil Ryani ketika menggerutu saja, Leo dengar. Memang begitu kalau orang galak, selalu mendengar doa-doa jelek tentangnya. Salah satunya Tuan Leonard Alexander ini. *** Hari ini Angela berkunjung ke kediaman Leo bersama Mark. Mark sudah lama tidak pernah bertemu dengan anak sulungnya, Leo. Angela keluar lebih dulu dari dalam mobil. Mark menyusul seraya menenteng kantong belanjaan. Mark berlari menyusul Angela, berjalan sejajar dengan istrinya. Mark merangkul pundak Angela, lalu mencium pipi wanitanya. "Dasar nggak tahu malu. Udah tua juga." Omel Angela. "Nggak ada yang lihat sayang..." Mark mengedipkan sebelah matanya. Angela menggelengkan kepalanya heran. Mark—-lelaki yang resmi menjadi suaminya sejak usia Angela menginjak 21 tahun itu tak pernah berubah. Kelakuannya semakin mirip dengan anak remaja, bahkan tanpa malu-malu Mark sering memperlihatkan keromantisannya di depan anak-anak mereka. Memang, cinta tak ada yang tahu. Siapa yang menyangka kalau Mark dan Angela yang dulunya saling membenci, kini malah saling mencintai dan tak pernah terpisah? "Kamu ini. Udah bodoh, ceroboh lagi!" Angela menahan lengan suaminya, Mark menatap Angela penuh keheranan. "Kenapa?" "Diem dulu. Dengerin..." Angela menunjuk pintu kamar Leo. Mark dan Angela sudah menginjakan kakinya di kamar atas. Kebetulan Angela memegang kunci cadangan rumah Leo, jadi mau kapan pun dia datang kemari, dia bebas masuk. Di bawah ia tak menemui siapapun, Ryani juga tak ada di dapur. Saat sampai di atas Angela mendengar suara Leo yang sedang mengomel. Angela penasaran, kira-kira siapa yang sedang mendapatkan omelan dari anak sulungnya itu? Apa mungkin Ryani? Tapi kenapa? Mark mengikuti gerak kepala sang istri yang mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Angela terbengong melihat Leo yang tengah memegang tangan Ryani sambil meniup jemari Ryani. "Pa..." "Kenapa?" "Papa nggak lihat tuh." Telunjuk Angela terarah di dalam kamar Leo. Mark menatap santai. "Ada yang aneh memang?" Angela mendesis. Kenapa suaminya tak mengerti sekali yang ia maksud. Mark menegakan badannya, lalu melipat kedua tangan di depan d**a. Dasar wanita. Suka sekali heboh dan berlebihan. Memangnya ada yang aneh dengan Leo dan Ryani? Sepertinya tangan Ryani terluka, maka dari itu Leo memegang tangan Ryani sambil meniup jari-jari Ryani. Tidak aneh bukan? "Lain kali itu hati-hati. Untung cuma tangan kamu yang luka, kalau kaki kamu atau yang lain luka gimana? Aku nggak mau tanggung jawab ya!" "Tuan tuh yang nyadar. Lah, tangan aku kesiram kuah mie tadi tadi juga gara-gara Tuan. Udah gitu tangannya gatel banget nyenggol gelas di meja." Dengus Ryani. "Lihat nih, tangan aku jadi berdarah gara-gara kena pecahan gelas!" Kata Ryani sinis. "Tangan kamu kesiram kuah mie juga karena ulah kamu sendiri. Suruh siapa kamu malah dorong-dorong mangkuknya, udah tahu panas." Kata Leo tak mau kalah. Keduanya kompak membuang muka, saling memunggungi diri masing-masih. Keduanya sama-sama keras kepala dan tak mau mengalah. "Papa jadi inget kita dulu, Ma." Seru Mark tiba-tiba. Angela menoleh ke belakang. "Pemikiran kita sama, Pa." "Kita kan jodoh, jadi pemikirannya selalu samaan." Lagi-lagi Mark malah menggombalinya. "Pa, Mama lagi serius." "Papa juga serius." Sahut Mark lagi. Angela tak menghiraukan gombalan Mark, ia fokus menatap dua orang di dalam kamar yang saling menatap tajam dan terlihat seperti orang bermusuhan. Angela melihat ada yang berbeda dengan sosok Ryani, dia gadis yang berbeda dengan gadis-gadis lain diluar sana. Ryani gadis yang baik, ya walaupun terkadang suka grasa-grusu. Tapi Angela tahu, Ryani gadis yang baik. "Sini deh, Pa..." Tangan Angela menarik-narik lengan Mark agar mendekat padanya. Mark membelalakan matanya ketika Angela membisikan sesuatu padanya. Ia menatap tak percaya pada istrinya. "Papa ngerti apa yang Mama maksud kan?" "Nggak." Mark menatap polos istrinya. Angela mencubit Mark kesal. "Kirain—-" "Iya iya. Papa paham. Hehe.." Kekeh Mark sambil mengedipkan matanya jenaka. Entah kenapa, menggoda istrinya itu menjadi hobinya. Mark selalu menyukai wajah kesal Angela. Istrinya terlihat semakin kalau sedang cemberut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN