26. Disappear

1189 Kata
Sontak semua yang ada di sana terlihat bingung mendengar penuturan Zhang Xiao Na seakan menyiratkan sesuatu. Wanita cantik nan anggun itu menukikkan alis kanannya melihat wajah kesal dari Wu Feng. Sepertinya, tidak sia-sia ia datang ke perjodohan malam ini, sebab dirinya menjadi dapat pelajaran baru. Tidak semua lelaki itu tulus. Zhang Rou Na langsung memimpin situasi dengan tertawa pelan, lalu diam-diam mencubit lengan Xiao Na kesal. Kemudian, berkata, “Xiao Na memang seperti itu, mulutnya suka berbicara yang tidak-tidak.” Wanita anggun yang jauh lebih muda dari Zhang Rou Nan tampak tersenyum ringan. Diantara mereka semua, memang hanya dirinya yang tulus. Terlihat jelas di mata Xiao Na. Sehingga wanita itu merasa harus tetap menjaga kesopanannya. “Tidak apa-apa,” balas Wu Nian ringan. Setelah itu, ponsel Xiao Na mendadak berbunyi, membuat semua yang ada di sana langsung menatap ke arah ponsel dengan posisi terbalik tepat di hadapan seorang wanita cantik yang kini menjadi bintang pertemuan. Merasa ingin memanfaatkan situasi, tanpa pikir panjang Xiao Na langsung mengangkatnya. Bahkan wanita itu belum melihat nama dari sang penelepon. Akan tetapi, ia terlihat sama sekali tidak peduli. Asalkan bisa pergi dari sini pun sudah cukup untuknya. “Aiya, aku lupa. Baiklah, aku akan segera ke sana,” ucap Xiao Na tergesa-gesa. Padahal sang penelepon belum mengatakan apapun, tetapi wanita itu malah melemparkan pertanyaan bertubi-tubi pada peneleponnya. Kini Xiao Na harus memperlihatkan keterampilan dirinya dalam berakting. Karena tidak ingin berada di sini, maka ia memang harus memperjuangkan segalanya. Sebab, yang terpenting adalah kabur dari tempat ini, dan tidak akan pernah datang lagi. “Sepertinya, orang kantor mendadak memberitahuku untuk segera ke sana,” ucap Xiao Na bangkit dan berpura-pura menunduk penuh penyesalan. “Kau mau ke mana, Xiao Na?” tanya Zhang De Nan dengan nada khawatir. Sejenak wanita itu terlihat mematung mendengar pertanyaan dari ayah kandungnya. Akan tetapi, Xiao Na juga langsung teringat kalau semua ini hanyalah ilusi. Akhirnya, wanita itu tersenyum ke arah ayahnya, dan ikut melakonlis sebuah adegan yang sangat menjijikkan ini. “Aku harus ke kantor. Pah. Semua karyawanku ada di sana, jadi mau tidak mau aku harus hadir di sana untuk meminimalisir keamanan,” jawab Xiao Na penuh dramatis. Dan benar saja, Wu Nian langsung menatap Xiao Na lembut, lalu ikut berkata, “Pergilah, Xiao Na. Sepertinya itu sangat mendadak sampai kamu harus pergi disaat melakukan perjodohan seperti ini.” “Maafkan aku,” sesal Xiao Na menatap Wu Nian, kemudian benar-benar melenggang pergi dari sana sembari membawa mantel dan tas tangannya yang belum ia bereskan. Sesampainya di parkiran restoran, Xiao Na langsung masuk ke dalam sebuah mobil mewah nan mahal berwarna merah. Sejenak wanita itu menghela napas lega sembari menyandarkan tubuhnya di jok kemudi. Lalu, Xiao Na terlihat meraih ponselnya yang berada di atas tangan. Ia sangat penasaran dengan seseorang yang meneleponnya di saat seperti ini, sebab dirinya memang tidak pernah mengizinkan siapapun untuk menghubungi dirinya ketika berada di pertemuan keluarga. Namun, sepasang alis cantik itu tampak bertaut bingung ketika mendapati sebuah nomor tanpa nama di sana. Dalam benaknya pun mulai bertanya-tanya. Karena selama ini Xiao Na sama sekali tidak pernah memberikan nomor pribadinya kenapa siapapun, termasuk Yushi dan Tong Xin. Tanpa pikir panjang, wanita itu langsung menelepon kembali sebuah panggilan terakhir yang tidak dikenali. Meskipun ia sedikit malu karena telah memanfaatkannya untuk keluar dari fase dimana dirinya sama sekali tidak bisa berkutik, terlebih dalam pertemuan keluarga seperti itu. Walaupun ia tidak yakin kalau orang tuanya akan menerima begitu saja. Tak lama kemudian, panggilan pun tersambung, membuat Xiao Na langsung menegakkan tubuhnya. Ia terlihat sangat serius menanggapi nomor yang tidak dikenal itu. “Siapa kau?” tanya Xiao Na tanpa sapaan seperti biasa. “Aiya, Nyoba Bos! Ini aku, Li Xian. Kenapa kau mematikannya tadi? Padahal aku belum mengatakan apapun,” jawab Li Xian sedikit kesal. Sejenak Xiao Na menghela napas lega, tetapi di sisi lain ia penasaran. Dimanakah lelaki itu mendapatkan nomor ponselnya? Padahal dari sebanyak karyawan yang ia punya, hanya sebagian kecil dari mereka yang menyimpan nomor pribadinya. “Dari mana kau mendapatkan nomorku, Direktur Li?” tanya Xiao Na kembali seperti biasa. Tidak ada perkataan santai seperti yang Li Xian lontarkan. “Aku memintanya dengan Xiao Tong Xin,” jawab Li Xian melupakan tujuan menelepon bos cantiknya. Akan tetapi, lelaki itu yang teringat pun langsung melanjutkan perkataannya, “Oh iya, aku hampir saja lupa. Presdir Zhang, Zarco tadi sempat menghubungiku masalah pelatihan beberapa minggu ini. Katanya, DJ dan Demo mengalami sedikit masalah dengan orang tuanya.” “Apa yang dilakukan mereka?” tanya Xiao Na penasaran. “Sudah beberapa hari ini DJ dan Demo tidak hadir dalam pelatihan. Dari yang aku tahu, DJ pulang bersama orang tuanya secara paksa, dan Demo pergi dari tempat pelatihan, tetapi sama sekali tidak diketahui keberadaannya. Tadi aku sempat meminta penjelasan dengan Su Yuan tenang masalah Demo. Tapi, sayangnya tidak ada yang tahu,” jawab Li Xian panjang lebar. “Baiklah. Aku akan mengurusnya nanti,” putus Xiao Na menipiskan bibirnya. Entah kenapa ia merasa kalau hal ini terulang lagi. Demo memang sedikit kekanak-kanakkan sampai harus pergi dari dorm hanya untuk menghindari semua orang. Setelah itu, panggilan pun terputus. Xiao Na yang tadi sempat terlibat masalah ini pun harus kembali memutar otaknya sekeras mungkin. Sebab, kejadian kali ini benar-benar telah membuat batinnya sedikit kesal. Apalagi mengingat kalau DJ a.k.a Feng Zhen sudah kembali ke rumahnya. Dan sebagai bos yang baik dan bertanggung jawab, Xiao Na memang harus menjemput kembali lelaki itu, apapun alasannya. Karena hanya dirinya yang bisa mewujudkan cita-cita anak lelaki itu. Kalau bukan dirinya, lantas siapa lagi? Akhirnya, untuk mendinginkan pikiran, Xiao Na pun memutuskan untuk kembali ke apartemen, dan mendiskusikan semua ini bersama dengan Su Yuan. Walau bagaimanapun juga, lelaki itu memang yang terakhir kali bersama Demo. Setidaknya, ia memiliku clue untuk menemukan keberadaan lelaki kecil itu. Area pemukiman apartemen Xiao Na pun terlihat sangat sepi, mungkin karena besok masih hari kerja sehingga tidak banyak orang yang pulang larut malam seperti dirinya. Mengingat sekarang sudah pukul 01.00 AM, artinya sudah sangat malam untuk orang pulang kerja seperti dirinya, kecuali mereka menghabiskan waktu bersenang-senang dulu. Sementara itu, di sisi lain terlihat seorang lelaki bertubuh kecil tengah menyusuri lorong setiap lorong. Lelaki itu terlihat tanpa tujuan dengan bergerak ke sana kemari dengan arah yang berlawanan. Padahal ini sudah ketiga kalinya ia mencari nomor kamar yang sudah ia genggam di sebuah catatan kecil. Sampai tiba-tiba matanya melihat siluet tubuh seorang wanita cantik nan anggung yang melangkah cepat menuju evalator. Sayangnya, lelaki itu malah tertinggal cukup jauh saat berusaha mengejarnya, dan elevator itu pun sudah bergerak naik meninggalkan dirinya yang masih di bawah. Namun, semua itu tidak membuat lelaki bertubuh kecil itu menyerah, ia langsung mengikuti sesosok wanita yang bergerak naik. Seakan wanita itu hendak menembus langit-langit apartemen. Akan tetapi, ada hal yang membuat lelaki itu tidak terduga. Dirinya memang benar-benar berada di langit apartemen dengan satu buah kamar dengan nomor pintu yang sejak tadi ia cari. Sejenak lelaki itu bernapas lega, lalu melangkah ke arah pintu berwarna cokelat itu dengan tersenyum mengembang. Ia terlihat sangat senang, dan langsung memencet bel yang ada di bingkai pintu tersebut. “Nyonya Bos!” panggil Demo sedikit berteriak agar Xiao Na mendengarnya dari dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN