29. I Wanna Talk

1073 Kata
Li Xian termenung setelah mendengar penuturan ibunya. Entah kenapa ia merasa sangat diterangi akibat dari perkataan Li Yura. Memang wanita kesayangannya itu tidak pernah mengetahui apa yang dimaksud oleh dirinya. Akan tetapi, insting sebagai seorang ibu jangan pernah diremehkan. Apalagi menyangkut dengan anaknya sendiri. Setelah menyelesaikan sarapan yang berujung dengan keterdiaman, satu per satu orang dari meja makan itu langsung bangkit dan kembali beraktivitas seperti biasa. Tentu saja aktivitas itu tidak akan pernah lewat dari urusan kantor yang menggunung. Namun, ketika Li Xian hendak keluar dari pintu utama tiba-tiba terhenti saat mendapati seorang lelaki terduduk di ruang tamu besar. Padahal ini masih sangat pagi, tetapi tamu tidak tahu diri itu malah sudah datang dan sibuk menikmati segelas kopi hitam, lengkap dengan beberapa potong sandwich untuk sarapan. Karena lelaki itu belum sempat sarapan di apartemennya sendiri. “Numpang sarapan di sini?” sindir Li Xian sembari menghampiri seorang lelaki itu. Mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali membuat lelaki itu pun menoleh. Terlihat lelaki itu adalah Liu Bai. “Tentu saja aku akan numpang sarapan di sini setiap hari. Aku harap kau berlapang d**a menerima keberadaanku.” Li Xian mendecih pelan. “Hei, Tuan Muda Liu! Sangat tidak sadar diri sekali kau sebagai orang yang lebih kaya daripada diriku.” “Baiklah, Tuan Muda Li. Aku menerima pujianmu dengan tulus,” balas Liu Bai santai, lalu kembali berbalik menyeruput kopi hitam itu dan menggigit kembali sandwich yang tinggal setengah. Sedangkan Li Xian hanya menggeleng pelan, dan kembali meneruskan langkahnya untuk meninggalkan kediaman mewah milik kedua orang tuanya. Padahal sejak dulu ia memang sering sekali mengutarakan ingin tinggal berpisah, tetapi ia sama sekali tidak pernah diperbolehkan. Tentu saja yang sangat berat untuk melepaskan dirinya adalah Li Yura. Sejenak lelaki keturunan dari Keluarga Li yang sangat terpandang itu pun terdiam sejenak melihat garasi mansion. Sebab, semua mobil di sana sangatlah mahal. Bahkan bisa terbilang mobil buatan perusahaan ayahnya sendiri. Akan tetapi, ia juga tidak enak kalau harus terus meminjam mobil milik Liu Bai. Akhirnya, mau tak mau Li Xian pun membawa mobil dengan keluaran paling lama agar tidak terlalu terlihat mewah. Tentu saja dirinya sangat percaya diri kalau mobil yang menjadi kendaraannya hari ini berbeda dengan milik semua orang. Semoga saja harapannya kali ini akan terwujud sempurna. Setelah itu, lelaki tampan keturunan Keluarga Li itu pun mulai menjalankan mobilnya meninggalkan garasi, dan mulai menyusuri jalan panjang menuju keluar mansion. Tentu saja memakan waktu selama tiga menit dengan pintu gerbang kokoh nan menjulang tinggi itu terbuka lebar. Seakan mereka sudah mengetahui kalau akan ada mobil dari salah satu pemilik mansion keluar. Kemudian, mobil berwarna silver itu pun mulai membelah jalanan sedikit lenggang Kota Shanghai. Padahal di hari biasanya, terlihat cukup padat, meskipun tidak sampai macet. Setidaknya suasana hari ini sedikit berbeda. Mungkin karena dirinya yang memutuskan untuk pergi terlalu awal. Sebab, hari ini ia harus segera menyelesaikan semua laporan alat. Tanpa sadar mobil silver keluaran tahun pertama dari perusahaan besar milik Keluarga Li itu pun terparkir cantik di basement perusahaan N&N. Terlihat masih sedikit sekali yang datang, karena biasanya sudah terlihat penuh dan sangat sesak. Bahkan hampir tidak bisa dipenuhi mobil lagi. Akan tetapi, disaat yang bersamaan sebuah mobil berwarna putih pun datang. Tentu saja Li Xian yang tidak menyadari hal tersebut, kemudian lelaki tampan berjas warna merah itu pun turun tanpa menyadari bahwa sebuah mobil putih mendekat ke arahnya. Namun, keberuntungan masih berpihak pada Li Xian sehingga mobil mewah berwarna putih itu pun langsung menginjak pedal rem mobil dengan kuat, membuat gerakan sepontan mobil itu langsung berhenti di tempat. “Aigo kamchagiya!” seru Li Xian terkejut, lalu menoleh ke arah mobil putih yang hendak menabrak dirinya. Terlihat seorang wanita di dalam itu pun langsung turun, kemudian mengecek keadaan lelaki yang hampir saja ia tabrak. Tentu ini bukanlah kesalahannya, melainkan sebuah keteledoran kedua belah pihak yang tidak menyadari bahwa ada tanda bahaya di sekitar. “Li Xian, apa kau baik-baik saja?” tanya Xiao Na terlihat panik sekaligus khawatir. Lelaki itu mendadak terkejut melihat bosnya ada di sini. Padahal biasanya wanita itu datang lebih siang daripada karyawan. Namun, hari ini ada yang sedikit berbeda. Tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan di benaknya. Li Xian menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Maafkan aku, Presdir Zhang. Aku benar-benar tidak tahu kalau ada mobil masuk. Mungkin tadi aku sedikit tidak fokus.” “Kalau tidak apa-apa itu bagus. Lain kali kau harus tetap fokus, Li Xian. Karena keberuntungan tidak akan datang untuk kedua kalinya,” ucap Xiao Na menatap Li Xian serius, lalu wanita itu terlihat menoleh ke arah sampingnya, dan sedikit terkejut ketika mendapati sebuah mobil antik yang sangat ia ketahui. “Baik, Presdir Zhang!” balas Li Xian semangat. Lelaki itu tersenyum senang dengan hatinya sedikit menghangat mendengar penuturan Xiao Na. “Li Xian,” panggil Xiao Na pelan, lalu kembali menatap lelaki itu serius. “Iya, Presdir Zhang. Ada apa?” tanya Li Xian dengan alis bertaut bingung melihat perubahan ekspresi Zhang Xiao Na. “Apa kau yang membawa mobil itu?” Xiao Na bertanya balik sembari menunjuk sebuah mobil antik dengan arah pandangan mata. Seketika Li Xian mendadak diam. Ia tidak tahu harus berkata apa, sebab dirinya memang belum bisa jujur kepada Xiao Na tentang identitas aslinya. Akan tetapi, ia akan mengatakan semuanya kepada wanita itu, ketika tujuannya memang benar-benar terwujud. “Em ... itu ... itu mobil kesayanganku, Presdir Zhang. Terlihat antik, bukan? Itu memang keluaran pertama dari showroom SNAIL,” jawab Li Xian berusaha meyakinkan Xiao Na agar wanita itu kembali mengorek informasi yang terkadang membuat dirinya merasa sangat terpojok. Namun, dugaannya benar. Xiao Na hanya mengangguk pelan, lalu membalikkan tubuhnya ke arah mobil. Ia terlihat berbicara dengan seseorang di dalam mobil. Akan tetapi, orang itu sama sekali tidak terlihat, membuat Li Xian tidak bisa menerkanya dengan mudah. Tanpa suara dan tanpa kode, Xiao Na melenggang masuk ke dalam meninggalkan Li Xian yang terlihat bingung. Setelah itu, Li Xian pun mengikuti bos cantiknya dari belakang yang mulai menaiki evalator menuju lantai bawah. “Presdir Zhang, kenapa kita ke tempat pelatihan?” tanya Li Xian penasaran. Sebab, ia tahu kalau semalam Xiao Na telah menemukan Demo, dan itu artinya semua masalah pun akan selesai. “Aku harus bicara pada Su Yuan, karena sedikit banyak dia tahu tentang permasalahan Demo yang sedang terjadi. Dan aku sebagai pembimbing mereka, diantara banyaknya orang itu memang harus segera dilakukan. Kalau tidak, semuanya akan berakhir mengenaskan,” jawab Xiao Na dengan nada rendah. Siapapun tahu kalau wanita itu terlihat sangat marah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN