Setelah kejadian itu, akhirnya Xiao Na pun menjadi ditemani Li Xian menghabiskan waktu di pesta. Bahkan wanita itu terlihat sangat berbeda daripada biasanya. Entah lelaki itu merasa kalau Xiao Na lebih banyak tersenyum, terutama saat Han Siyang melontarkan sebuah candaan saat mengisi kekosongan panggung.
Namun, acara yang ditunggu-tunggu pun sampai. Di sana terlihat ada seorang lelaki berpakaian rapi dengan jas berwarna light blue yang berlutut di depan seorang wanita cantik mengenakan gaun berwarna peach. Rambut wanita itu terikat cantik dengan sebuah jempit yang menyematkan sejumput rambutnya ke arah samping. Sepasang kekasih itu tampak sangat bahagia dengan senyum yang saling terpancar.
Sontak Li Xian dan Liu Bai yang tidak ingin melewatkan acara pun maju tepat di depan panggung. Tentu saja tangan Li Xian tak lupa membawa Xiao Na agar wanita itu mengikuti dirinya mendekati panggung, lalu bersama-sama menatap betapa perlahannya sebuah cincin mungil itu tersempat cantik.
Kemudian, suara gemuruh nan gembira terdengar begitu jelas saat Han Siyang bangkit dan langsung memeluk pujaan hatinya lembut. Lelaki itu sangat bahagia telah mengikat satu-satunya wanita yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang.
Sementara itu, Li Xian dan Liu Bai tampak bersorak-sorakkan sembari menatap Han Siyang. Kedua lelaki itu terlihat kompak menyoraki temannya yang kini tengah merasa bahagia. Keduanya memang sangat bahagia sampai-sampai Xiao Na menitikkan air matanya penuh haru.
Namun, Li Xian yang seakan menyadarinya pun langsung tersenyum miring. Ia merasa kalau Xiao Na malam ini sangat berbeda ketika berada di kantor. Wanita itu tidak lagi memasang wajah dinginnya.
“Presdir Zhang, kapan kau akan menyusul mereka?” tanya Li Xian setengah menggoda pada Xiao Na yang langsung mendengus tidak suka.
“Direktur Li, ingat! Kau masih tetap bawahanku, meskipun berada di luar kantor,” jawab Xiao Na tanpa mengindahkan pertanyaan dari lelaki itu, tetapi matanya terus menatap Han Siyang yang terlihat melemparkan sebuah candaan ke arah Liu Bai.
Setelah menyaksikan acara sematan cincin tersebut, Xiao Na pun kembali ke tempatnya semula. Akan tetapi, Li Xian yang menyadari bos cantiknya menjauh pun mengekori di belakang wanita itu. Sepertinya, malam ini ia harus terus berada di sisi Zhang Xiao Na, agar kejadian tadi tidak terulang lagi.
Xiao Na terlihat mendudukkan diri lagi di salah satu kursi sembari meraih gelas berisikan minuman yang tengah dibawa oleh para pelayan, sedangkan Li Xian terlihat tidak menginginkan apapun, selain menemani bos cantiknya di pesta ini.
“Kau tidak ingin meminum apapun?” tanya Xiao Na yang menyadari Li Xian belum mengambil apapun di pesta ini.
“Apa kau sedang mengkhawatirkanku, Presdir Zhang?” Li Xian tersenyum menggoda menatap Xiao Na yang terlihat mengangkat alisnya tidak suka, lalu menyesap minumannya perlahan.
“Tentu saja aku mengkhawatirkanmu,” balas Xiao Na mengendikkan bahunya acuh, lalu kembali melanjutkan perkataannya, “Karena kau masih menjadi bawahanku. Aku tidak ingin dicap sebagai bos tidak punya hati yang tidak memperhatikan karyawannya.”
Seketika senyum Li Xian yang awalnya melebar mendadak luntur saat wanita itu meneruskan ucapannya. Terbesit sebuah perasaan tidak suka di dalam dirinya saat Xiao Na mengatakan hal tersebut. Mungkinkah dirinya sudah menyukai wanita itu?
Terlihat dari kejauhan Han Siyang mendekat bersama dengan seorang wanita di dekatnya. Tangan lelaki itu merangkul posesif di pinggang ramping milik wanita itu, membuat Li Xian yang melihatnya tersenyum geli. Ia memang sedikit banyak telah mengenal lelaki itu, terlebih semua informasi itu dirinya dapatkan dari Liu Bai.
“Xiao Na, perkenalkan ini tunanganku bernama Lu Man,” ucap Han Siyang memperkenalkan wanita di sampingnya pada Xiao Na.
“Senang bertemu denganmu, Lu Man,” balas Xiao Na singkat sembari menjabat tangan wanita itu.
Wanita yang bernama Lu Man itu pun tersenyum manis, lalu beralih menatap Li Xian yang terlihat tidak peduli dengan keadaan sekitar. Seakan mengerti tatapan wanita kesayangannya, Han Siyang pun ikut menatap lelaki asing yang ada di samping Xiao Na.
“Kau mengajak temanmu, Xiao Na?” tanya Han Siyang menatap Li Xian penasaran.
Akan tetapi, baru saja Xiao Na hendak menjawab, tiba-tiba Liu Bai datang sembari menatap Li Xian. Namun, lelaki itu menyempatkan diri untuk melempar senyuman ke arah Han Siyang dan Lu Man.
“Li Xian, sejak tadi aku mencarimu ternyata ada di sini,” sungut Liu Bai berpura-pura kesal sembari mendudukkan diri di kursi kosong yang berada di samping lelaki itu, lalu menatap Han Siyang. “Li Xian ini temanku. Aku yang mengajaknya ke sini.”
Tanpa ada rasa curiga sama sekali, Han Siyang terlihat mengangguk pelan, lalu tertawa lebar. Entah kenapa lelaki itu terlihat benar-benar tidak menyadarinya, atau memang sedang berpura-pura tidak menyadarinya. Akan tetapi, Liu Bai sangat yakin kalau orang kantor tidak ada yang mengetahui identitas asli Li Xian, selain dirinya dan ayahnya sendiri.
“Maaf, aku pikir temannya Xiao Na. Sejak tadi aku lihat mereka berdua sangat dekat,” sesal Han Siyang seadanya. Ia memang tidak bermaksud menyinggung seperti itu.
Sedangkan Xiao Na yang masih bingung dengan situasi pun hanya diam, lalu melanjutkan acara minumnya sembari terus mendengarkan ketiga lelaki yang baru kenal itu berbincang penuh akrab. Padahal mereka baru saja berkenalan beberapa menit yang lalu, tetapi akrab seakan mereka sudah berteman begitu lama.
Akhirnya, meresa bosan Xiao Na pun memutuskan bangkit dari meja, membuat Li Xian yang sibuk mendengarkan celotehan Liu Bai menoleh. Kemudian, mengernyitkan keningnya bingung.
“Mau ke mana?” tanya Li Xian.
“Toilet,” jawab Xiao Na singkat, lalu melenggang pergi dari sana.
Sedangkan Li Xian pun diam di tempat, karena tidak mungkin kalau dirinya mengikuti wanita itu sampai di toilet. Bisa-bisa Xiao Na merasa tidak nyaman, dan malah membenci dirinya.
Sementara di sisi lain, Xiao Na yang belum pernah menginjakkan kakinya di sini pun sedikit kebingungan untuk mencari toilet. Beberapa kali wanita itu terlihat bertanya pada salah satu karyawan yang melintas, dan barulah ia sampai disebuah toilet yang tidak jauh dari rooftop. Dirinya hanya perlu turun satu lantai, dan melangkah ke arah evalator. Lalu, tepat di seberang evalator itu terdapat toilet yang diperuntukkan para petinggi perusahaan.
Di dalam toilet, Xiao Na pun menatap dirinya sendiri yang masih seperti tadi. Padahal tanpa sepengetahuan siapapun wanita itu sangat kacau. Apalagi sejak dirinya hampir saja dilecehkan oleh lelaki yang terlihat seperti teman seperkuliahannya dulu.
Setelah dirasa cukup tenang, Xiao Na pun bergegas keluar dari toilet. Ia hanya sekedar mencuci tangan, lalu kembali ke tempatnya. Karena rasanya ia sudah terlalu lama di sini, meskipun hanya untuk menenangkan diri.
Namun, baru saja dirinya hendak keluar dari toilet khusus wanita tiba-tiba seorang lelaki bertubuh tegap mengejutkan jantung miliknya, dan hampir saja Xiao Na tersungkur ke belakang kalau tidak cepat-cepat berpegangan pada handle pintu toilet.
“Kau mengejutkanku, Li Xian,” ucap Xiao Na kesal.