88. Again

1017 Kata
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan dengan subway, Xiao Na pun turun di Subway Shanghai Stations. Tak lupa ia menyeret sebuah koper besar berwarna putih dengan sesekali mata minimalisnya menyusuri keadaan stasiun yang terlihat sedikit ramai daripada biasanya. Ia terlihat mencari seseorang, tetapi sayangnya orang tersebut tidak terlihat sama sekali. Padahal sudah memberi kabar pada dirinya kalau dia sudah datang beberapa menit yang lalu. Akan tetapi, kalau suasana seramai ini memang tidak akan bisa menemukan orang itu, selain Xiao Na kembali membuka layar ponselnya. Dengan kacamata hitam yang masih bertengger di hidung, Xiao Na berdiri di dekat tiang besar yang menampilkan peta dari tujuan subway di sini. Karena kebanyakan dari mereka bukanlah asli Shanghai sehingga butuh petunjuk jalan agar tidak tersesat. “Wei, kau di mana?” tanya Xiao Na terus menatap sekelilingnya tanpa henti. “Aku ada di dekat tangga naik ke atas,” jawab seseorang itu membuat Xiao Na menghela napas panjang. “Baiklah, aku tahu.” Tepat setelah mengatakan hal tersebut, Xiao Na memutuskan panggilannya dan melenggang pergi ke arah tempat yang telah disebutkan tadi. Memang sedikit sulit karena banyak sekali pekerja kantoran yang menggunakan transportasi umum untuk pergi ke mana pun. Sebab, harganya sangat murah dibandingkan menaiki bus. Sejenak Xiao Na menatap lurus ke depan dengan mata yang terus mengawas tanpa henti. Sampai ia terpaku pada seseorang yang ikut menatap ke segala arah. Tentu saja hal tersebut membuat wanita itu langsung menghela napas lega. Akhirnya, ia bisa sampai dengan selamat tanpa ada kesalahan tujuan. “Yushi!” seru Xiao Na mengangkat tangannya untuk memberi kode kepada sekretaris pribadinya yang masih setia menunggu. “Presdir Zhang,” sapa Yushi menunduk hormat, lalu tatapannya terpaku pada sebuah koper yang terasa sedikit tidak asing. “Uhm ... apa kau sama sekali belum pulang, Presdir Zhang?” “Iya. Aku langsung kemari karena aku harus mengawasi semua pekerjaan tanpa terkecuali,” jawab Xiao Na mengangguk singkat sembari memberikan koper tersebut pada sekretaris pribadinya. “Kalau kau tidak bisa melihatnya, bisa aku atau Tong Xin yang menggantikannya, Presdir Zhang,” ucap Yushi mensejajarkan langkah pada wanita itu. “Tidak. Nanti malah merepotkan kalian berdua,” tolak Xiao Na halus, lalu melenggang pergi dengan sedikit tergesa-gesa membuat beturan sepatu karet yang dikenakan wanita itu terdengar sedikit keras. “Tidak merepotkan,” sanggah Yushi tetap pada pendiriannya. Akan tetapi, Xiao Na bukanlah atasan yang kurang ajar asal menyuruh bawahannya bekerja apa pun tanpa schedule sehingga ia tidak bisa sembarangan memberi pekerjaan tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu. Apalagi selama ini ia jelas tahu, kalau perusahaan pabrikasi itu tidak akan pernah menerima tamu. Jika bukan orang tersebut yang datang. Demi meminimalisir orang-orang tidak bertanggung jawab datang merusak semuanya, sama seperti dahulu. Memang ketika Xiao Na masih sangat merintis perusahaan, ia jelas sudah menjalin kerja sama dengan baik bersama perusahaan pabrikasi kabel yang sangat maju. Bahkan pemiliknya tidak segan memberikan pekerjaan apa pun pada Xiao Na, meskipun ia adalah seorang wanita. “Sudah, sudah. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu,” sinis Xiao Na mempercepat langkah kakinya menuju parkiran subway. Yushi menghela napas pendek. “Pertimbangkanlah untuk saranku tadi. Karena ini akan sangat membantumu dalam hal apa pun, Presdir Zhang.” Namun, memang pada dasarnya Xiao Na memedulikan apa pun sehingga bujukan Yushi pun sia-sia saja. Karena selama ini ia jarang sekali bergantung pada siapa pun, kecuali urusan terdesak. Tak lama kemudian, dua wanita cantik itu pun sampai di sebauh mobil yang terlihat mewah berwarna hitam. Tentu Xiao Na yang melihatnya langsung tersenyum lebar. Karena ini jelas mobil milik perusahaan. “Yushi kita ke kantor dulu. Aku ingin menaruh koper di sana. Karena tidak mungkin aku melihat pabrik dengan membawa benda merepotkan itu,” pinta Xiao Na menunjukkan koper besarnya yang tengah dimasukkan oleh Yushi ke dalam bagasi belakang, sedangkan dirinya hanya diam melihat dengan santai. “Baiklah, Presdir Zhang,” balas Yushi mengangguk singkat, lalu memutari mobil untuk mendarat di jok kemudi. Sebab, ia datang tanpa supir sehingga pergi pun harus dengan hal yang sama. Mendengar sekretarisnya yang terdengar sangar mengerti itu pun membuat Xiao Na tersenyum puas. Ia duduk di jok penumpang sembari menyandarkan punggungnya lelah, kemudian menatap ke arah luar jendela. Kali ini bukan hawa sejuk yang ia dapatkan, melainkan bisingnya khas perkotaan. Sesekali Yushi melirik Xiao Na yang ada di belakangnya. Entah kenapa ia merasa kalau wanita itu sedikit aneh ketika datang tadi. Meskipun kemarin mereka bertiga sudah banyak sekali berbincang layaknya teman akrab. Akan tetapi, lain halnya dengan sekarang yang sudah kembali dingin bak obrolan mereka kemarin sama sekali tidak berdampak apa pun sehingga membuat Xiao Na tetap memperlihatkan sisi aslinya. “Presdir Zhang,” panggil Yushi pelan. Sejenak wanita itu hanya mengangkat alisnya sebagai jawaban. “Tidak ada. Aku hanya bingung dengan sikapmu yang berubah-ubah itu, Presdir Zhang. Nanti kau terlihat ramah, tetapi di saat yang bersamaan kau juga dingin. Sekarang aku menjadi semakin tidak mengerti dengan alasanmu melakukan hal tersebut,” celoteh Yushi tanpa ada rasa takut sama sekali. Mungkin karena ia juga sudah bercerita banyak kepada wanita itu. “Tidak perlu dimengerti karena aku juga tidak akan memerlukannya,” balas Xiao Na acuh tak acuh. “Tapi, Presdir Zhang, diantara semua percakapan kemarin. Kau jelas tidaklah sedingin ini. Bahkan kau mampu tersenyum di depan Tong Xin,” sanggah Yushi tetap penasaran pada sifat asli pada wanita itu. “Entahlah. Aku kemarin hanya merasa kalau tidak perlalu terlalu dingin sehingga aku pun berusaha untuk tetap ramah. Karena kalau tidak, Kakakku akan protes kesal,” balas Xiao Na gamblang. “Kenapa bisa seperti itu?” tanya Yushi penasaran. “Karena Xiao Wei memang tidak pernah menginginkan adiknya menanggung penderitaan apa pun. Sehingga sebisa mungkin ia melindunginya, meskipun hal tersebut telah membahayakan posisinya sendiri,” jawab Xiao Na menatap spion tengah untuk membalas tatapan penasaran dari Yushi. Sontak mendapat tatapan yang mendadak membuat bulu kuduknya meremang, Yushi pun mengalihkan ke arah lain. Jujur saja, ada tatapan yang tidak bisa membuatnya berkutik, yaitu tatapan dari seorang wanita bernama Zhang Xiao Na. Entah apa yang terkandung di dalam tatapan itu sehingga Yushi sama sekali tidak berani membalasnya. “Lantas, kenapa Presdir Zhang mau berpura-pura lebih lama lagi?” tanya Yushi skakmatt.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN