38. Problem Itself

1058 Kata
Suasana malam itu kian mencekam hingga pagi tiba. Biasanya, semua orang yang ada di mansion ini selalu berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama. Akan tetapi, kini Xiao Na hanya melihat kakaknya yang ada di sana tanpa ada seorang pun lagi. Tentu saja wanita itu langsung merasa sangat penasaran. Kemana perginya semua orang? Padahal ini jelas sudah pagi, dan waktunya melakukan aktivitas. “Kak, kemana semua orang?” tanya Xiao Na mendudukkan diri tepat di hadapan Xiao Wei, lalu meraih sepasang sumpit yang ada di sampingnya. Xiao Wei yang melihat adiknya sudah rapi pun tersenyum. “Pagi.” “Pagi,” balas Xiao Na menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, lalu menatap sang kakak yang masih belum menjawab pertanyaannya. “Kak, kamu mengabaikanku?” “Tidak, Nana. Aku juga tidak tahu kemana perginya mereka, karena sewaktu aku sampai di sini sudah tidak ada,” jawab Xiao Wei tersenyum lebar, lalu memberikan kuning telur miliknya kepada Xiao Na. Hal tersebut membuat wanita yang berpakaian rapi itu langsung memberikan piringnya, lalu tersenyum senang ketika melihat bagian kesukaannya selalu Xiao Wei berikan. Seakan kakaknya sudah sangat hafal. “Oh ya, semalam aku melihat Qianqian jie berada di dapur,” ucap Xiao Na mulai membuka percakapan pagi. Karena tidak ada orang tuanya di sini membuat wanita itu dengan leluasa mengatakan apapun tanpa harus memedulikan keberadaan mereka. “Iya, semalam dia tidak enak badan, jadi aku buatkan bubur. Sekarang dia lagi istirahat,” balas Xiao Wei menyudahi makannya, lalu mengusap mulutnya menggunakan tisu yang ada di atas meja. Kemudian, menatap Xiao Na yang masih sibuk menyantap sarapan dengan sangat nikmat. Entah kenapa hal tersebut membuat Xiao Wei sangat rindu. Karena ia dan adiknya memang sudah sangat jarang sarapan bersama seperti saat ini. Tentunya sejak Xiao Na pergi dari mansion yang hampir saja menggemparkan seluruh Kota Shanghai. Sebab, pada saat itu dirinya sedang melakukan resepsi pernikahan sehingga tidak ada yang tahu ketika wanita itu pergi. “Makanya, Kak, kalau punya istri itu dijaga bukannya diajak keliling kota malam-malam. Sudah tahu sedang hamil, kau malah mengajaknya pergi,” omel Xiao Na kesal, lalu menandaskan s**u miliknya. “Jangan lupa kau buatkan sarapan, dan berikan s**u kedelai milikku yang ada di kamar.” “Iya, Nana. Kenapa kau cerewet sekali melebihi suaminya sendiri.” Xiao Wei tertawa pelan melihat wajah kesal milik adiknya yang sudah lama tidak ia lihat. “Baiklah. Kalau kau tidak mau, aku siap menjadi suami Qianqian jie. Lagi pula aku mampu menghidupinya secara finansial,” sahut Xiao Na sombong seakan dirinyalah yang paling kaya di sini. “Oh, wow! Kau sangat sombong, Nana,” ejek Xiao Wei mencibir pelan, lalu bangkit dari tempat duduknya sembari memakai jas miliknya lagi. Kedua kakak beradik itu pun meninggalkan ruang makan bersama-sama sembari sesekali melontarkan ejekan satu sama sekali. Seakan sudah lama sekali mereka tidak bersikap seperti itu hingga membuat para pelayan lama yang ada di mansion menatap mereka berdua dengan tersenyum penuh haru. Memang keadaan mansion terlihat lebih berwarna dengan kehadiran Xiao Na yang mampu menghidupkan suasana. Namun, tetap saja wanita itu mempunyai masalah tersendiri di tempat ini sehingga membuatnya muak untuk berada lebih lama. Sesampainya di garasi, Xiao Na menjatuhkan pilihannya pada sebuah mobil yang pernah ia bawa ke acara pesta kala itu. Membuat Xiao Wei tersenyum tipis, lalu memasuki mobil berwarna hitam yang sudah sering