Selama perjalanan menuju villa, Xiao Na lebih banyak diam dan menikmati keindahan alam yang mulai menyapa penglihatan wanita itu sehingga membuat perasaannya menjadi lebih tenang.
Sedangkan Chen Qianqian yang duduk di samping Xiao Wei terlihat memejamkan mata. Entah kenapa sejak perjalan ke sini wanita hamil itu sudah tertidur pulas seakan ia sama sekali tidak menginginkan melihat pemandangan menakjubkan ini.
Tak lama kemudian, mobil mewah milik Xiao Wei terhenti di sebuah villa yang cukup besar berwarna putih dipadukan dengan warna abu-abu memberikan kesan klasik sekaligus menenangkan, layaknya villa pegunungan pada umumnya.
Tanpa pikir panjang, Xiao Na pun membuka pintu mobil dan merenggang tubuhnya yang terasa sedikit pegal di luar sembari menghirup banyak-banyak udara sejuk seakan ia ingin memasukan apa pun yang ada di tempat ini ke dalam tubuhnya sendiri.
“Nana, aku ke atas duluan,” pamit Xiao Wei melenggang pergi membawa dua koper besar tersebut dengan menuntun sang istri yang masih lemas tidak berdaya.
“Iya, aku ingin di sini dulu. Nanti menyusul ke atas,” balas Xiao Na mengangguk singkat, lalu membuka bagasi mobil yang berada di belakang untuk mengambil koper putih miliknya. Sebab, hanya Xiao Na yang satu-satunya masih berada di bawah, meskipun terlihat beberapa lelaki bertubuh kekar menjaga villa milik Keluarga Zhang.
Dirasakan tubuhnya cukup renggang, Xiao Na mulai menyeret koper miliknya dan melangkah mengarah pada bangku taman yang terlihat kosong. Namun, kebersihan tempat ini jelas selalu diperhatikan Zhang De Nan. Terlihat dari beberapa hiasan taman yang sama sekali tidak berbeda ketika terakhir kali Xiao Na datang ke tempat ini.
Sejenak Xiao Na mendudukkan diri di bangku taman tersebut sembari menatap ke arah bawah yang dipenuhi beberapa rumah penduduk tradisional khas China. Tentu saja pemandangan yang jarang sekali terlihat ketika berada di pusat perkotaan.
Akan tetapi, tiba-tiba ponsel milik wanita itu bergetar dengan layar panggilan yang berubah menjadi video membuat Xiao Na seketika mengernyitkan keningnya bingung melihat nama sang pemanggil di sana.
Karena saat ini Xiao Na tengah bersantai, ia pun menerima video call tersebut dengan merapikan sedikit rambutnya yang terlihat berantakan. Kemudian, Xiao Na menaikkan sedikit ponselnya untuk memperlihatkan latar belakang villa Keluarga Zhang yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun.
“Xiao Na Jie!” seru Yushi sangat antusias bersama dengan seorang gadis yang sangat Xiao Na kenali.
“Yushi? Xiao Tong Xin? Kalian berdua sedang apa?” tanya wanita itu bingung melihat dua sekretarisnya yang menikmati akhir pekan bersama.
“Tadinya kita ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat, tapi aku baru saja mengetahui kalau kau sedang tidak ada di apartemen. Alhasil, kita berdua hanya menikmati akhir pekan bersama di kamar Tong Xin,” jawab Yushi sedikit kesal saat mengetahui bosnya ternyata sudah pergi beberapa menit yang lalu, tepat ketika ia datang.
Xiao Na yang mendengarnya hanya mengangguk pelan. Ia sama sekali tidak berniat untuk membalas apa pun karena yang dikatakan oleh Yushi ada benarnya.
“Xiao Na Jie, kau sedang ada di mana? Sepertinya bukan di daerah sini,” sahut Tong Xin yang menyadari lokasi bosnya terlihat sedikit berbeda.
Seketika Yushi yang mendengar hal tersebut ikut penasaran. “Iya, Jie. Aku sejak tadi mulai menebaknya, tapi belum menemukan jawaban.”
“Oh, aku ada di villa,” balas Xiao Na memperlihatkan keadaan tempat yang dikenal sebagai menenangkan ketika sedang ada masalah.
Sontak Yushi dan Tong Xin menganga tidak percaya melihat keadaan di sana. Tentu saja mereka sangat ingin mengikuti bosnya itu, tetapi sadar diri kalau mereka berdua hanyalah atasan dan bawahan yang tidak boleh mengkhayal dalam bentuk apa pun.
“Astaga, Jie! Itu sangat cantik,” puji Yushi sedikit sedih melihat bosnya bisa berlibur dengan tenang, sedangkan dirinya hanya menghabiskan waktu bersama dengan seorang gadis mungil yang jarang sekali keluar dari rumah.
“Iya, benar! Aku menginginkan tempat itu,” sahut Tong Xin dramatis.
Xiao Na yang mendengar perkataan mereka berdua pun hanya menaikkan alisnya bingung. Tentu saja ia tidak mengerti akan kode Yushi dan Tong Xin karena selama ini dirinya tidak pernah memiliki seorang teman, apalagi perempuan. Sehingga ingin berkata dengan Xiao Na tentu harus dengan transparan tanpa kode-kode sulit ala perempuan.
Di tengah percakapannya melalui video call, tiba-tiba Xiao Na mendengar sang kakak yang memanggil melalui jendela samping villa. Lelaki itu terlihat sudah berganti pakaian menjadi ala rumahan dengan kaus oblong berwarna biru bergaris putih.
“Nana!”
“Zhen me la, Ge!?” tanya Xiao Na tidak kalah berteriak.
“Cepatlah ke atas!”
Mendengar jawaban itu, Xiao Na pun bangkit dari tempat duduknya, lalu melenggang pergi sembari menyeret koper yang berisikan pakaian tanpa mematikan video call tersebut. Sehingga dua karyawan Xiao Na yang masih memperhatikan layar langsung menganga tidak percaya melihat villa mewah milik keluarga dari bosnya.
Sesampainya di dalam villa, Xiao Na langsung mengangkat koper tersebut untuk menaiki tangga satu per satu menuju kamar yang biasa ia gunakan ketika datang ke tempat ini. Tentu saja semua itu telah dibagi satu per satu tepat ketika Keluarga Zhang mendirikan villa di sana.
“Ada apa, Ge?” tanya Xiao Na menghampiri sepasang suami istri yang terlihat bersantai di sofa panjang tepat menghadap televise superbesar.
Xiao Wei yang melihat adiknya sudah naik pun tersenyum senang, lalu mengkode untuk Xiao Na duduk di sampingnya. Tentu saja mereka bertiga menyantaikan tubuh setelah perjalanan beberapa jam menuju villa.
Menuruti titahan sang kakak, Xiao Na pun duduk di depan Chen Qianqian yang sudah membuka matanya dan terlihat memakan sesuatu dari dalam toples. Membuat wanita itu seketika mengerti kalau ibu hamil memang makan dalam jumlah banyak.
Kemudian, Xiao Na pun menatap ponselnya kembali. Ternyata video call masih tersambung membuat wanita itu tersenyum tipis melihat wajah Yushi dan Tong Xin terlihat sangat mengagumkan kekayaan keluarganya.
“Xiao Na Jie, apa kau berlibur hanya bersama Pimpinan Zhang?” tanya Tong Xin penasaran.
“Iya, aku dan Ta Shao saja,” jawab Xiao Na singkat.
“Wah, itu sangat mengagumkan!” pekik Yushi antusias.
Xiao Na mengangguk singkat. Membuat dua sekretaris pribadinya langsung menghela napas pelan. Ia memang tidak pernah berubah dan selalu saja dingin dalam keadaan apa pun.
“Jie, apa kau dalam keadaan santai? Kita berdua ingin bercerita padamu,” tanya Tong Xin membuat Yushi ikut menatap wanita yang selama ini menjadi panutannya dengan ekspresi memohon.