82. FBI vs CIA

1162 Kata
Mungkin sampai saat ini tidak akan ada yang tahu tentang identitas asli Li Xian kalau Xiao Na benar-benar tidak menyelidikinya dengan teliti. Bahkan wanita itu hampir saja terkena serangan jantung melihat berkas yang diberikan Tong Xin sewaktu di kantor tadi. Sebenarnya Xiao Na sudah lama sekali menyelidiki lelaki itu, meskipun ia sendiri sedikit tidak percaya dengan penemuan dari stalker ala Tong Xin yang bahkan kemampuannya melebihi FBI dan CIA. Ia bahkan bisa mengorek masa lalu seseorang hanya dengan menggerakkan sepuluh jemarinya di atas keyboard. Beberapa berkas tersebut tampak bertebaran di sekeliling apartemen Xiao Na yang terlihat sangat berantakan, meskipun pada awalnya memang selalu seperti itu. Ia tidak memiliki waktu untuk membersihkan apa pun, selain akhir pekan dan tanggal merah tiba. “Jadi, selama ini Li Xian adalah pewaris sah dari showroom mobil SNAIL. Tempat kau bekerja?” tanya Xiao Na dengan seseorang melalui telepon. “Maafkan aku, Nana. Bukan aku tidak ingin memberi tahumu, tapi Li Xian jelas melarangku untuk mengatakan semua ini. Dia takut kau mengetahui identitasnya akan merasa canggung hanya karena dia adalah orang terkaya di China. Bahkan denganku saja dia berusaha untuk terlihat biasa saja, meskipun aku sendiri yang merasa sangat tertekan berhadapan dengan pewaris sah dari LX Group,” jawab Han Siyang berusaha memberikan penjelasan yang masuk akal pada Xiao Na. Karena lelaki itu jelas takut kalau Xiao Na akan merasa tersakiti dengan semua ini. “Tidak ... aku hanya masih tidak percaya saja kalau dia benar-benar orang terkaya di China. Lantas, kenapa dia menjadi karyawan biasa di perusahaanku?” “Untuk alasan itu aku tidak tahu, Nana. Tapi, kau bisa menghubungi Liu Bai.” “Siapa itu Liu Bai?” “Dia adalah sepupu Li Xian sekaligus Manajer Umum di SNAIL.” “Sepertinya aku pernah melihat nama itu. Tunggu sebentar,” jeda Xiao Na bangkit dari tempat duduk dan melangkah menuju ruang kerja yang berada di dalam kamarnya sendiri. Wanita itu terlihat membuka salah satu lemari berisikan banyak sekali berkas. Tentu saja berkas-berkas penting yang selama ini ia simpan untuk cadangan ketika sedang ada masalah di kantor. Karena sebelumnya ia telah diberikan nasihat oleh Xiao Wei untuk tetap menyiapkan cadangan berkas penting. Akhirnya, berkas yang dicari Xiao Na pun ditemukan. Tanpa pikir panjang ia langsung membukanya dengan gerakan cepat. Meneliti satu per satu nama yang menjadi rekan kerjanya, dan ternyata ada sebuah nama familier yang disebutkan oleh Han Siyang. “Aku tahu!” lanjut Xiao Na sedikit meninggi. “Liu Bai adalah orang yang pernah memberikanku tawaran tentang alat. Dia penolongku waktu itu.” “Ah! Aku ingat masalah itu. Ternyata selama ini Li Xian sudah memantaumu, Nana. Apa kau kenal dengan dia sebelumnya?” “Entahlah, aku hanya tidak terlalu ingat atau memang benar-benar tidak mengenalnya.” “Tapi, kenapa dia memperlakukanmu layaknya teman dekat? Padahal ... kalian berdua belum pernah saling bertemu, bukan?” “Iya. Aku pertama kali bertemu dengan Li Xian saat dia benar-benar melamar di perusahaanku.” “Kalau begitu, ini benar-benar akan menjadi teka-teki untuk kau pecahkan, Nana. Karena Li Xian jelas mengenalmu. Dia tidak akan memedulikan  pada siapa pun.” “Astaga, kepalaku rasanya ingin pecah!” keluh Xiao Na merebahkan tubuhnya begitu saja di karpet berburu dengan corak kecokelatan. Diam-diam Han Siyang tersenyum geli mendengar perkataan wanita itu. Sebab, jarang sekali Xiao Na akan mengeluh sekeras ini kalau benar-benar pikirannya terasa sangat sesak hingga ingin meledak. “Ya sudah. Sekarang kau mau seperti apa, Nana? Aku sudah memberikan solusi untuk tetap menanyakan ini pada Li Xian. Tapi, semua kembali pada keputusan jelas ditanganmu.” “Baiklah. Aku akan memutuskan nanti saja.” “Apa kau yakin nanti? Aku harap kau memberikan keputusan yang tidak membuatmu menyesal.” “Tidak akan. Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Aku takut mengganggumu berkencan.” “Ah, kau suka bercanda saja! Mana ada aku kencan. Aku tidak seluang itu hingga berkencan karena masih banyak sekali pekerjaan yang dijatuhkan oleh Liu Bai padaku.” “Baiklah, aku mengerti.” Setelah itu, panggilan pun benar-benar tertutup dengan Xiao Na melemparkan ponselnya asal di atas tempat tidur. Sedangkan wanita itu kembali membaca kontrak kerja yang dikeluarkan pada saat perusahaan miliknya membeli sebuah alat dari perusahaan lain. Meskipun ia tahu kalau perusahaan tersebut sangatlah raksasa sehingga mustahil akan melakukan sesuatu pada perusahaan kecil yang tidak seberapa miliknya. Akan tetapi, pikiran Xiao Na jelas bukan pada perusahaan besar ataupun raksasa itu, melainkan Li Xian yang entah kenapa membuat dirinya jelas mengingat seseorang. Betul atau tidaknya memang hanya Tuhan yang tahu. Kemudian, Xiao Na kembali membereskan berkas-berkas yang berserakan di atas lantai bak kapal pecah. Bahkan sang pemiliknya pun tidak sadar kalau apartemennya sudah tidak lagi berbentuk sehingga mirip sekali keadaan yang tertiup angin put*ing beliung. Kertas-keras berserakan memenuhi lantai dengan beberapa diantaranya terlipat acak membuat tidak lagi berbentuk rapi. “Astaga, apa yang telah aku lakukan!?” seru Xiao Na terkejut melihat keadaan apartemennya sendiri. Dengan cepat wanita itu pun kembali membereskannya lagi sebelum ada seseorang yang melihat hal memalukan ini. Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi bel apartemen berdenting pelan membuat Xiao Na seketika menatap pintu berwarna merah dengan horror. “Siapa!?” teriak Xiao Na pada intercom yang menempel di tembok dekat pintu utama tersebut. “Ini aku,” balas seorang gadis mungil tersenyum lebar sembari melambaikan tangan tepat di depan kamera. “Tong Xin?” gumam Xiao Na tidak percaya, lalu membuka pintu apartemennya untuk mempersilakan gadis itu masuk. Seketika mata minimalis milik Tong Xin hampir saja keluar melihat betapa berantakan tempat milik bosnya yang dikenal akan kerapiannya. Namun, situasi ini jelas berbanding balik melihat apartemen yang terbiasa rapi mendadak bak kapal pecah. “Xiao Na Jie, apa apartemenmu baru saja kerampokan? Aku lihat ini benar-benar sangat berantakan,” tanya Tong Xin menatap Xiao Na terkejut. “Tidak. Ini memang ulahku sendiri saat mencari sesuatu yang tanpa sengaja aku lupakan,” jawab Xiao Na ringan sembari mulai membereskan satu per satu berkas tersebut dengan asal. Biarlah nanti ia bereskan kembali ketika Tong Xin sudah hengkang dari tempat ini. “Aku pikir tadi apartemenmu kerampokan, Jie. Karena kau tidak pernah menghancurkan tempat ini dengan sedemikian rupa,” ucap Tong Xin meringis pelan, kemudian ikut membereskan benda tersebut sembari melihat sekilas. Akan tetapi, tatapannya langsung terpaku pada sebuah nama yang sangat ia kenal. “Bukankah berkas ini yang aku kasih tadi?” “Iya, kau benar!” balas Xiao Na cepat sembari meraih berkas tersebut tanpa dosa, lalu kembali berkata, “Oh ya, kenapa kau kemari? Pasti ada sesuatu yang harus dibicarakan.” Tong Xin yang baru saja mengingat niatan dirinya ke sini pun menghentikan kegiatan tersebut, dan mulai menatap Xiao Na penuh. “Benar, Jie. Aku datang ke sini untuk memberi tahumu kalau Li Xian sempat mengidap amnesia sementara.” “Amnesia sementara?” beo Xiao Na tidak mengerti. Tong Xin mengangguk mantap. “Iya, Jie. Aku tadi sempat menghubungi psikiater sekaligus dokter pribadi yang pernah menanganinya ketika berada di sini.” “Amnesia sementara itu apa?” tanya Xiao Na penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN