89. Go To Competition

1059 Kata
Tidak terasa hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kini Tim N&N telah bersiap untuk berangkat menuju bandara, sebab hari ini mereka akan berangkat menuju Singapura memenuhi pertandingan yang telah diikuti kemarin. Wajah-wajah antusias sekaligus gugup tampak menyelimuti lima pemuda tampan dengan jaket hitam panjang yang membantuli tubuh kekarnya. Akan tetapi, mereka semua terlihat saling menyemangati satu sama lain. Sedangkan Xiao Na hanya memberikan beberapa instruksi pada Grunt. Sebab, lelaki yang merupakan wakil kapten harus bertindak lebih banyak memberikan arahan pada semua timnya. Karena sampai saat ini Zarco belum juga diperbolehkan untuk keluar dari rawat inap. “Grunt, apa semua paspor telah dibawa?” tanya Xiao Na meneliti satu per satu data yang telah masuk. Wanita cantik yang selama ini menjadi pemimpin Tim N&N terlihat mengenakan pakaian simple nan elegan. Ia hanya memakai celana jeans yang dipadukan dengan kaus mini crop dan mantel besar berwarna cokelat. Lalu, rambutnya tergerai pendek dengan ikat rambut yang terlihat di tangan kiri wanita itu berbentuk pita lucu. “Sudah, Jie. Aku memberikannya pada Xian Ge,” jawab Grunt menatap Xiao Na. “Baiklah. Cepat arahkan semua anak-anak untuk segera masuk ke dalam bus,” titah Xiao Na mengangguk singkat, lalu melenggang pergi untuk menghampiri Li Xian yang terlihat sedang berbincang serius dengan Yushi. Setelah dirasa cukup, Grunt pun menjauh dari kerumunan para petinggi markas. Ia menghampiri beberapa pemuda tampan yang duduk di tangga perusahaan. Mereka semua terlihat berbincang ringan menghadap sebuah mobil bus bertuliskan N&N, tentu saja huruf tersebut menjadi maskot tim sekaligus perusahaan yang sedang dikelola oleh Xiao Na. “Cepat, naik ke dalam bus!” seru Grunt setengah berteriak pada semua teman-temannya. Sontak hal tersebut membuat mereka seketika bangkit dan berlari kecil menuju bus yang terlihat sedang dipanasi. Membuat Grunt seketika menggeleng tidak percaya melihat teman-temannya bak anak kecil yang sangat antusias terhadap sesuatu. Sementara itu, Yushi yang melihat betapa sibuknya Xiao Na beberapa hari ini pun merasa sedikit prihatin. Nyatanya wanita itu sama sekali tidak mengeluh betapa lelah tubuh yang tidak ada waktu istirahat sama sekali. Bahkan ia mulai merasa kalau Xiao Na lupa merasakan lelah. Karena sejak kemarin ia selalu mementingkan semua pekerjaannya hingga tuntas. “Xiao Na Jie, aku takut kau masuk angin. Bawalah ini!” ucap Yushi menyerahkan sebuah kotak berwarna hijau yang bertuliskan ‘Obat Masuk Angin’ memang ia sedikit merasa khawatir karena Xiao Na jarang sekali memperlihatkan tubuh sakitnya pada siapa pun. “Tidak apa-apa, Yushi. Aku baik-baik saja,” tolak Xiao Na tersenyum tipis. “Bawa saja, Jie. Untuk berjaga-jaga kalau ada dari salah satu tim kau yang mendadak sakit. Apalagi perjalananmu hari ini akan sangat melelahkan,” desak Yushi agar Xiao Na tetap mau membawakan obat tersebut. Akhirnya, Xiao Na pun mengangguk singkat dan memasukkan obat tersebut ke dalam tas lengan miliknya yang tergantung di pedangan koper. Tentu saja koper yang sama dari kepulangannya dari villa waktu lalu. Sehingga ia tidak perlu bersusah payah mengemaskan semua pakaian. Hari ini Xiao Na memilih penerbangan jam 6 pagi sehingga mereka semua harus berkumpul lebih cepat di perusahaan. Mengingat kalau wanita itu sama sekali belum pulang, padahal ini sudah masuk hari ketiga tepat dirinya pulang dari villa. Sejenak Xiao Na menatap Yushi dengan mata yang menyiratkan kecemasan. Tentu saja ia tahu kalau sekretaris pribadinya pasti akan sangat kewalahan membereskan semua pekerjaan yang ada di kantor. Sehingga ia pasti akan sulit menghubungi wanita itu. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Kau jangan lupa sering mengirimkanku email perusahaan, agar aku tidak tertinggal ketika ada pemberitahuan kantor secara mendadak,” pinta Xiao Na dengan wajah serius membuat Yushi mengangguk mantap. “Tidak masalah. Aku akan mengirimkan semua email pekerjaan yang masuk karena kau harus mengobservasinya lebih lanjut, Presdir Zhang,” balas Yushi formal sembari tertawa pelan. “Baiklah,” pungkas Xiao Na melenggang pergi sembari menyeret koper putihnya dan diikuti oleh Li Xian dari belakang. Kebetulan sekali Li Xian telah menyelesaikan perbincangannya bersama Su Yuan. Bahkan lelaki itu pun sudah naik ke dalam bus meninggalkan dirinya yang masih menunggu Xiao Na selesai berbincang. Mereka berdua tampak menaiki bus secara bersamaan. Tentu saja dengan Li Xian yang membantu Xiao Na meletakkan koper besarnya ke dalam bagasi besar yang ada di bawah bus. Kemudian, keduanya mendudukkan diri di kursi yang terletak paling depan sehingga mampu melihat keadaan jalan dengan sangat jelas. Sedangkan delapan pemuda lainnya tampak menduduki satu per satu kursi yang ada di belakang. Mereka semua terlihat duduk seorang diri dengan tas punggung yang berada di sebelahnya. Tak lama kemudian, bus berwarna hitam milik perusahaan pun berjalan dengan perlahan meninggalkan Yushi yang masih menatap kepergian mereka semua dengan tersenyum sendu. Senyuman yang banyak sekali sebuah harapan. Meskipun ia tidak terlalu berharap besar mengingat sang kapten dari tim tersebut sedang dalam proses pemulihan di rumah sakit. Di dalam bus, Li Xian dan Xiao Na terlihat lebih banyak diam membuat Demo yang melihat mereka berdua pun langsung mengkode agar Mingyu melihatnya juga. Akan tetapi, lelaki itu menolak, ia jelas tidak ingin terkena masalah oleh dua orang yang sangat dirinya hormati sekaligus segani. Sedangkan Feng Zhen yang melihat interaksi antara Mingyu dan Demo pun tertawa tanpa suara membuat Grunt menggeleng tidak percaya. Aksi mereka memang benar-benar sangat berani. Karena selama ini tidak ada yang mau mengganggu keduanya jika sedang dipersatukan. Sebab, mereka semua takut kalau ada sebab dan akibat dari semua perlakukannya. Sedangkan empat orang lainnya terlihat sangat tenang sembari menatap ke arah luar jendela bus. Hari ini memang masih sangat pagi sehingga tidak banyak kendaraan yang memenuhi jalanan sehingga mereka semua bisa berangkat dengan sangat lancar, meskipun sesekali berhenti ketika berhadapan dengan lampu merah. “Nana,” panggil Li Xian pelan membuat semua yang ada di dalam bus tersebut memasang telinganya lebar-lebar. Bahkan Demo yang sejak tadi sudah penasaran pun mendekatkan telinganya pada celah kursi milik Li Xian dan Xiao Na. “Ada apa?” tanya wanita itu mengernyit bingung mendapati wajah Li Xian yang terlihat aneh. “Apa kau lapar?” tawar Li Xian memberikan beberapa makanan yang ia bawa dari mansion tadi. Xiao Na menggeleng. “Tidak perlu. Terima kasih. Aku terbiasa tidak memakan apa pun ketika di dalam kendaraan.” “Kenapa?” “Entahlah, sudah terbiasa.” Sontak Li Xian yang mendengar hal tersebut menghela napas panjang sembari menatap sepasang sepatunya bersebelahan dengan milik Xiao Na. Tanpa ia sadari kaki wanita itu terlihat mungil sekali dibandingkan dirinya. Membuat Li Xian diam-diam tersenyum geli saat melihatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN