1. Prolog
“Bu, boleh, ya …,” rengek seorang gadis yang tidak lagi bisa dikatakan remaja. Bulan lalu bahkan dia sudah menginjak usia 23 tahun.
“Kemarin ayah bilang apa sama kamu?” ujar sang ibu sembari merapikan peralatan salon yang baru saja tutup setengah jam lalu. Dua pegawai yang bekerja dengannya pun sudah pulang.
Gadis dengan rambut sepunggung itu mencebik, lalu duduk dengan kasar di salah satu kursi tanpa sandaran. “Kan aku sekarang minta izinnya sama Ibu, bukan sama ayah.”
Namira menghela napas pelan, lalu melirik putri semata wayangnya yang kini tengah memanyunkan bibir sembari memilin jemarinya. Jika saja yang putrinya minta itu sesuatu hal yang sederhana, mungkin ia akan menyetujuinya dengan mudah. Namun, sayangnya permintaan Kiana kali ini memiliki risiko yang tinggi.
“Keputusan Ibu juga sama seperti ayah. Ibu nggak ngizinin kamu tinggal sendiri, kecuali ….” Kalimat itu menggantung, tetapi tidak perlu diteruskan juga Kiana sudah hafal apa yang akan ibunya katakan sebagai kalimat lanjutan.
“…. kamu sudah menikah.” Sesuai yang ada di kepala gadis dengan rambut lurus sepunggung itu. Bagaimana dia tidak hafal jika kalimat itu terus terulang setiap saat.
Merasa tidak ada yang akan berubah di sini, maka Kianara pun memutuskan untuk bangkit saat mendengar suara motor di depan salon tempat ibunya mencari nafkah.
“Sayang.” Panggilan itu menghentikan langkah gontai gadis itu. Sebuah rengkuhan hangat melingkupi tubuhnya dari belakang. Namun, kehangatan itu tidak bisa menjalar ke hatinya.
“Ibu sama ayah cuman mau kamu tetap aman. Memikirkan kamu tinggal di tempat lain tanpa pengawasan kami, itu sungguh akan selalu membuat Ibu khawatir.”
Bukannya terenyuh, Kiana rasanya ingin tertawa mendengar penuturan itu. Apakah ibunya pernah sadar jika sikap laki-laki yang dinikahinya beberapa bulan lalu itu lebih mengerikan dari pada hidup sendiri tanpa pengawasan? Bahkan alih-alih melindungi, laki-laki yang enggan Kiana panggil ayah sambung itu sering membuatnya ketakutan. Dan jika tiba giliran ia tinggal di rumah ibunya, Kiana harus selalu mengunci pintu kamarnya.
“Kia!” Seruan itu menyelamatkan Kiana dari suasana tidak menyenangkan yang selalu hadir setiap kali sang ibu berlaku seperti ini. Entah mengapa Kiana tidak bisa menemukan kehangatan dan kasih sayang tulus dari seorang ibu semenjak kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan menikah lagi. Tidak dari ibu, dan juga dari ayahnya. Kedua manusia itu berubah menjadi sosok asing di mata Kiana.
“Aku pulang, Bu.” Kiana melepaskan diri dari rengkuhan sang ibu. Menolak pelan saat pipinya akan dicium oleh wanita yang melahirkannya itu.
“Malu tahu, Bu,” cibir gadis itu yang dibalas tawa geli oleh ibunya. Wanita yang telah melahirkan Kiana itu masih tampak modis dan cantik di usianya yang sudah melebihi kepala empat.
“Hati-hati, ya.” Kiana mengangguk, dan segera keluar sebelum ayahnya berteriak karena dirinya yang terlalu lama.
*
Kiana mendesah lelah sembari memasukkan mainan yang berceceran di seluruh penjuru tempat. Belum lagi bungkus snack dan juga popok bekas yang entah sengaja atau lupa dibuang teronggok mengenaskan di ujung ruang tamu. Gadis itu berdecap kesal sembari mengambil sapu dan serokan sampah.
Pemandangan seperti ini bukan lagi hal baru untuk dirinya. Dia bukan tipe orang yang terlalu kaku terhadap kebersihan. Namun, saat melihat semua ini, rasanya ingin berteriak pada siapa saja yang tengah menyebabkan ruang tamu rumah ayahnya seperti kapal pecah.
Meski belum pernah menikah dan belum merasakan bagaimana mengurus seorang balita, tetapi Kiana yakin untuk sekadar membuang popok bekas ke tempat sampah bukan perkara sulit.
“Eh, Mbak, kamu udah pulang?” Sapaan itu itu hanya Kiana balas dengan senyuman malas.
“Sini biar Ibu aja, kamu pasti capek habis pulang kerja.” Widia, istri baru ayahnya berjalan mendekat untuk mengambil alih sapu yang kini Kiana pegang.
“Enggak usah, Bu Widi, udah hampir selesai kok,” ujar gadis itu seraya menyelesaikan pekerjaannya. Widia memang seperti itu, selalu hadir bak pahlawan kesiangan. Selalu saja berusaha mengambil alih pekerjaan yang Kiana pegang saat sudah hampir selesai. Seperti sengaja tengah menyari muka.
“Maaf, ya, Mbak. Kamu jadi selalu repot kalau pulang ke sini,” ujar Widia dengan wajah sedih. Namun, hal itu tidak lantas membuat Kiana luluh dan mau memanggilnya ibu tanpa embel-embel nama.
“Kia masuk dulu ya, Bu Widi.” Gadis itu pamit sebelum Widia memaksanya untuk mendengar curahan hati seorang istri yang selalu merasa kurang dengan uang yang ayahnya berikan. Hal yang membuat Kia tidak tega, dan sering memberi uang bulanan pada wanita itu tanpa sepengetahuan ayahnya.
*
“Aku beneran capek, deh, Fir,” keluh Kiana sembari mengaduk es jeruknya yang masih utuh.
Fira, sahabat yang ia miliki sejak masih duduk di bangku SMA itu pun menoleh, menatap prihatin dirinya yang kini tampak lesu. Kiana yang biasanya ceria tampak kehilangan gairah hidup karena keinginannya tidak terpenuhi.
“Kalau capek tidur aja.” Fira nyengir saat delikan kesal ia dapatkan sebagai jawaban. “Terus rencana kamu gimana?” Kali ini gadis yang memiliki rambut ikal, serta mengenakan kaca mata tebal itu berbicara dengan nada serius.
“Aku harus lebih serius buat cari jodoh!” Kalimat itu meluncur dengan penuh semangat dari bibir Kiana. Syarat yang ayah dan ibunya beri hanya bisa dipatahkan dengan hal itu. Dia bisa terbebas dari dua rumah penuh siksaan itu dengan cara menikah.
Fira yang sudah tahu akan syarat tersebut hanya diam. Pasalnya kalimat yang Kiana katakan barusan juga bukan pertama kalinya ia dengar.
“Inget juga, jodoh itu kan Tuhan yang ngatur. Jangan cuman kencengin usaha buat kenal sama cowok aja. Kencengin juga tuh doa,” ujar Fira serius. Hal yang membuat Kiana sedikit melongo takjub. Maklum saja, Fira ini jarang sekali berada pada mode serius, tidak jauh berbeda dengan dirinya sebenarnya.
“Tumben kamu pinter, dan bener.” Kiana mulai menyedot es jeruknya.
Fira mencebik, lalu sembari memainkan es dalam gelasnya yang sudah kosong, gadis itu berkata, “Semalem abis dengerin ceramah Pak Ustad soalnya, sepertinya aku baru aja dapet hidayah.”
Kiana hanya memutar bola matanya malas. “Kamu nggak ada stok temen yang ganteng lagi?” katanya. Mendapat pertanyaan seperti itu, tentu saja membuat Fira berpikir.
“Kemarin, anak produksi ada yang baru masuk. Kayaknya cakep, deh.”
Mata Kiana langsung terang jika mendengar kata, ganteng, cakep, keren, dan juga sejenisnya.
“Mau dong dikenalin, siapa tahu dia jodoh aku.” Fira berdecap kesal setiap kali Kiana sudah sampai di mode seperti ini. Kiana terkadang terlalu gencar untuk mencari jodoh dan bukan sekali dua kali merasakan sebuah kekecewaan.
“Oke, nanti aku cari tahu soal dia dulu. Takutnya orangnya sudah punya pacar.”
Kiana mengangguk antusias, dan sudah membayangkan banyak hal. Terutama jika ia segera menemukan jodohnya. Ia bisa terlepas dari jeratan hidup yang sungguh ingin segera ia gunting simpul tidak kasat matanya.