28. My Future Wife

1085 Kata
Di sebuah pemukiman apartemen mewah dengan beberapa orang yang terlihat sangat bersemangat mengawali paginya dengan sarapan pesan antar sudah sangat biasa terlihat. Bahkan tidak sedikit dari penghuni kamar apartemen lainnya memesan jasa antar-jemput laundry, untuk meminimalisir antara waktu bekerja dan mencuci pakaian. Namun, keadaan itu sangat berbeda dengan penghuni apartemen paling atas, atau dikalangan atas. Semua penampakan itu seakan sama sekali tidak memberi efek bagi penghuni apartemen tersebut. Bahkan sama sekali tidak terlihat kalau memakai jasa dari salah satu itu, kecuali memang benar-benar terdesak. Hal tersebut membuat penghuni apartemen yang sengaja menginap di sana pun sedikit bingung, sebab pagi-pagi sekali ia sudah mencium aroma wangi makanan. Tentu saja perutnya yang sejak semalaman belum memakan apapun langsung keroncongan, dan turun ke bawah. Di sana ia melihat sesosok wanita cantik yang tengah mengenakan celemek cokelat itu berdiri membelakangi dirinya. Terlihat sangat sibuk dengan sebuah masakan sederhana itu. Mungkin bukan sederhana saja, bisa dikatakan spesial saat mencium aromanya yang sampai ke lantai dua dari kamar tersebut. “Xiao Na jie, kamu sedang apa?” tanya Demo penasaran, lalu melangkah menghampiri sesosok wanita cantik yang terlihat membalikkan tubuhnya. “Mengaduk makanan untuk sarapan,” jawab Xiao Na menaruh makanan matang itu ke dua piring putih di mini bar, setelah selesai wanita itu pun menatap demo dan kembali berkata, ”Kamu duduk saja di meja makan. Nanti aku antarkan kalau sudah selesai.” Akhirnya, Demo pun menuruti perkataan Xiao Na dan kembali ke arah meja makan yang berbentuk persegi dengan empat kursi. Sangat mungil, karena wanita itu memang tinggal seorang diri. Tentu saja bukan hal mengejutkan, selain sofa yang terlihat besar dan sepasang kursi serta meja di balkon apartemen mewah tersebut. Semua yang ada di sini sangat mungil dan kecil. Tak lama kemudian, Xiao Na pun menyudahi masakannya, lalu membawa satu per satu makanan tersebut ke arah meja makan. Tentu saja Demo yang melihat hal itu langsung bangkit dan membantu bos cantiknya membawakan sarapan. Setelah selesai, Xiao Na pun duduk tepat di hadapan Demo dengan beberapa makanan yang sudah berada di atas meja. Namun, bukan itu yang menjadi perhatiannya, melainkan ia sedikit bingung melihat lelaki kecil di depannya terlihat sangat-sangat terkejut. “Kenapa, Demo? Apa ada yang salah dengan makanan ini?” tannya Xiao Na bingung menatap sarapan yang ada di atas meja. Demo menggeleng cepat. “Bukan, jie. Tapi ... kamu terlihat sangat aneh bisa memasak sarapan sebanyak ini, padahal di kantor jarang sekali makan. Bahkan untuk mengajakmu makan bersama pun harus dipaksa ribuan kali.” “Demo, apa kamu tahu kalau di kantor itu aku harus bersikap dingin dan cuek agar semua orang yang ada di sana tidak pernah meremehkanku,” ucap Xiao Na tersenyum tipis menatap wajah kebingungan Demo. “Pantas saja kalau sudah berada di kantor kamu sangat kejam, jie. Bahkan aku saja takut untuk menyapamu saat melihat tatapan dingin itu,” balas Demo sembari bergidik ngeri. Ia memang benar-benar takut jika bertemu bos cantiknya di dalam kantor. Sebab, wanita itu seakan memiliki kepribadian ganda yang mudah berubah-ubah. “Sudahlah jangan dibahas lagi. Cepat sarapan! Habis ini aku ke kantor untuk meminta Yushi menggantikan semua pekerjaanku, dan langsung bertemu dengan kedua orang tuamu,” putus Xiao Na sembari meraih sepasang sumpitnya yang berada di atas meja. Kemudian, suasana pun kembali