Banyak yang mengira menjadi anak perempuan satu-satunya di ZhangZhang Group menjadikan Xiao Na dimanja dan disayangi oleh kedua orang tuanya. Bahkan mereka yang tidak mengetahui kebenarannya itu pun pasti akan mengira kalau wanita itu hidup dengan bergelimangan harta.
Namun, tidak ada yang menyangka kalau Xiao Na-lah selama ini penggerak bagi rezeki kedua orang tuanya. Wanita itu melakukan hal menjijikkan yang sama sekali tidak sangka siapapun. Tentu saja ia melakukan itu hanya demi memenuhi keinginan kedua orang tuanya, agar perusahaan perbankan mereka menjadi yang terkuat diantara perbankan lainnya.
Bahkan tidak urung menjadikan satu-satunya asset berharga mereka untuk dikonsumsi siapapun. Sayangnya, Xiao Na tidak sebodoh itu sampai harus melayani semua yang disuruh oleh kedua orang tuanya. Ia harus tetap mempertahankan kehormatannya sebagai seorang wanita sekaligus menunggu seseorang yang datang dari masa lalunya.
Namun, realita memang tidak seindah ekspetasi. Kini sudah tepat ke sepuluh tahun Xiao Na menunggu lelaki itu, tetapi sampai sekarang ia sama sekali tidak bisa menemukannya. Padahal janji mereka dulu akan kembali setiap setahun sekali. Akan tetapi, lagi-lagi janji itu malah menampar Xiao Na pada kenyataan yang pahit. Ia harus kembali memperjuangkan haknya sebagai seorang anak bukan benda milik orang tua.
Sayangnya, sekuat apapun Xiao Na melawan, ia tetaplah hanya seorang putri cantik dari kerajaan bisnis ZhangZhang Group. Memang tidak akan ada yang bisa mengganggu gugat dalam hal apapun. Sebab, dirinya pernah nekat mengganti kewarganegaraan sekaligus nama miliknya secara hukum, tetapi hal tersebut digagalkan oleh pengacara orang tuanya yang datang diwaktu tepat sehingga Xiao Na tidak bisa melakukan hal tersebut, dan menjadikan dirinya sebagai pribadi yang lebih dikekang lagi.
Akan tetapi, kekangan itu memang tidak berlangsung lama. Tepatnya saat Xiao Wei menikah, dan kedua orang tuanya mulai melonggarkan pengawasan. Sehingga Xiao Na pun kabur dari rumah, lalu menjadikan dirinya sampai sejauh ini. Meskipun pada akhirnya ia memang tidak akan pernah bisa lepas dari marga Zhang.
Kini seorang wanita cantik bersurai panjang hingga sepunggung itu tampak mematut dirinya di depan cermin besar yang ada di salah satu butik ternama di Kota Shanghai. Wanita itu terlihat menatap dirinya sendiri datar, tetapi tidak dengan wajahnya yang mulai dirias oleh dua orang perias wajah.
“Kau sangat cantik, Xiao Na jie,” puji salah satu wanita itu dengan tersenyum lebar.
Akan tetapi, Xiao Na hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Karena percuma saja mempunyai wajah cantik seperti ini, kalau hanya dijadikan umpan oleh kedua orang tuanya.
“Kau sangat beruntung mempunyai orang tua seperti Tuan Besar Zhang,” celetuk salah satu wanita yang baru saja memasuki ruangan sembari membawa sepasang high heels berwarna silver. Terlihat sangat cantik.
“Benar! Aku bahkan iri padamu, jie. Kau bisa seberuntung itu,” keluh pegawai wanita yang tengah sibuk memoleskan beberapa sentuhan pada wajah mulus Xiao Na.
“Ah, rasanya aku ingin dilahirkan kembali menjadi sepertimu, jie,” gumam wanita pembawa high heels sembari berjongkok memakaikannya pada sepasang kaki lentik milik Xiao Na.
“Kalau bisa bertukar, mungkin aku akan lebih baik menjadi seperti kalian,” ucap Xiao Na pelan, tetapi tetap bisa terdengar oleh ketiga wanita itu dengan sangat jelas.
“Lho, kenapa jie? Bukankah kau merasa sangat bahagia?” tanya wanita imut itu dengan terus memoleskan tipis blush on pada kedua pipi Xiao Na yang terlihat berisi.
“Entahlah. Aku bahkan lupa caranya bahagia,” jawab Xiao Na tersenyum tipis, lalu bangkit dari tempat duduknya membuat ketiga wanita itu terkejut. “Aku rasa ini sudah cukup, aku tidak ingin dipertebal lagi. Terima kasih.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Xiao Na pun melenggang pergi sembari membawa dompetnya. Tentu saja ketiga pegawai wanita itu hanya bisa menghela napas pelan menatap kepergian Xiao Na yang sudah menaiki salah satu taksi.
“Xiao Na jie memang selalu seperti itu, dia tidak terlalu suka dengan wajahnya yang dipoles lebih banyak,” celetuk salah satu dari pegawai wanita itu, lalu mulai melenggang pergi mengerjakan pekerjaannya masing-masing.
Sementara itu, di sisi lain Xiao Na yang sudah menaiki mobil menuju tempat tujuan pun kembali memeriksa wajahnya. Memang tidak terlalu buruk, tetapi ini cukup merepotkan. Sebab, wanita itu harus menghilangkan beberapa sentuhan make up yang tidak ia sukai, termasuk pada bagian kelopak matanya.
Entah kenapa Xiao Na merasa kalau bagian itu terlihat lebih menonjol. Padahal wajah dirinya sangat kental dengan wajah Asia. Bahkan bisa dikatakan ia sama sekali tidak memiliki wajah seperti orang Mandarin kebanyakan. Meskipun dirinya memiliki bibir yang sangat kecil dengan tubuh proposional.
“Shifu, tolong diperlambat sebentar. Aku ingin memperbaiki riasanku dulu,” pinta Xiao Na pada supir tua yang ada di kemudi.
“Baik, xiao jie,” balas supir tersebut, dan mulai mengambil jalur khusus lambat.
Xiao Na yang melihat hal tersebut langsung tersenyum tipis, dan mulai membuka dompet miliknya. Tentu saja dirinya sudah siap sedia dengan beberapa alat riasan di sana, termasuk pembersih wajah yang selalu berada di dalam sana.
Tak lama kemudian, taksi tersebut pun sampai di sebuah hotel yang cukup mewah dengan gemerlap lampu dari air mancur. Sepertinya, lampu dan air mancur besar itu maskot dari hotel ini. Sebab, ketika Xiao Na sampai di dalam, ia melihat banyak sekali lambing-lambang air yang menghiasi dinding ataupun langit-langit hotel.
Namun, wanita itu langsung melenggang pergi ke arah restoran mewah yang ada di sana. Anehnya di sana terlihat sangat sepi, padahal ketika di depan tadi cukup ramai. Sangat tidak mungkin kalau pengunjung tidak datang ke sini.
Tatapan wanita itu pun mengarah pada sepasang pasutri yang terlihat berbincang dengan seorang lelaki. Akan tetapi, ia sama sekali tidak melihat keanehan di sana. Padahal sedari tadi dirinya sangat menginginkan kekacauan malam ini. Karena ia memang butuh sebuah pelampiasan.
Dengan menghela napas panjang, Xiao Na pun masuk ke dalam, lalu melemparkan senyuman singkat pada kedua orang tuanya. Tentu saja akting menjadi anak yang patuh, baik, dan penurut selalu menjadikan Xiao Na paham akan kemauan orang tuanya.
“Wah, kamu sudah datang, Xiao Na?” tanya Zhang De Nan tersenyum lebar menatap anak perempuannya yang terlihat sangat cantik.
Xiao Na hanya tersenyum tipis, lalu mendudukkan diri tepat di depan kursi kosong. Entah kenapa ia merasa bingung dengan situasi seperti ini. Sangat di luar dugaan dirinya.
“Ini yang namanya Xiao Na, ya? Sudah besar,” puji seorang lelaki yang terlihat tidak asing bagi Xiao Na.
Lagi-lagi Xiao Na hanya melemparkan senyumannya. Karena ia memang tidak tahu harus bersikap apa kali ini.
“Maafkan aku, sepertinya kita harus menunggu lagi,” sesal lelaki paruh baya yang duduk tepat di depan Zhang De Nan.
“Tidak apa-apa, Lao Jiang. Lagi pula Xiao Na juga baru datang,” balas Zhang Rou Nan tertawa pelan.
Namun, tidak sampai beberapa menit, terlihat ibu dan anak lelaki masuk ke dalam restoran ini. Mereka berdua mengalihkan perhatian Xiao Na yang sejak tadi menatap ponselnya. Wanita itu terlihat menganga tidak percaya.
“Kau!”