kali ia bawa ke kantor. Keduanya pun meninggalkan mansion secara bersamaan dengan arah yang berlawanan. Tentu saja hari ini Xiao Wei berniat melakukan kunjungan diberbagai tempat untuk memperluas kerajaan bisnisnya sehingga tidak bisa menemui Xiao Na selama beberapa waktu ke depan. Namun, Xiao Na yang mengetahui kakaknya sangat pekerja keras pun hanya menurutinya saja. Lagi pula ia tidak akan bisa melarang pada seorang lelaki yang merupakan dambaan bagi kedua orang tuanya. Sayang sekali, memikirkan hal tersebut membuat d**a Xiao Na menjadi bergemuruh kesal. Ia marah pada keadaan yang membuat dirinya tidak bisa berkutik. Tak lama kemudian, wanita itu pun sampai di sebuah gedung mewah nan megah berdiri menjulang tinggi dengan beberapa lantai di atasnya, dan beberapa lantai bawah tanah yang dikhususkan untuk para trainee e-sport miliknya. Wanita itu pun memarkirkan mobil miliknya di dekat elevator pribadi untuk para petinggi perusahaan. Kemudian, Xiao Na membenarkan penampilannya sejenak, sebelum akhirnya ia turun, lalu menaiki benda yang merangkak naik menuju lantai ruangannya. Di dalam, Xiao Na hanya diam sembari sesekali menatap ke arah tulisan yang mulai berubah-ubah menuju lantai tujuannya. Tak lupa benda itu berdenting pelan menandakan bahwa sudah sampai. Kemudian, Xiao Na pun melihat banyak sekali karyawan yang baru saja datang, tetapi mereka sudah kembali berkutat dengan pekerjaan. Akan tetapi, dahi wanita itu langsung berkerut bingung melihat meja sekretarisnya yang terlihat sangat berantakan seakan ada orang yang baru saja mengacak-acak tempat itu. Hal tersebut membuat Xiao Na langsung mendekat, lalu menatap kertas-kertas tersebut dalam diam. Namun, perhatiannya langsung teralihkan pada suara yang berada dari pintu ruangannya, membuat wanita itu meletakkan kembali kertas tersebut, dan melenggang pergi mendekati pintu ruangannya sendiri yang terlihat seorang wanita cantik baru saja keluar dengan keadaan sangat kacau. “Yushi, kau kenapa?” tanya Xiao Na terkejut melihat penampilan sekretarisnya yang biasa terlihat sempurna, kini berubah drastis menjadi seorang gembel di jalanan. Yushi sangat terkejut melihat bosnya sudah datang. “Aiya, kau sudah datang, Presdir Zhang?” tanyanya sembari membungkukkan tubuh penuh hormat. “Baru saja tiba, dan aku langsung terkejut melihat keadaanmu sangat kacau,” jawab Xiao Na benar-benar tidak habis pikir pada seorang Gao Yushi yang biasanya perfeksionis mendadak menjadi tidak peduli dan acuh tak acuh. “Ah, ini? Maafkan aku, Presdir Zhang,” sesal Yushi mengusah tekuknya yang tidak gatal, lalu kembali berkata, “Sebenarnya, aku hanya ingin membereskan berkas yang sudah seharusnya diarsipkan. Kebetulan sekali hari ini kita tidak mempunyai jadwal yang sibuk sehingga aku harus mengekspor berkas-berkas itu ke Departemen Arsip.” Sejenak Xiao Na mengangguk pelan. “Kalau begitu, jangan lupa kau ganti pakaian, Yushi. Keadaanmu benar-benar menjatuhkan harga dirimu sebagai sekretarisku.” Yushi yang melihat penampilannya sendiri pun hanya meringis pelan. Ia memang tidak sempat berganti tadi sehingga dengan terpaksa melakukan pembersihan dengan berpakaian seperti ini. “Baiklah, Presdir Zhang,” balas Yushi mengangguk mantap. Setelah itu, Xiao Na pun melenggang pergi sembari menggeleng tidak percaya. Sebenarnya, ia ingin sekali tertawa tadi, tetapi mengingat situasi ini masih di kantor mau tak mau Xiao Na hanya bisa tertawa dalam hati. Terlebih ini pertama kalinya ia melihat keadaan Yushi sangat kacau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN