24. Give Up

1000 Kata
Sejahat apapun orang tua, setidak adil apapun orang, dan seperhitungan orang tua. Mereka tetaplah yang membesarkan kita. Bahkan dibalik semua ketidakadilan itu pasti akan ada kebenaran yang terungkap. Maka dari itu, Xiao Na selalu percaya kalau akan ada fase dimana kedua orang tuanya mengerti apa yang ingin ia lakukan selama ini. Hanya saja sekarang Xiao Na lebih memilih untuk diam daripada harus terlibat dalam pertengkaran lagi. Nyatanya, meskipun semalam ia begitu kesal pada kedua orang tuanya, kini wanita itu sudah terlihat biasa lagi. Bahkan Xiao Na membereskan semua pekerjaannya dengan cepat. Ia tidak lagi menunda-nunda pekerjaan hanya untuk membalas dendam kepada kedua orang tuanya, terutama sang ibu. Entah kenapa ia sedikit kecewa pada Zhang Rou Nan yang selalu melihat dirinya sebagai anak nakal. Pada sedari dulu ia sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik, tetapi tetap saja sang kakaklah selalu terlihat baik. Namun, ketidakadilan itu tidak membuat Xiao Na langsung marah, dan memusuhi anggota keluarganya. Alih-alih marah ia malah semakin bersikap baik sampai pada saat dimana dirinya sudah tidak tahan lagi, dan mulai memberontak seperti semalam. Jujur saja, malam itu ia merasa sangat lelah. Karena telah mengalami hal yang tidak terduga. Alhasil, kedua orang tuanya pun terkena imbasnya. “Presdir Zhang, jadwal hari ini sudah selesai. Apakah kau sedang ada acara sampai menghabiskan waktu secepat ini?” tanya Yushi penasaran sembari mengambil kembali map-map yang telah ditanda tangani oleh Xiao Na. Xiao Na menggeleng pelan sembari memainkan ponselnya. “Aku sedang ada janji bersama kedua orang tuaku.” Seketika pergerakan Yushi langsung terhenti, lalu menatap bos cantiknya bingung. Karena selama ini Xiao Na dikenal sebagai seorang bos yang jarang sekali memamerkan kedekatan bersama orang tuanya. Sebab, ada sesuatu alasan yang membuat Xiao Na menjaga jarak dengan mereka. Namun, sampai saat ini Yushi pun tidak mengetahui alasannya. “Benarkah? Wah, selamat Presdir Zhang! Akhirnya, impianmu terwujud,” seru Yushi benar-benar sangat bahagia. Akan tetapi, Xiao Na malah menghentikan kegiatannya, kemudian menatap Yushi dengan alis berkerut. “Apa maksudmu? Aku sedang tidak berbaikan dengan mereka.” Kini Yushi mendadak diam, ia tidak tahu harus berbicara apa. Sebab, seruannya tadi memang benar-benar keterlaluan. Seharusnya, ia memang tidak berbicara apapun sampai bos cantiknya itu sendiri yang mengatakannya. “Oh ya, aku ingin jadwal besok lebih dikurangi, karena aku pasti akan sangat tidak mood bekerja,” ucap Xiao Na seperti biasa. Wanita itu memang kerap kali mengurangi jadwalnya ketika sudah bertemu dengan seorang lelaki yang bertameng sebagai perjodohan. Nyatanya, tidak ada satu pun dari lelaki itu yang menjadi suami Xiao Na. Semua perjodohan itu hanyalah tipu muslihat dari kedua orang tuanya. “Baik, Presdir Zhang,” balas Yushi yang telah menyelesaikan pekerjaannya, lalu lanjut berkata, “Aku pamit dulu untuk memberikan ini pada Tong Xin.” Xiao Na hanya mengangguk singkat. Setelah itu, wanita cantik yang tengah berpakaian rapi dengan rok kecil di atas lutut itu pun bangkit dari tempat duduknya. Ia menatap langit biru Kota Shanghai yang terlihat sangat indah. Bahkan rasanya ia baru pertama kali berdiri di atas ketinggian beberapa meter. Namun, pintu ruangannya terdengar diketuk, membuat wanita itu langsung membalikkan tubuhnya. Korea mata tajam itu seakan menyipit ketika mendapati seorang lelaki yang tengah membawa map, tetapi tangan kekar lelaki itu masih berada di pintu. “Masuk!” titah Xiao Na kembali pada tempat duduknya, membuat lelaki itu spontan ikut masuk. Tak lupa ia menutup pintunya, kemudian duduk tepat menghadap Xiao Na. “Presdir Zhang, ini ada beberapa ringkasan masalah dari aplikasi. Ada banyak sekali bug, serta error pada saat aplikasi mulai diunduh dalam waktu bersamaan. Semuanya jadi terlihat aneh ketika bug tersebut mendadak berfungsi, dan ini ada video singkat yang menampilkan bug lebih kuat daripada biasanya,” ucap Li Xian tanpa menatap Xiao Na, lelaki itu terlihat sangat serius. Sedangkan Xiao Na yang mendengarkan perkataan lelaki itu pun meraih ipad dari tangan Li Xian, lalu kembali memutar video singkat tersebut. Matanya dengan tajam menatap durasi demi durasi dalam tiga menit itu. Kemudian, Xiao Na kembali menyerahkannya kepada Li Xian. “Kenapa bisa seperti itu?” tanya Xiao Na bingung. “Bukankah kemarin sudah masuk ke dalam pelatihan, dan sudah diyakini tidak terjadi apapun?” “Itu masalahnya, Presdir Zhang. Jadi, semua pengembang aplikasi ini mendadak tidak mengerti apa yang terjadi dengan aplikasi mereka. Mungkin karena masih terlalu baru sehingga belum matang,” jawab Li Xian meletekkan ipad tersebut di atas meja. “Bagaimana ke depannya, Presdir Zhang?” “Sebenarnya, merilis aplikasi ini tidak hanya membuat untung perusahaan, tetapi untuk membuat mereka terus giat mengembangkannya dengan baik. Namun, apa yang terjadi hari ini sudah membuatku sedikit kecewa. Karena sangat kurang dari harapan awal merekrut mereka semua,” ucap Xiao Na menghela napas panjang. Namun, Li Xian yang melihat kekecewaan itu pun hanya diam. Ia bisa melihat bagaimana Xiao Na sangat mengharapkan para generasi muda tersebut. Dengan kejadian ini memang bisa sangat mudah dilihat kalau mereka semua sama sekali tidak memiliki minat pada bidangnya. Sehingga kejadian sekecil ini pun bisa menjadi besar. “Baiklah kalau mau mereka seperti itu, kita harus melepaskannya,” putus Xiao Na membuat Li Xian langsung mendelik tidak percaya. “Presdir Zhang! Sepertinya sangat kejam kalau kita melepaskan aplikasi ini secara tiba-tiba,” sahut Li Xian sedikit tidak terima. Sontak Xiao Na menatap Li Xian tajam, lalu bertanya, “Lalu, kau yang ingin menanggung kerugian mereka?” Kini Li Xian tengah dilandai sebuah dilema besar. Sebenarnya, ia ingin sekali terus mendukung generasi muda itu, tetapi mengingat kembali apa yang telah dilakukan, dan mendengar penjelasan dari Xiao Na. Diam-diam lelaki itu pun menjadi sedikit ragu. Sejauh apapun pasar yang akan ditempuh kalau pengembang aplikasinya sama sekali tidak memiliki niat pun hasilnya akan merugi. Akhirnya, mau tak mau Li Xian pun harus melepaskannya seperti yang Xiao Na bilang. Mungkin lebih baik jika mereka benar-benar tekun dalam mengembangkan hal tersebut. Karena bukan hanya memberi keuntungan saja, melainkan memberi kesempatan para generasi muda untuk tembus sebagai pembuat aplikasi yang cukup booming nantinya. Sebab, tidak akan ada yang tidak booming aplikasi dari rilisan perusahaan N&N. “Baiklah, aku akan menyerah,” gumam Li Xian pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN