Leo mengamati wajah Ryani yang tampak pucat. Gadis itu terbaring dengan lemah di atas ranjangnya. Sempat berpikir kalau Ryani tengah mengerjainya dan berpura-pura pingsan. Tapi setelah dokter keluarganya mengatakan kalau Ryani tidak boleh terlalu banyak pikiran dan stres, Leo jadi menyadari kalau Ryani benar-benar sedang tidak sehat. Kepala Ryani bergerak-gerak ke kanan ke kiri. Keningnya telah basah karena peluh. Leo membungkukan badan untuk mengecek kondisi Ryani lagi, Leo bergumam pelan. "Badannya udah nggak panas lagi," Leo duduk di tepi ranjang. Menatap Ryani yang masih belum juga membuka matanya sejak pingsan dua jam yang lalu. "Nggak... Nggak..." Ryani mengigau. Keringat di keningnya kian bertambah, wajah Ryani semakin pucat. "Nggak. Aku mohon... Jangaaan." Leo berjingkat kaget