hening dengan kedua orang itu sibuk dengan sarapannya masing-masing. Meskipun Demo sesekali memuji masakan Xiao Na, tetapi ditanggapi dengan senyuman oleh wanita itu. Karena ia memang harus mengejar waktu agar tidak terlambat. Sementara di sisi lain, Li Xian terlihat sangat kesal. Lelaki itu menatap tajam ke arah lelaki paruh baya yang terlihat sangat mirip dengan dirinya. Atau mungkin bisa dikatakan mereka kembar hanya dengan terpaut usia. Kedua lelaki itu seakan mengibarkan benderanya masing-masing. Tentu tidak ada yang mau mengalah, bahkan seorang wanita paruh baya yang sejak tadi ada di sana pun tampak diabaikan keberadaannya. “Sudahlah, Pah. Li Xian itu sudah besar. Biarkan dia mencari impiannya sendiri. Nanti kalau sudah saatnya, dia pasti bersedia untuk menjalankan perusahaan,” ucap Li Yura selaku ibu dari Li Xian. Ia berusaha meredakan emosi dari kedua lelaki itu agar tidak meledak-ledak. “Tidak! Aku akan tetap melarang dia untuk kembali ke perusahaan itu. Lagi pula untuk apa dia bekerja di sana, sedangkan dia bisa langsung menjabat sebagai direktur utama,” balas Li Tian Xin bersikeras melarang Li Xian untuk bekerja di perusahaan kecil itu. “Pah! Aku di sana bukan untuk bekerja,” elak Li Xian kesal, membuat Li Tian Xin langsung menatap anak semata wayangnya itu penasaran. “Lalu, untuk apa kamu di sana?” tanya Li Tian Xin penasaran. Sejenak Li Xian terdiam membisu. Ia mendadak tidak bisa bersuara. Padahal sejak tadi dirinyalah yang banyak suara dan tidak bisa diam. Akan tetapi, saat menyinggung hal seperti ini, otaknya mendadak tidak bisa berfungsi. “Ayo, cepat katakan!” desak lelaki paruh baya yang sangat dihormati di mansion itu. Dengan menarik napas pelan, Li Xian pun menjawab, “Aku sedang mengejar masa depanku, Pah. Tapi ... untuk sekarang aku tidak bisa memberitahu apa itu, karena yang akan aku lakukan adalah menyelesaikan dari apa yang aku awali, termasuk menyelesaikan semua pekerjaanku di perusahaanmu.” Lelaki paruh baya yang terlihat kesal itu pun mendadak diam, ia terus menatap putra semata wayangnya itu dengan tegas. Dirinya memang sama sekali tidak pernah membayangkan kalau akhirnya akan terjadi seperti ini. Sebab, Li Xian tidak pernah mengatakan hal apapun yang menyangkut pekerjaan. Dan semua itu ia dapatkan dari informasi Liu Bai yang selalu memberikan alasan Li Xian sedang ada pertemuan bisnis. Namun, lama kelamaan alasan tersebut semakin tidak masuk akal. Karena melihat kehadiran Li Xian di perusahaan besar miliknya bisa terhitung dengan jemari saja. Bahkan beberapa rapat penting pun harus terlewatkan, sehingga Liu Bai mau tak mau yang menggantikan posisi Li Xian. Sedangkan Li Yura yang mendengar alasan gamang Li Xian tersenyum tipis. Sejujurnya, sikap anak lelakinya itu mirip sekali dengan sifat suaminya saat muda dulu. Entah kenapa keras kepala menurun kental pada Li Xian yang selalu mengedepankan keputusannya dan tidak akan pernah berubah, meskipun dari berbagai sisi terlihat melarang dengan keras. “Anakku, aku memang tidak tahu apa yang kamu gapai sekarang. Tapi, sebagai seorang ibu, aku akan selalu merasakan bahwa yang kamu sedang mengejar sesuatu cukup penting. Maka dari itu, aku hanya bisa mendukungmu, Li Xian. Namun, satu yang harus kamu ingat, kalau tidak bisa diraih, maka lepaskanlah,” ucap Li Yura menatap anak semata wajahnya itu lembut. Sisi kelembutan dari ibunya itulah yang membuat Li Xian tidak pernah berkata kasar dan membangkang. Meskipun terkadang ayahnya sering kali bersikap otoriter.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN