23. Li Xian's Angers

1212 Kata
“Maaf, Presdir Zhang!” sesal Li Xian ketika mendengar penuturan Xiao Na. “Tapi, aku datang ke sini untuk membawamu pulang. Tenang saja, ini perintah mutlak dari Han Siyang. Karena dia sempat melihat kau hampir dilecehkan lelaki itu, tapi dia sangat menyesal tidak bisa membantumu.” Xiao Na yang mendengar penuturan Li Xian pun hanya menghela napas, lalu melangkah melewati lelaki itu. Seperinya, ucapan lelaki itu ada benarnya, ia memang harus segera pulang untuk menenangkan batin. Karena kejadian tadi memang sedikit membuat dirinya terkejut. Akan tetapi, wanita itu mendengar suara langkah kaki di belakangnya, membuat tubuh Xiao Na langsung berbalik, lalu mengernyitkan keningnya bingung. Sebab, tepat di belakangnya masih ada Li Xian yang terlihat mengikuti dirinya menuju evalator. “Kenapa kau mengikutiku?” tanya Xiao Na tidak suka. “Aku hanya mengantarkanmu sampai keluar dari gedung ini, Presdir Zhang. Memastikan kalau kau selamat sampai ke parkiran mobil,” jawab Li Xian tersenyum lebar membuat Xiao Na menukikkan alis kanannya bingung, tetapi tidak urung wanita itu kembali berbalik meneruskan langkahnya. Kemudian, keduanya memasuki evalator yang kebetulan masih kosong. Tanpa pikir panjang, Xiao Na langsung menutup pintu tersebut, dan mulai menekan tombol huruf ‘B’ yang memiliki arti pengertian sebagai basement. Canggih sekali memang perusahaan ini, sebab memiliki banyak sekali elvator dengan berbagai macam tujuan. Untung saja tadi ia datang bersama dengan beberapa orang, kalau tidak mungkin dirinya akan naik ke lantai lain saking tidak tahunya. Sementara itu, di dalam evalator terlihat tidak ada yang membuka suara. Xiao Na terbiasa diam, dan Li Xian yang masih sibuk dengan pikirannya. Keduanya terlihat diam sampai di basement. Dan tanpa pikir panjang, Xiao Na pun langsung keluar dan melangkah menuju tempat mobil miliknya terparkir. Sedangkan Li Xian mulai memperlambat langkahnya saat wanita itu telah sampai di mobil. Namun, mata tajam lelaki itu masih menatap sekelilingnya. Karena kejadian tadi benar-benar sangat kelewatan. Ia memang harus membuat perhitungan pada siapapun lelaki itu. Berani sekali datang ke perusahaan ayahnya hanya untuk melecehkan wanita. Setelah itu, Xiao Na pun langsung mengemudikan mobilnya untuk keluar dari basement. Namun, ia menyempatkan diri menoleh ke arah Li Xian yang benar-benar meninggalkan dirinya ketika sudah sampai di mobil. “Dasar lelaki aneh,” gumam Xiao Na pelan, lalu kembali menatap lurus ke depan. Seorang wanita cantik dengan berpakaian gaun mahal itu pun nampak mengemudikan mobilnya yang dengan sengaja membuka bagian atasnya, membuat sepoi-sepoi angin malam membuat rambutnya bertiup ke belakang. Xiao Na pun mulai tersenyum tipis merasakan angin malam yang jarang sekali ia rasakan. Akan tetapi, wanita itu langsung memutar salah satu playlist lagi miliknya agar tidak terlalu kosong, membuat sayup-sayup dari musik terdengar di telinganya. Tanpa sadar wanita itu telah masuk ke dalam pekarang gedung apartemen yang sudah beberapa tahun belakangan ini Xiao Na tinggali. Wanita itu pun mematikan musiknya, lalu kembali menutup bagian atas mobilnya kembali. Kemudian, memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen dan mulai turun memasuki gedung. Sesampainya di dalam gedung, Xiao Na langsung melangkahkan kakinya menuju evalator, dan memencet tombol lantai paling atas tempat apartemennya berada. Sedikit berlebihan memang, tetapi inilah gaya hidup Xiao Na yang tidak ingin diketahui siapapun. Bahkan selama tinggal di sini, wanita itu sama sekali tidak pernah membawa orang masuk ke dalam, selain kedua sekretarisnya, dan anggota keluarganya sendiri. Namun, langkah wanita itu langsung terhenti ketika melihat sepasang suami-istri terlihat berdiri di dekat kebun kecil miliknya. Xiao Na yang menyadari hal itu pun menghela napas pelan. Sedangkan keduanya yang merasa mendengar suara langkah kaki mendekat pun terlihat menoleh, dan mendapati seorang wanita cantik yang mengenakan gaun berwarna hitam. “Kenapa kalian ada di sini?” tanya Xiao Na tanpa basa-basi sedikitpun. Seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik itu pun mendekat, lalu menjawab, “Dari mana saja kamu? Bukannya berdiam diri malah pergi, dan pulang larut malam seperti ini.” Xiao Na hanya memutar bola matanya malas, lalu menatap ke arah lelaki paruh baya yang berada di belakang wanita itu. Meskipun mereka berdua adalah orang tuanya, tetapi tidak pernah sedikitpun ia merasakan kasih sayang mereka berdua. Bahkan ketika dirinya masih belia pun mereka sudah menunjukkan tanda-tanda perbedaan kasih sayang antara dirinya dan Xiao Wei, kakaknya. “Xiao Na, Mama sama Papa ke sini mau memberi tahu sama kamu, kalau besok kamu harus bersiap-siap untuk melakukan perjodohan,” ucap Zhang Da Wei menatap anak bungsunya tegas. Seketika Xiao Na langsung menyemburkan tawa sinis sembari menatap kedua orang tuanya tajam. Inikah yang dimaksud orang tua penuh kasih sayang? Rasanya mereka salah. Nyatanya, selama ini hidup Xiao Na selalu dipenuhi oleh permintaan gila dari keduanya orang tuanya. “Sekarang siapa lagi yang ingin kamu peras, Tuan Zhang?” tanya Xiao Na seakan mereka berdua adalah orang asing. “Bukan urusamu. Ingat, besok malam kau harus berdandan rapi, dan aku kenalkan pada anak salah satu kolega bisnisku,” jawab Zhang Da Wei tanpa mengindahkan pertanyaan Xiao Na. Sedangkan Xiao Na yang masih tidak percaya dengan perlakuan kedua orang tuanya pun menggelang pelan. Ia pikir, setelah kejadian beberapa hari lalu yang orang tuanya membela dirinya itu sudah membuat sadar. Akan tetapi, kenyataannya tidak. Mereka tetaplah orang tua yang haus akan kekuasaan. “Terserah,” putus Xiao Na melenggang pergi melewati keduanya orang tuanya tanpa ingin membuat mereka tinggal lebih lama. Biarlah ia bertingkah seolah dirinya benar-benar kejam, sebab Xiao Na hanya ingin kedua orang tuanya mengerti kalau ia jelas-jelas sudah sangat muak mengerjakan itu semua. Bahkan ingin sekali rasanya ia lepas dari kekangan itu. Sontak Zhang Rou Nan yang sejak tadi geram melihat Xiao Na pun hendak menghampirinya, tetapi langsung dicegah oleh suaminya sendiri. Lelaki itu terlihat menggeleng pelan sembari membawa istri kesayangannya menjauh dari sana. Sementara di sisi lain, Li Xian yang tidak menyangka akan membongkar identitasnya sendiri pun hanya menghela napas kasar menatap satu per satu tamu undangan sekaligus karyawan dari perusahaan LX Group. “Han Siyang, siapa lelaki tadi?” tanya Li Xian tajam. Semua orang yang ada di sana pun tidak menyangka kalau Li Xian adalah anak semata wayang dari bosnya sendiri. Bahkan tidak sedikit dari mereka terlihat sangat terkejut. Sebab, dari sebagian orang itu ada yang merasa telah menggunjingkan dirinya ketika bersama Xiao Na. Han Siyang menatap semua rekannya kaku, lalu menjawab, “Dia dari showroom mobil, Tuan Muda Li.” Li Xian mengangguk pelan mendengar jawaban memuaskan dari Han Siyang. Namun, alis kanan lelaki itu terlihat menukik licik. Sebuah rencana mulai tersusun di benak lelaki itu. “Liu Bai, aku ingin orang seperti itu tidak akan pernah kerja dimana pun, dan aku ingin dia dipecat,” titah Li Xian tegas, membuat Liu Bai hanya mengangguk pasrah. Sedangkan Li Tian Xin yang menyaksikan sikap tegas anak semata wayangnya itu pun hanya tersenyum tipis. Semua sikap Li Xian memang menurun kental dari dirinya. Bahkan untuk ukuran orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di kantor, Li Xian termasuk orang yang sangat berani. “Patuhilah apa yang dikatakan Li Xian. Orang seperti itu memang tidak pantas berada di perusahaan ini,” celetuk Li Tian Xin yang terlihat datang dari arah belakang Li Xian. Sontak semua yang ada di sana pun menunduk penuh hormat, lalu berkata, “Presdir Li.” Li Xian menatap ayahnya bingung. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ada lelaki itu di sini. Padahal setahu dirinya, lelaki paruh baya itu sudah kembali ke rumah. “Pah, kenapa kau ada di sini?” tanya Li Xian bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN