85. Traumatic

1129 Kata
Seketika Xiao Na yang mendengar hal tersebut langsung bangkit meninggalkan kedua kakaknya. Tentu saja mereka berdua saling berpandangan bingung melihat adik yang selama ini terkenal dingin dan acuh tak mulai peduli pada sekretaris sekaligus teman yang sebenarnya tidak dekat-dekat sekali. “Sebentar, aku sedang menuju kamar,” ucap Xiao Na menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai paling atas. Tentu saja bersebelahan dengan sang kakak yang berada tepat di depan kamar miliknya. Namun, sepasang suami istri itu tengah menikmati waktu bersantai di ruang keluarga sehingga Xiao Na pun memilih untuk pergi sana dari sana. Kebetulan sekali dua sekretarisnya ingin bercerita sehingga membuat ia mempunyai alasan untuk segera memisahkan diri. “Baik, Jie. Kita juga melihat kau sedang berjalan,” balas Tong Xin tersenyum geli. Sesampainya di depan pintu kamar, Xiao Na pun mencari kunci yang ia bawa dari apartemen. Sebenarnya bisa saja ia tidak membawa kunci sendiri, sebab di sini masih ada kunci cadangan. Akan tetapi, Xiao Na jelas ingin cepat beristirahat sehingga ia malas untuk mengambil kunci yang berada di garasi mobil. Setelah itu, Xiao Na meletakkan kopernya di sudut ruangan diikuti dengan mantel yang ia gantung di tempat khusus gantungan tas maupun mantel. Sebelum mendengarkan cerita, ia ingin membersihkan kamarnya terlebih dahulu sehingga Xiao Na meletakkan ponselnya di atas nakas membuat Yushi dan Tong Xin seketika bisa melihat keadaan kamar milik bosnya yang sangat rapi. “Jie, berapa lama kau akan menginap di sana?” tanya Yushi penasaran melihat koper Xiao Na yang tidak terlalu besar. “Hanya untuk hari ini saja,” jawab Xiao Na sembari membuka jendela kamar yang cukup besar, lalu mengambil ponselnya kembali. Xiao Na berniat untuk duduk di jendela saja mendengarkan cerita dua gadis itu, sebab keadaan kamarnya jelas terasa sedikit pengap karena jarang di tempati sehingga ia pun harus memasukkan sedikit udara ke sana. “Apa yang ingin kalian berdua ceritakan?” tanya Xiao Na menatap layar ponselnya serius. Tong Xin pun langsung menatap layar bersamaan dengan Yushi yang meringis pelan. “Sebenarnya, tidak terlalu serius, Jie. Hanya saja aku ingin bercerita masalah perjodohanku kemarin.” Seketika Xiao Na mengernyitkan keningnya bingung mendengar penuturan Yushi. “Apa tidak berjalan lancar?” “Tentu saja berjalan lancar, tapi aku merasa kalau orang tuaku sedikit memaksa agar aku cepat menikah dengannya. Padahal aku saja sama sekali belum menyukai lelaki itu,” jawab Yushi lesu. “Memangnya siapa yang dijodohkan padamu?” tanya Xiao Na penasaran. “Teman kuliahku, tapi berbeda jurusan,” jawab Yushi menyandarkan kepalanya pada bahu Tong Xin seakan ia benar-benar lelah menjalani semua ini tanpa ada yang bisa diduga. “Bukankah itu bagus?” sahut Xiao Na semakin tidak mengerti. Tong Xin yang sejak tadi diam pun mulai bersuara. “Sebenarnya, alasan Yushi Jie tidak menyukai lelaki itu adalah teman kuliahnya sendiri. Mungkin rasanya akan sedikit aneh.” “Oh, aku mengerti. Jadi, Yushi belum bisa menerima keadaan tentang teman kuliahnya yang datang melakukan perjodohan?” Xiao Na menatap serius. “Iya,” jawab Tong Xin mengangguk pelan sembari mengusap kepala Yushi lembut membuat wanita itu menghela napas panjang dan terus mendengarkan percakapan dari dua rekan kerja sekaligus temannya. “Tidak ada yang salah mau dijodohkan dengan siapa pun. Hanya saja kalau kau tidak bisa menerimanya, kenapa tidak bilang pada kedua orang tuamu? Lagi pula segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan berujung baik. Mungkin akan sangat berguna, jika kau memberi tahunya dari sekarang, Yushi,” tutur Xiao Na bijak membuat Yushi seketika mengangkat kepalanya. “Aku memang berniat seperti itu, Jie. Tapi, aku tidak bisa mengecewakan Ibuku kalau sampai mengetahuinya,” balas Yushi menipiskan bibirnya. “Yushi, jauh lebih mengecewakan itu sangat Ibumu tahu kalau kau tidak pernah bisa menerima perjodohan ini,” jeda Xiao Na mengambil napas. “Saranku, kau lebih baik mencobanya terlebih dahulu. Jika memang tidak bisa dilanjutkan, maka lepaskan saja daripada harus dipaksakan.” “Benar itu, Jie,” timpal Tong Xin membenarkan perkataan Xiao Na. Seketika Yushi menundukkan wajahnya lesu. Entah kenapa ia merasa serba salah kalau sudah menjadi seperti ini. Mungkin akan lebih baik dirinya hidup selibat tanpa harus mengikuti ikatan pernikahan. “Apa kau menyesal pernah menerima perjodohannya?” tanya Xiao Na serius. “Entahlah. Aku antara menyesal atau tidak. Sekarang rasanya serba salah saja sehingga aku mulai ragu dengan semua keputusanku saat malam itu,” jawab Yushi dengan wajah menyedihkan. Ia memang jarang sekali memasang ekspresi seperti ini ketika berada di kantor sehingga rasanya sedikit berbeda antara Yushi prefeksionis dan Yushi tukang mengeluh. Xiao Na tersenyum tipis membuat Tong Xin seketika mendelik tidak percaya. Karena ini pertama kalinya wanita itu terlihat mengulas senyuman di bibirnya. Bahkan ketika di kantor hampir tidak memasang wajah apa pun membuat beberapa karyawan di sana merasa kalau bosnya tidak memiliki ekspresi lain. “Astaga, Jie! Apa kau baru saja tersenyum? Rasanya sulit sekali melihatmu tersenyum seperti tadi,” pekik Tong Xin histeris. Sedangkan Yushi memutar bola matanya malas. Tentu saja Tong Xin pasti akan lebay ketika melihat ekspresi lain dari Xiao Na. Karena selama ini hanya dirinya saja yang pernah atau sering kali melihat berbagai ekspresi dari bos cantik tersebut. “Sudahlah, Xiao Tong Xin. Kau jangan berlebihan. Xiao Na Jie memang sering mengeluarkan ekspresi lain,” sinis Yushi membuat gadis berwajah mungil itu langsung mengerucut kesal. Ketika dirasa sudah tidak ada lagi yang ingin berbicara, Xiao Na pun berkata, “Dari ceritamu tadi, sebenarnya aku sudah menyimpulkan kalau kau bukan ragu, Yushi.” “Lantas, apa?” “Kau hanya merasa belum menerima keadaan saja saat sudah menjadi milik seseorang. Karena selama ini kau terbiasa sendirian, jadi wajar saja kau merasa aneh dengan adanya seseorang yang memperhatikanmu. Apalagi lelaki yang mengikuti perjodohan adalah teman kuliahmu sendiri,” jawab Xiao Na masuk akal membuat Yushi terdiam sesaat. “Sepertinya, apa yang dikatakan Xiao Na Jie tadi ada benarnya. Aku juga merasakan hal yang sama,” celetuk Tong Xin mengangguk beberapa kali sembari memeluk tubuh Yushi yang semakin mleyot. Entah apa yang terjadi pada dengan Yushi sampai seperti ini menggalaukan seseorang. Padahal kalau dipikir lebih lanjut, rasanya sangat menyenangkan. Apalagi kalau ternyata lelaki itu adalah seseorang yang ia kenal. Akan tetapi, berbeda situasi dengan Yushi yang malah tidak menginginkannya. “Memangnya apa yang pernah terjadi di masa lalu hingga kau begitu tertekan?” tanya Xiao Na penuh selidik. Seketika Yushi mendelik tidak percaya mendengar pertanyaan Xiao Na. Ia pun mendadak ragu untuk menjawab hal tersebut, tetapi melihat tatapan penasaran dari Tong Xin membuat Yushi meringis pelan. “Sebenarnya, aku dan dia pernah menjalin sebuah hubungan di masa lalu. Sayangnya memang kita berdua tidak pernah cocok sehingga aku memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan ini. Sampai akhirnya takdir begitu mempermainkanku,” jawab Yushi jujur. “Jadi, kau takut masa lalu akan terulang lagi. Benar?” Xiao Na menatap Yushi dengan pandangan yang sulit diartikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN