Semakin lama semua bukti mengarah pada Li Xian membuat wanita yang mengenakan hoodie berwarna putih dengan aksen merah di corak labelnya pun memberikan kesan mewah sekaligus elegan. Membuat Xiao Na terlihat sangat cantik meskipun kesederhanaan kini menyelimuti wanita itu.
Pagi-pagi sekali Xiao Na telah kembali menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai di kerjakan. Bahkan saat sedang sarapan ia pun meluangkan waktu untuk membaca semua berkas yang diberikan oleh Tong Xin tanpa ada terlewat satu pun.
Sesekali Xiao Na melahap roti kering dan segelas s**u putih yang ia bawa ke ruang kerja. Walaupun akhir pekan, ia tetap saja menyibukkan diri dengan beberapa pekerjaan, termasuk meneliti kembali kehidupan Li Xian yang mulai mengarah pada kehidupannya.
Namun, di tengah kegiatan itu tiba-tiba ponselnya berdering nyaring membuat Xiao Na mengalihkan perhatian pada benda yang tergeletak di atas nakas. Membuat wanita itu seketika menghela napas panjang dan bangkit dari tempat duduknya.
Ternyata yang menelepon ponsel Xiao Na ketika pagi tiba adalah Xiao Wei. Entah kenap sang kakak dari wanita cantik itu terlihat sangat menganggur hingga pagi seperti ini pun sudah meluangkan waktu untuk menghubunginya.
“Wei, zhen me la, Ge?” sapa Xiao Na mendudukkan diri di tepi tempat tidur dan meletakkan gelas berisikan s**u yang ia bawa ke mana pun sejak tadi.
“Wei, Nana. Apa kau sibuk pagi ini?” tanya Xiao Wei terdengar dari seberang.
“Entahlah,” jawab Xiao Na gamblang, lalu kembali melanjutkan, “Memangnya ada apa, Ge? Tidak seperti kau yang biasanya.”
Xiao Wei tertawa pelan. “Sebenarnya pagi ini aku ingin mengajakmu pergi ke villa, tapi itu juga semaumu saja. Mau atau tidak. Karena kau selalu sibuk ketika akhir pekan sampai aku menjadi bingung sendiri.”
“Sepertinya aku bisa ikut denganmu,” ucap Xiao Na membuat sang kakak langsung menegakkan tubuh semangat.
“Benarkah?”
“Tentu saja aku tidak berbohong padamu, Ge.”
“Kalau begitu, sebentar lagi aku akan menjemputmu. Kau bersiap, ya!”
“Baiklah, aku mengerti.”
Setelah itu, Xiao Wei pun memutuskan sambungan teleponnya membuat sang adik yang baru saja menyelesaikan kegiatan itu tersenyum tipis. Sejujurnya, apa yang dikatakan sang kakak ada benarnya, ia memang sering kali menolak ketika diajak liburan. Padahal sejatinya ia benar-benar menganggur ketika libur kantor. Karena tidak akan ada kegiatan yang bisa ia kerjakan, selain meneliti semua laporan kembali.
Akhirnya, Xiao Na bangkit dari tepi tempat tidur menuju lemari pakaian yang ada di walk in closet untuk ia bawa beberapa jenis. Agar ketika di villa tidak menyusahkan siapa pun. Karena ia bisa menebaknya kalau Xiao Wei sudah dipastikan akan menginap. Mengingat usia kandungan Chen Qianqian sudah tidak muda lagi.
Dengan mengeluarkan koper berwarna putih yang selalu Xiao Na jadikan sebagai tempat pakaian ketika meninggalkan apartemen, ia pun mengambil beberapa gantungan baju yang ada di dalam lemari sembari melipatnya dengan rapi.
Kali ini Xiao Na tidak membawa pakaian banyak, sebab ia pasti akan menginap satu malam saja di villa. Karena mengingat lusa sudah kembali menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang ada di kantor.
Bahkan wanita itu pun tidak mengganti hoodie-nya sama sekali. Ia hanya membawa mantel musim dingin yang berwarna cokelat untuk berjaga-jaga ketika di sana udara mendadak dingin. Mengingat villa Keluarga Zhang berada di dekat pegunungan sehingga musim dingin akan jauh lebih cepat ketika berada di sana.
Tak lama kemudian, Xiao Na mendengar bel apartemen yang berdenting singkat membuat wanita itu langsung bangkit dari sofa menuju pintu utama berukuran cukup besar tersebut. Ia melihat sang kakak seorang diri di sana tanpa ada istri cantik yang menemani.
“Ge, kau sudah datang?” sapa Xiao Na membuka pintunya lebar-lebar, lalu menatap ke arah lain seakan ia mencari seseorang di sana.
“Sudah,” jawab Xiao Wei singkat, lalu kembali berkata, “Chen Qianqian tidak aku perbolehkan untuk ke sini karena takut kelelahan. Jadi, hanya aku yang menjemputmu, Nana.”
Seketika Xiao Na pun mengangguk mengerti. “Baiklah, aku mengerti.”
“Mana kopermu? Aku bawakan saja,” pinta Xiao Wei membuat Xiao Na tersenyum lebar, lalu melenggang masuk untuk mengambil sebuah benda berukuran cukup besar dan berat. Untung saja ia tidak membawa apa pun sehingga lebih ringan daripada biasanya.
Ia memanjangkan pengait yang ada di belakang koper tersebut dan menyeretnya ke arah pintu apartemen. Di sana terlihat sang kakak yang masih merapikan rambutnya di cermin kecil dekat rak sepatu milik Xiao Na.
“Ge, sudahlah,” sinis wanita itu.
“Iya, iya. Aku hanya merapikannya sedikit,” balas Xiao Wei tersenyum geli melihat kejenuhan di wajah sang adik ketika mendapati dirinya sedang merias diri. Entah kenapa Xiao Na selalu bersikap seperti itu. Sebuah tanda tanya yang cukup besar.
Kemudian, kakak beradik dari Keluarga Zhang itu pun melenggang pergi sembari menyeret koper hingga masuk ke dalam elevator. Cukup jauh memang dari lobi apartemen. Sebab, letak apartemen Xiao Na di bagian paling atas sehingga jarang sekali ia terlihat berkomunikasi dengan para penghuni kamar lainnya. Karena wanita itu memang hidup seorang diri di puncak gedung mewah tersebut.
Sesampainya di lobi, pintu elevator pun terbuka menampilkan keadaan yang terlihat ramai sekali dengan orang-orang berpakaian training olahraga sehingga membuat Xiao Na menatap tanpa minat. Karena ia jelas bukanlah tipe yang gemar olahraga, selain mengikuti bela diri di salah satu dojo kelolaan dirinya.
“Nana, aku lihat kau tidak pernah mengunjungi siapa pun ketika tinggal di sini,” celetuk Xiao Wei di sela-sela mereka berdua melangkah.
“Aku tidak punya tetangga,” jawab Xiao Na tanpa minat.
“Tapi, setidaknya kau harus bersosialiasi, Nana. Karena tadi aku mendengar dari salah satu penghuni apartemen. Kalau kau jarang sekali keluar ketika weekend tiba. Padahal mereka sangat ingin bertemu denganmu,” ucap Xiao Wei mulai menasehati adiknya agar lebih terbuka pada siapa pun. Namun, sayangnya Xiao Na tetaplah Xiao Na.
“Aku terlalu sibuk untuk bertemu dengan orang-orang merepotkan seperti mereka,” balas Xiao Na sarkatis.
“Astaga, kau terbuat dari apa, Nana? Hidup seorang diri terus. Bahkan pacar pun kau tidak memilikinya,” keluh Xiao Wei mengusap wajahnya lelah.
“Siapa bilang?” sahut Xiao Na tidak terima.
“Bukankah kau memang tidak memiliki pacar?” sinis Xiao Wei.
“Tentu saja aku punya pacar, Ge,” balas Xiao Na tidak kalah sinis membuat sang kakak seketika terkejut.