Mau tak mau Li Xian hanya mengangguk perlahan. Karena ia memang tidak seharusnya menutupi sampai selama ini. Akhirnya, mereka berdua pun sampai di sebuah ruangan luas nan mewah itu. Komputer lengkap dengan segala komponannya tampak mati dan tertata rapi di tengah-tengah ruangan dengan satu tiang besar yang sering kali dijadikan untuk penyanggah lampu di sana.
“Mingyu, tolong panggilkan Manajer Su,” pinta Zhang Xiao Na pada sesosok lelaki yang tengah berolahraga di sudut ruangan menggunakan burbles. Setelah itu, Xiao Na terlihat kembali melenggang masuk ke dalam ruangan sedikit besar, yang Li Xian tahu kalau itu adalah ruang rapat.
Kemudian, Xiao Na mendudukkan diri di salah satu kursi panjang sembari menunggu kedatangan Su Yuan. Mungkin sedikit aneh wanita itu mencarinya di pagi hari seperti ini, tetapi untuk masalah cukup mendesak Xiao Na tidak akan pernah membuang-buang Waktu. Apalagi kalau sampai harus menunggu siang.
Tak lama kemudian, sedikit lama mereka berdua menunggu, akhirnya muncul seorang lelaki tampan dengan wajah khas bangun tidur. Su Yuan menatap kedua orang itu dengan mata sipitnya yang masih sangat mengantuk. Akan tetapi, saat menyadari kalau kedua orang itu salah satunya Xiao Na, Su Yuan terlihat langsung mendadak tidak mengantuk lagi. Lalu, menghampiri mereka berdua.
“Kenapa, Nana? Kau mencariku pagi-pagi sekali,” tanya Su Yuan mendudukkan diri tepat di samping Li Xian, dan berhadapan dengan Xiao Na.
Xiao Na terlihat melipat kedua tangannya di depan d**a menatap penuh selidik ke arah Su Yuan. Ia seperti mencium aroma minuman keras saat lelaki itu datang.
“Kau minum semalam?” tanya Xiao Na balik, membuat Su Yuan spontan memegang mulutnya sembari menatap wanita itu penasaran.
“Kelihatan sekali, ya? Aku hanya frustasi semalam, jadi memutuskan untuk minum,” jawab Su Yuan lemas, lalu kembali berkata, “Tapi, ini benar-benar hanya satu botol. Tidak lebih.”
“Iya aku tahu,” sahut Xiao Na cepat.
Sedangkan Li Xian yang sejak tadi pun hanya mendengarkan kedua orang di depannya berbincang. Sejujurnya ia sama sekali tidak tahu harus berkata apa, sebab dirinya tidak terlalu Mengenal seorang lelaki yang bernama Su Yuan.
“Nana, aku dengar kau sudah menemukan Demo,” ucap Su Yuan membuat Xiao Na mengangguk pelan.
“Semalam dia datang ke apartemenku. Aku juga sejujurnya tidak tahu kenapa Demo bisa ada di sana, tapi menurut yang dia ceritakan semalam. Demo mengalami hari yang cukup berat. Bahkan aku sendiri saja merasakan bukan itu saja yang menjadi masalahnya, tetapi Demo memiliki beban selama pelatihan,” tutur Xiao Na panjang lebar, membuat Su Yuan mengangguk pelan.
“Akhir-akhir ini Demo memang sering mengalami penurunan skor dan sering tidak fokus dalam ikut latihan. Aku merasa kalau hal ini berlangsung cukup lama, sebelum akhirnya aku tahu kedua orang tuanya datang ke sini memaksa Demo agar ikut mereka kembali ke Kanada,” balas Su Yuan seadanya. Memang benar, sering kali ia menemukan Demo sedang berdiam diri atau bahkan sedang merenung. Namun, saat itu tidak terlalu menjadi perhatian dirinya, karena ia pikir Demo sedang merenungkan masalah pelatihannya.
“Seperti dugaanku!” sahut Xiao Na cepat sembari menjentikkan jemarinya. “Oh ya, hari ini aku akan mengajak kedua orang tua Demo untuk makan malam. Karena aku harus menyelesaikan semua ini dengan cepat, sebelum bertabrakan dengan semua jadwal pentingku.”
“Baik, nanti akan aku atur jadwal pertemuanmu dengan orang tua Demo,” putus Su Yuan sembari merogoh saku celana selutut miliknya, lalu mengambil sebuah benda pipih di sana. Kemudian, lelaki itu terlihat mengetikkan pesan singkat untuk kedua orang tua dari Demo.
Merasa urusannya sudah selesai, Xiao Na pun bangkit dari tempat duduknya. “Su Yuan, aku harus kembali ke kantor. Kalau ada masalah seperti ini lagi kau harus cepat menghubungiku, agar tidak menjadi besar lagi. Dengan menutupinya tidak akan pernah membuat masalah itu berakhir.” Xiao Na menatap serius ke arah Su Yuan.
“Baiklah, aku tahu, ta jie. Sekarang kau ke kantor saja, jangan berlama-lama di sini. Nanti karyawanmu yang ada di sana malah cemburu melihat bosnya terlalu peduli dengan tim kecil ini,” balas Su Yuan tertawa pelan.
Mau tak mau akhirnya Xiao Na menuruti perkataan lelaki itu. Memang benar, jika ada yang mengetahui dirinya ada di sini, pasti tidak sedikit karyawan di kantornya merasa iri. Karena selama ini yang diperhatikan hanyalah tim olahraga teknologi, bukan para karyawannya.
“Aku pergi dulu. Jangan lupa dengan pesanku hari ini,” pamit Xiao Na sekaligus memberi titahan mutlak untuk Su Yuan.
“Iya, iya,” balas lelaki itu tertawa pelan.
Kemudian, Xiao Na pun melenggang pergi dari sana, lalu diikuti Li Xian yang berada tidak jauh dari Su Yuan. Namun, saat lelaki itu hendak mengikuti Xiao Na, tiba-tiba sebuah tangan kekar terasa menahan lengan miliknya.
Sontak Li Xian menatap Su Yuan bingung, lalu bertanya, “Kenapa, Yuan?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran denganmu,” jawab Su Yuan tersenyum lebar.
Kini malah Li Xian yang mendadak tidak mengerti dengan perkataan lelaki di hadapannya. Padahal mereka berdua tidak tergolong dekat, tetapi sikap ramah Su Yuan memang mampu membuat dirinya merasa tidak canggung.
“Apa maksudmu?” tanya Li Xian penasaran.
“Ah? Tidak ada,” jawab Su Yuan menggeleng pelan sembari tersenyum penuh arti, lalu mendorong tubuh Li Xian agar segera menyusul bos cantiknya. “Sudah sana pergi. Xiao Na sudah masuk ke dalam lift.”
Mendengar hal tersebut, akhrinya Li Xian pun memilih untuk pergi dari sana. Sebab, lantai di bawah ini cukup rendah sehingga dirinya harus segera keluar kalau tidak ingin terjebak menunggu evalator selanjutnya yang entah kapan akan tersedia kembali.
Dan benar saja, kalau dirinya hampir ditinggal pergi oleh Xiao Na. Sebab, kedatangannya sangat pas saat pintu tersebut hendak tertutup sempurna. Namun, segera kembali terbuka saat jemari tangannya memegang belahan pintu logam tersebut.
“Membuatku takut saja,” ucap Li Xian sembari menghela napas lega, karena dirinya tidak berakhir di tempat ini.
Xiao Na terlihat melirik lelaki itu sinis, lalu berkata, “Kenapa? Bukankah kau yang ingin menetap di sini sampai tidak muncul-muncul saat aku mulai menaiki lift.”
“Bukan seperti itu, Presdir Zhang. Aku hanya mengobrol singkat dengan Su Yuan,” balas Li Xian berusaha membela dirinya. Akan tetapi, sayangnya Xiao Na sama sekali tidak memedulikan perkataannya.
Setelah itu, keadaan pun menjadi hening, Xiao Na yang terlihat sibuk dengan pikirannya. Lalu, Li Xian yang memang tidak ingin mengganggu bos cantiknya. Padahal ia mulai merasa kalau seperti ini memang tidak akan pernah memiliki perkembangan. Ia harus berani memajukan waktu, meskipun sebatas atasan dan bawahan.
“Hm ... Presdir Zhang, aku sempat mendengar percakapanmu,” celetuk Li Xian membuka suara, membuat Xiao Na langsung memutar tubuhnya menatap lelaki itu bingung, lalu kembali menghadap lurus ke depan.
“Tentang apa?” tanya Xiao Na tanpa menatap Li Xian sedikit pun.
“Malam disaat aku meneleponmu,” jawab lelaki itu pelan, membuat Xiao Na membulatkan matanya.
Tanpa pikir panjang, Xiao Na langsung membalikkan tubuhnya lagi. Kali ini menatap Li Xian penasaran sekaligus tidak percaya kalau lelaki itu benar-benar mendengar percakapan dirinya saat di pertemuan keluarga.
“Apa yang kamu dengar?” tanya Xiao Na sedikit menuntut.