86. Xing Ba

1003 Kata
Tidak banyak yang Xiao Na habiskan di villa keluarganya, selain banyak bersantai di kamat dan menonton film. Karena tidak ada yang bisa ia lakukan lagi, selain hal tersebut. Tentu saja sang membosankan, apalagi selama ini Xiao Na terbiasa melakukan hal-hal yang begitu sibuk sehingga tidak jarang ia lebih memilih untuk berdiam diri di kamar tanpa diganggu oleh siapa pun. Sayangnya, hal tersebut harus Xiao Na kubur dalam-dalam. Sebab, tak lama setelah menyelesaikan panggilan dengan dua karyawan wanitanya. Xiao Wei tanpa rasa bersalah sama sekali mengajak adiknya untuk berkebun. Mungkin banyak yang mengira kalau Xiao Na akan menolaknya, tetapi wanita itu malah sangat antusias. Bahkan ia dengan sangat exited rela mengeluarkan pakaian-pakaian mahalnya hanya untuk berkotor-kotoran di kebun. Kini ia sudah terlihat sangat siap dengan sepatu boot dan jaket merah dengan kaus hitam sebagai dalamannya. Bahkan wanita itu memegang sebuah sekop kebun beserta ember kecil sembari menatap sang kakak yang masih sibuk mencari sepatunya. Padahal sejak dulu ia sudah memperingatkan kalau selesai dipakai seharusnya di tempatkan yang benar. Akan tetapi, Xiao Wei selalu saja seenaknya sendiri sehingga tidak jarang banyak sekali barang yang hilang hanya karena lelaki itu. Xiao Na pun mengakui kalau kakaknya lebih baik tidak pernah memakai apa pun daripada harus hilang tanpa jejak. Akhirnya, lelaki yang kehilangan sepatu boot-nya itu pun memutuskan untuk memakai sandal jepit saja. Tentu dengan beberapa perdebatan singkat antara kakak beradik itu. “Ge, kalau sudah tahu barang pada hilang itu seharusnya diletakkan lebih rapi lagi. Aku malas kalau mendengar kau menghilang sepatu lagi,” celetuk Xiao Na sedikit menyindir. “Benar itu, Suamiku. Kau selalu saja membuat kita berdua menunggu terlalu lama,” timpal Chen Qianqian tertawa geli melihat semakin kusut wajah Xiao Wei. Tentu saja tidak ada yang merasa bahagia ketika barangnya hilang. Pasti semua akan merasa sedikit kecewa. Setelah itu, ketiganya pun melenggang pergi ke arah kebun kecil yang ada di belakang villa. Tentu saja di sana sudah banyak pekerja terlihat menanam beberapa bibit buah yang biasa mereka tanam hingga hari libur bisa dipanen. Xiao Na berlari kecil menghampiri mereka semua. Ia jelas sangat mengenal para ibu-ibu yang sedang bercocok tanam itu. Karena pada situasi tertentu dirinya sering kali datang ke sini meskipun hanya untuk mengistirahatkan tubuh saat perjalana bisnis. “A yi, hao!” sapa Xiao Na tersenyum lebar ke arah merek semua, lalu iku bergerumul mengambil bibit tanaman yang sudah di wadahkan dengan plastik bag. Sontak semuanya tersenyum lebar ke arah Xiao Na, lalu menjawab secara serempak, “Ni hao, Nana!” “Apa kau datang sendirian?” tanya salah satu ibu-ibu bertopi cokelat. “Tidak. Aku bersama Kakakku ke sini,” jawab Xiao Na menggeleng pelan. Jelas perbedaan terlalu mencolok pada seorang Zhang Xiao Na yang kini sangat ramah pada siapa pun, sedangkan ketika berada di kantor ia bagaikan harimau yang siap menerkam siapa pun ketika ada seseorang mendekatinya. Namun, Xiao Na melakukan hal tersebut bukan semata-mata ingin menjadi dingin, melainkan ia harus tetap menjaga perilaku sebagai pebisnis andal agar tidak ada yang bisa mempermainkannya. Karena di dalam dunia bisnis justru lebih kejam daripada arena peperangan. Siapa pun bisa mengkhiatani kalau tidak selalu waspada. Bahkan ada salah satu pepatah mengatakan, ‘Tidak ada yang abadi di dunia ini. Teman yang dianggap baik pun bisa menusuk dari belakang.’ Dan hal tersebut memang benar adanya, karena Xiao Na pernah merasakan yang namanya dikhianati oleh seseorang. Akan tetapi, bukan dari kalangan bisnis, melainkan masa lalu yang entah kapan harus berakhir. Karena semua jelas berjalan bukan pada semestinya hingga Xiao Na merasa kalau masa lalu yang ia bayangkan memang tidak akan pernah bisa berakhir bahagia. “Wah, kau istri Xiao Wei. Benar, ‘kan?” tebak salah satu wanita paruh baya yang mengenakan slayer berwarna merah di lehernya. “Iya, benar, A yi,” balas Chen Qianqian mengangguk singkat, lalu mengulas senyum sopan pada sekumpulan ibu-ibu yang jarang sekali ia lihat. “Aku tidak tahu kalau Xiao Wei akan menjadi seorang ayah,” celetuk wanita paruh baya lainnya. “Benarkah? Apa kau siap menjadi ayah, Xiao Wei?” goda seorang wanita paruh baya bertopi cokelat yang menyapa Xiao Na tadi. “Tentu saja aku siap,” jawab Xiao Wei mantap diselingi dengan tawa kecilnya. “Bagus itu! Kau jangan hanya senang membuatnya saja,” sahut ibu-ibu lainnya membuat Xiao Na tertawa lepas. Suasana seperti inilah yang sering Xiao Na rindukan. Apalagi ketika dirinya sudah berada di tengah perkotaan. Mungkin bercocok tanam rasanya sudah tidak ada tempat lagi. Karena sudah digantikan oleh gedung-gedung pencakar langit dengan beton-beton jalan yang selalu menghiasi banyak tempat. Sangat tidak mungkin bukan bercocok tanam melalui beton, sedangkan menaham pohon dengan di atasnya di lapisi beton saja akar tidak sanggup untuk menahannya. Sehingga tidak sedikit pohon tumbang dengan alasan tidak mampu menembus banyak tanah di bawahnya. Miris sekali memang melihat bumi yang dulunya sangat asri mulai berubah menjadi perkotaan. Yang mungkin akan membahayakan diri sendiri. Karena apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. “Nana, A yi tidak tahu kalau kau sudah secantik ini. Apa orang tuamu sudah meminta kau menikah?” tanya wanita paruh baya bertopi cokelat. Diantara banyak ibu-ibu lainnya, Xiao Na memang lebih dekat dengan wanita paruh baya bertopi cokelat. Karena beliau adalah orang pertama yang menjadi pekerja di villa keluarganya. Tentu sejak Xiao Na masih sangat kecil sehingga tidak jarang mereka berdua menghabiskan waktu bersama ketika libur sekolah tiba. “Sudah, A yi. Tapi, aku memang belum ingin berhubungan dengan siapa pun, jadi Mama dan Papaku hanya menjodohkan ke banyak pria. Sayangnya, aku sama sekali tidak tertarik dengan mereka,” jawab Xiao Na lesu membuat Xiao Wei langsung mencibir pelan. “Oh ya, aku lupa kalau Nana di sini memang dekat pada siapa pun, jadi kita jangan merasa terlupakan, Istriku.” Sedangkan Xiao Na yang mendengar cibiran itu hanya mendengkus sinis. “Tentu saja aku akan mengabaikan kalian berdua yang selalu saja bersikap romantis ketika di depanku. Padahal aku sendiri yang melihatnya saja sudah mual.” “Baiklah, kalau itu maumu, Nana,” putus Xiao Wei merenggut kesal melihat adiknya yang semakin berulah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN