25. That's Not True

1051 Kata
Langit gelap dengan semilir angin lembut mulai menyapu permukaan kulit halus dan terawat milik Zhang Xiao Na. Seorang wanita cantik yang mengenakan gaun berwarna merah itu tampak duduk di salah satu kursi restoran outdoor yang berada di atas rooftop. Namun, pemandangan di sini rasanya tidak seindah saat wanita itu menghadiri pesta pertunangan temannya. Sesuai titahan sekaligus janji Xiao Na untuk datang ke perjodohan yang telah disiapkan oleh kedua orang tuanya. Wanita itu sama sekali tidak terlihat kesal, ia hanya diam dengan sesekali memainkan ponselnya agar tidak terlihat begitu menganggur. Padahal di ponsel itu ia hanya melihat-lihat story harian milik kedua sekretarisnya yang sangat up to date sekali. Sejenak wanita itu melirik pergelangan tangan kirinya yang dihiasi sebuah arloji berwarna putih mungil. Mulut kecil Xiao Na kembali membulat sembari mengatur napasnya perlahan. Ia sama sekali tidak menyangka kalau orang tuanya menunggu selama ini. Padahal ini sudah masuk dua jam dari perjanjian mereka. “Kalau tidak jadi tidak perlu dipaksa. Lagi pula masih banyak orang kaya lainnya,” celetuk Xiao Na tanpa beban, membuat Zhang Rou Nan langsung menatap anak bungsunya tajam. “Diam saja kamu!” balas wanita paruh baya yang mengenakan pakaian serba putih itu tajam. Sontak Xiao Na hanya bisa menghela napas pasrah, lalu kembali menekuni ponselnya. Ia sedikit tidak menyangka kalau orang tuanya sangat menyukai seseorang seperti ini. Padahal dari tipe idealnya, ia malah lebih menyukai orang yang disiplin, dan tepat waktu. Lalu ini, jangankan tepat waktu, rasanya mereka sudah sangat telat. Tak lama kemudian, muncul keluarga kecil yang terlihat bahagia menghampiri mereka. Sontak Zhang Rou Nan yang melihat hal tersebut langsung tersenyum lebar, dan bangkit dari tempat duduknya. Sedangkan Xiao Na hanya melirik singkat, lalu acuh tak acuh. “Maafkan aku, Lao Zhang. Tadi ada sedikit masalah,” sesal pria paruh baya berpakaian mahal tengah berpelukan dengan Zhang De Nan. “Tidak apa-apa. Kami juga baru sampai,” balas ayah dari Xiao Na sembari tertawa pelan. Mendengar hal tersebut, Xiao Na langsung mendecih. Dalam hatinya ingin sekali mengumpat kesal melihat perlakuan orang tuanya yang terlalu menghormati orang seperti itu. Padahal sejak awal Xiao Na sama sekali tidak memiliki feel untuk menyapa mereka yang terlihat sombong itu. Setelah bertegur sapa singkat, dua keluarga itu pun duduk. Tentu saja Xiao Na yang awalnya berada di depan orang tuanya langsung berpindah di sisi Zhang Rou Nan. Kembali melakukan drama sok harmonis yang selalu dirinya lakukan selama ini. Muak memang, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain ini. “Jadi, bagaimana? Putriku sangat cantik, bukan?” tanya Zhang De Nan tertawa pelan. “Iya, putrimu sangat cantik. Bahkan terlihat sangat mirip dengan istrimu,” jawab seorang lelaki paruh baya yang tidak diketahui namanya. Karena sejak tadi lelaki itu hanya membalas perkataan ayahnya saja. “Sepertinya putramu juga tertarik,” ucap Zhang De Nan tersenyum lebar ke arah lelaki yang tidak terlalu tampan, tetapi memiliki aura yang cukup kuat. Bahkan Xiao Na mengakui hal tersebut. “Kau membuat putraku malu, Lao Zhang. Tentu saja Xiao Na sangat cantik sehingga putraku tidak berhenti menatapnya,” balas lelaki itu tidak tahu malu. Meskipun apa yang dikatakannya memang benar. Seakan ingin berinisiatif mendekatkan anak dari lelaki itu pun membuat Zhang De Nan langsung menoleh ke arah Xiao Na, lalu berkata,“ Xiao Na, kenapa kau tidak mengajak jalan saja? Wu Feng baru saja sampai di sini, jadi dia masih terlalu takut untuk mengajakmu jalan.” Xiao Na terlihat mengangkat alis kanannya tidak mengerti. Karena ia memang sejak tadi hanya diam, dan sibuk memakan makanan yang ada di piring tanpa memedulikan omongan kedua orang tuanya. Namun, ini memang di luar dugaan sampai harus mengajak lelaki itu jalan. “Bukankah dia sudah pergi ke sini? Jadi, tidak mungkin kalau tidak mengenal daerah ini,” ucap Xiao Na dengan nada sedikit menyindir, membuat Zhang Rou Nan langsung mencubit lengan anaknya kesal. Seketika Xiao Na hanya menatap ibunya kesal. Akan tetapi, tidak membuat wanita itu membalasnya. Karena apa yang ia ucapkan tadi memanglah benar. Sebab, Xiao Na sempat melihat lelaki itu saat mereka bertiga masuk ke dalam restoran ini. Sedangkan anak lelaki itu terlihat tidak suka mendengar penuturan Xiao Na, membuat lelaki yang bernama Wu Feng itu menatap wanita di hadapannya secara terang-terangan menunjukkan wajah kesal. “Aku tahu, Xiao Na pasti sedang memuji Wu Feng. Karena aku pernah beberapa kali bertemu dengan puterimu saat mengisi gala seminar,” ucap Wu Shan itu tertawa pelan. Kini Xiao Na semakin merasa tidak percaya. Ternyata, kedua orang tuanya dan keluarga dari lelaki itu memang tidak ada yang beres. Bahkan ia lebih tidak menyangka lagi kalau lelaki itu pernah mengisi gala seminar bersama dengan dirinya. “Benarkah? Xiao Na memang sangat mandiri. Padahal aku sudah melarangnya untuk tidak bekerja, tetapi tetap saja. Gadis itu bahkan tidak pernah mendengarkanku, dan terus mengejar impiannya,” balas Zhang De Nan dengan mengada-ngada. Padahal perusahaan Xiao Na bukanlah seperti yang ayahnya katakan. Sebab, tidak ada seorang pun yang mendukung dirinya merintis perusahaan, kecuali Zhang Xiao Wei. Hampir saja Xiao Na berpura-pura muntah mendengar ucapan lelaki itu. Seketika ia langsung merasa jijik pada dirinya sendiri yang sampai bodoh mempunyai keluarga seperti ini. “Kalau begitu, kenapa kita tidak lanjut saja pertunangannya? Aku rasa Xiao Na memang sangat cocok dalam mengimbangi sikap Wu Feng yang terkadang masih labil,” ucap Wu Shan seakan merendah, membuat Xiao Na memutar bola matanya malas. Mungkin hanya orang bodoh yang mengira kalau Wu Feng adalah orang labil. Bertemu dengan banyak orang memang membuat Xiao Na tidak sedikit mengenal sifat dan karakter mereka. Meskipun ia sendiri sudah dapat menebak sikap rubah dari lelaki yang bernama Wu Feng. Sebab, terlihat jelas sekali kalau lelaki itu nakal. “Tidak kau saja, Xiao Wu. Xiao Na bahkan sangat manja padaku. Dia bersikap seolah diriku pujaan hatinya yang sangat posesif sekali.” Zhang De Nan terlihat memegang kepalanya, membuat Xiao Na seketika kesal dan hampir saja bangkit kalau tidak cepat-cepat ditahan oleh Zhang Rou Nan. “Memang orang tua terpenting bagi anak perempuan adalah ayahnya sendiri. Meskipun begitu, sang ayah memang harus mendukung semua keinginan anaknya,” balas Wu Shan tertawa pelan. Ini memang sudah sangat tidak beres lagi, membuat Xiao Na dan Wu Feng berbalik secara berbarengan membuat kedua orang tua dari mereka mendadak bingung, ternasuk Zhang Rou Nan dengan segala pikiran liciknya. “Aku tidak yakin apa yang kau ucapkan itu benar.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN