Xiao Na benar-benar tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya yang tega menjodohkan dirinya pada seorang lelaki b******n. Tentu saja dirinya tidak akan pernah melupakan tentang kejadian penuh emosional itu, saat menghadiri acara pertunangan Han Siyang. Bahkan ia masih ingat jelas bagaimana ekspresi b******n lelaki sialan itu, ketika melihat dirinya dengan pandangan rendah.
Siapa pun pasti akan menyangka kalau Xiao Na adalah wanita yang hanya menyukai harta. Nyatanya, itu semua salah besar. Wanita cantik nan anggun itu sama sekali tidak menyukai kekayaan. Pikirnya, untuk apa menjadi kaya, kalau pada akhirnya semua hanyalah sia-sia. Meskipun sampai saat ini pun Xiao Na masih tidak percaya kalau dirinya masuk ke dalam jajaran perusahaan terpandang di Shanghai.
Kini wanita yang terbaluti gaun cantik itu pun mendudukkan diri di sandaran sofa sembari memijat pelipisnya penuh lelah. Sedangkan pasutri yang ada di hadapannya menatap Xiao Na datar, tanpa ekspresi sama sekali. Seakan Zhang Xiao Na baru saja melakukan kesalahan.
“Xiao Na!” panggil Zhang Rou Nan dengan nada sedikit membentak, lalu melipat kedua tangannya kesal sembari menatap anak perempuannya tajam. “Kau benar-benar tidak sopan.”
Sejenak Xiao Na menurunkan tangan kanannya dari kepala, lalu termenung mendengar perkataan ibunya. Ia sama sekali tidak percaya kalau wanita yang melahirkannya akan bersikap seperti itu, setelah mendengar penjelasan dirinya. Namun, sampai kapan pun Xiao Na tidak akan pernah terbuka pada mereka berdua. Karena tidak ada untungnya juga.
Kini Zhang De Nan tampak menghela napas pelan melihat keterdiaman anak perempuannya yang mulai beranjak dewasa, ralat sudah sangat dewasa. Bahkan wanita itu mampu membina rumah tangga sendiri. Akan tetapi, sampai sekarang Xiao Na masih betah melajang dengan segudang pekerjaan di kantor yang tidak ada habisnya.
Seulas senyum miring dari Xiao Na terbit. Wanita itu terlihat ingin mentertawakan perkataan ibunya sendiri. Padahal sama sekali tidak terdengar lucu.
“Apa yang kau bilang? Aku tidak sopan? Oh, baiklah. Aku memang seperti itu,” balas Xiao Na datar, tetapi tidak dengan hatinya yang mulai terasa perih. Seakan ada pisau tajam yang menyayat-nyayat hati miliknya tanpa ragu.
Mendadak Zhang Rou Nan yang mendengar perkataan Xiao Na pun murka. Wanita awet muda itu terlihat bangkit dari sofa, lalu menatap anak perempuan satu-satunya dengan wajah kesal sekaligus marah. Tentu saja sang suami yang melihat hal tersebut langsung menarik kembali tangannya, agar terduduk di tempat semula.
“Kau memang tidak tahu diri, Xiao Na!” bentak Zhang Rou Nan marah.
“Ma, Pa, aku capek,” ucap Xiao Na bangkit dari tempat duduknya, lalu kembali berkata, “Sebenarnya, yang tidak sopan itu dia bukan aku.”
Setelah mengatakan itu, Xiao Na pun melenggang pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua paling pojok. Karena hal yang paling menyebalkan di dunia ini adalah tanggal bersama kedua orang tuanya dengan segala kemarahan tidak berasal itu. Padahal sejak tadi dirinya tidak melakukan apapun, selain melemparkan senyum tipis pada orang tua dari lelaki yang sangat ia kenali tadi.
Sedangkan Zhang Rou Nan yang melihat hal tersebut benar-benar menjadi sangat murka. Bahkan wajah wanita itu langsung memerah padam menahan teriakan yang akan terdengar bagi seluruh penghuni mansion besar itu.
Tanpa ada yang menduga, sejujurnya Xiao Na sudah menitikkan air matanya dalam diam. Seiring kakinya yang melangkah menaiki satu per satu anak tangga tersebut. Padahal pandangan wanita itu sudah mengabur, akibat air mata yang mulai menggunung di pelupuk mata. Namun, tidak akan membuat Xiao Na memedulikannya. Wanina itu tetap melangkah naik.
Sementara itu, pintu besar utama mansion pun kembali terbuka. Terlihat sepasang suami-istri yang masih sangat muda masuk ke dalam sembari membawa beberapa paper bag di tangannya. Kemudian, ketika kedua menoleh, seketika langsung terkejut.
“Pah. Mah, sedang apa kalian berdua di sini?” tanya Xiao Wei mendekat ke arah kedua orang tuanya, sedangkan Chen Qianqian melenggang ke atas terlebih dahulu sembari membawa belanjaan tersebut.
“Kami baru saja pulang dari acara perjodohan Xiao Na,” jawab sang ayah datar, tetapi tidak dengan Xiao Wei yang benar-benar terkejut.
Tentu saja menurut pemahamannya selama ini, arti perjodohan yang sebenarnya itu bukanlah menyatukan antara dua anak manusia berbeda jenis kelamin untuk mendapatkan sebuah hubungan erat, melainkan sebuah pemaksaan agar diantara mereka mendapatkan keuntungan.
Sejenak, Xiao Wei yang mendengar hal tersebut pun mendadak emosi, lalu mengepalkan tangannya kuat. “Pah, apa kamu tidak tahu? Selama ini Xiao Na sudah menderita dengan permintaan gilamu itu.”
Mendengar hal tersebut, Zhang Rou Nan yang sejak tadi emosi pun mendadak bingung menatap anak sulungnya. “Apa yang Xiao Na katakan padamu? Kenapa kau ikut tidak sopan seperti dia?”
Xiao Wei mendengus pelan. Bahkan orang tua yang mengandungnya saja tidak peduli. Bagaimana bisa orang di luar sana akan menghormati adiknya.
“Mah, dia itu adikku.”
“Aku menyesal telah melahirkan dia,” ucap Zhang Rou Nan tanpa beban.
Namun, hal tersebut malah membuat emosi Xiao Wei semakin menjadi-jadi. Untung saja lelaki itu masih waras dan masih mengingat dirinya sudah berada di dalam mansion. Kalau tidak, tempat ini mungkin sudah tidak lagi terbentuk, terlebih kedua orang yang ada di hadapannya adalah orang tuanya sendiri.
“Aku tidak peduli kamu menyesal atau tidak, tapi yang jelas Xiao Na adalah adikku. Siapa pun tidak akan ada yang bisa menyakitinya, termasuk orang tuanya sendiri,” balas Xiao Wei dengan nada rendah. Menyiratkan bahwa lelaki itu benar-benar kesal.
Mungkin malam ini adalah malam terakhir Xiao Wei membiarkan orang tuanya melakukan hal semena-mena pada Xiao Na. Karena selama ini dirinya memang tidak pernah tahu, dan hanya mendengar dari cerita adiknya yang selalu merasa tidak betah ketika berada di mansion.
Kini Xiao Wei mendadak merasa sangat bersalah. Tentu sebagai seorang kakak, peran dirinyalah yang begitu besar menghadapi betapa kejamnya orang tua dari mereka berdua. Padahal selama ini, Xiao Wei pikir orang tuanya telah membiarkan Xiao Na meraih hidupnya sendiri. Akan tetapi, dugaan dirinya salah, mereka tidak akan pernah bisa melepaskan adiknya sama sekali.
“Apa kamu bilang, Xiao Wei!?” seru Zhang Rou Nan terkejut. “Kenapa kamu seperti itu?”
“Ma, kenapa kamu memperlakukan Xiao Na seperti itu? Apa dia mempunyai kesalahan? Aku akan bicara dengannya, agar kalian bisa bersikap adil antara aku dan Xiao Na.” Xiao Wei menatap Zhang Rou Nan frustasi.
Bukannya terdiam, Zhang Rou Nan malah tersenyum sinis. “Tentu saja kau dengan dia berbeda, Xiao Wei. Karena kalian berdua bukanlah dari rahim yang sama.”
Bagaikan disambar petir di siang bolong, kedua tangan Xiao Wei mendadak dingin sekaligus gemetar mendengar perkataan ibunya sendiri. Otaknya seakan membeku untuk memikirkan hal-hal yang tidak terduga itu.
“Apakah benar yang dikatakan itu, Pah?” tanya Xiao Wei pelan sembari menatap sang ayah yang masih terdiam menunduk.