81. He's Always There

1053 Kata
Setelah selesai, Xiao Na kembali ke apartemennya menggunakan mobil mewah berwarna putih yang ia kemudikan seorang diri tanpa ada Yushi. Padahal biasanya ia selalu ditemani wanita itu, tetapi entah kenapa malam ini rasanya Xiao Na ingin pergi ke mana pun tanpa ada seseorang yang mengikutinya. Kini mobil mewah keluaran dari SNAIL itu pun meninggalkan basement rumah sakit yang menjadi tempat parkir kendaraan, baik itu pasien maupun pengunjung. Sebab, di sini cukup teratur untuk ukuran rumah sakit umum sehingga nyaman digunakan bak rumah sakit milik pemerintah. Di sela-sela mengemudinya itu, Xiao Na memutar lagu yang tengah hits di kalangan anak muda. Tentunya ia mengetahui lagu tersebut melalui salah satu drama yang menjadi tontonan dirinya kali ini. Suara intro terdengar mengalun lembut di dalam mobil milik seorang wanita yang mengetuk-ngetukkan jemarinya pelan pada kemudi berbentuk bulat tersebut. Mata tajam nan dingin itu tampak menatap jalanan yang masih padat kendaraan. adrenalina scorre nelle mie viscere sai Ho dimenticato tutto il dolore e Vivo costante per andar perche non voglio soffrir Ti potresti ferir Non ti puoi fidare Dentro me   Sai Che cosa mi succede non lo so perche   fuoco salendo verso I’alto sto bruciando lento per favore lasciami non voglio ferirti non posso   lo sai bene i tuoi occhi non dimentico non lasciarmi .... Tepat ketika nada falsetto, Xiao Na ikut bernyanyi seakan ia benar-benar mahir menyikan lagu tersebut. Meskipun nyatanya memang benar ada benar kalau wanita itu sangat menghafal setiap tempo dan nada yang ada di sana tanpa ada kesalahan sedikit pun. Padahal Xiao Na bisa dikatakan hanya menonton beberapa kali saja, tetapi karena saking seringnya diputar ia bisa menjadi hafal dengan sendirinya. Namun, kegiatan menyanyi wanita itu harus terhenti ketika melihat ponselnya yang menyala dengan nama sang kakak terlihat di sana membuat Xiao Na menepikan mobil, lalu mengangkat panggilan tersebut. “Wei, Ge. Zhen me la?” tanya Xiao Na tepat ketika panggilan itu tersambung. “Nana, kau ada di mana?” tanya Xiao Wei tanpa mengindahkan pertanyaan sang adik. “Aku ... aku tentu saja perjalanan pulang,” jawab Xiao Na sedikit ragu. “Dari mana saja kau baru pulang?” Xiao Wei mendadak serius. “Salah satu trainee-ku masuk ke rumah sakit, Ge. Jadi, aku harus datang menjenguknya. Apa kau lupa kalau timku akan segera berangkat ke Singapura sehingga masalah ini cukup serius?” “Siapa yang terluka?” “Zarco.” Xiao Wei terdiam sejenak. “Zarco itu lelaki yang pernah kau kenalkan padaku itu, bukan? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu.” “Iya. Dia kapten di Tim N&N.” “Benarkah? Wah, jadi bagaimana itu, Nana? Apa kau akan tetap melanjutkan pertandingannya tanpa kapten?” “Entahlah. Aku juga bingung, Ge. Kepalaku mendadak dipenuhi banyak masalah. Padahal aku sudah berniat untuk tidak memikirkan apa pun.” “Ya sudah. Kau sekarang cepat pulang, Nana. Masalah ini biarlah dipikirkan besok. Atau aku akan membantumu.” “Jangan, Ge. Aku bisa mengatasinya sendiri.” “Kau selalu saja seperti itu.” Xiao Na tanpa sadar meringis pelan mendengar perkataan kakaknya sendiri. Memang setiap kali Xiao Wei menawarkan bantuan selalu saja ia tolak dengan alasan ia bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Meski pada kenyataannya sama sekali tidak seperti itu. Batin Xiao Na menangis. Ia jelas tidak bisa melakukannya sendiri. Bahkan wanita itu kini membutuhkan siapa pun untuk menguatkan batinnya. Seperti saat ini, Xiao Na benar-benar kalut dan ia butuh pundak, tempat berkeluh kesah. Biasanya ia akan menghubungi Han Siyang, tetapi lelaki itu jelas memiliki tambatan hati membuat Xiao Na mengurunkan niatnya. “Ya sudah. Kau hati-hati di jalan. Kabari aku kalau sudah sampai apartemen,” ucap Xiao Wei terdengar putus asa. “Iya, Ge. Aku tutup dulu,” balas Xiao Na mulai menjauhkan ponselnya, lalu meletakkan kembali pada dashboard. Sejenak Xiao Na menghela napas panjang sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok kemudi membuat aliran napas itu berjalan dengan teratur. Ia memejamkan mata sembari menikmati alunan musik yang masih terputar di radio mobil miliknya. Satu-satunya kegiatan yang dapat menenangkan hati Xiao Na adalah mendengarkan musik. Wanita itu bahkan betah berlama-lama di dalam kamar hanya dengan mendengarkan musik dari banyak platform berbayar. Meskipun tidak jarang hal tersebut membuat dirinya merasa diabaikan oleh siapa pun. “Kenapa aku merasa lelah sekali, ya?” gumam Xiao Na pelan. Entah kenapa wanita itu merasa kalau seluruh raganya mendadak lelah. Padahal biasanya Xiao Na tidak pernah lelah meskipun bekerja seharian penuh dan tidak pernah istirahat. Bahkan untuk merasakan hal seperti itu rasanya mustahil. Namun, kini tubuh wanita itu benar-benar lelah. Bahkan kedua matanya terasa berat sehingga membuat Xiao Na mengusap kelopak matanya pelan untuk mengusir kantuk yang tiba-tiba menyerang tanpa permisi. Di tengah kegiatan Xiao Na menahan kantuk, tiba-tiba kaca jendela mobilnya diketuk oleh seseorang membuat wanita itu langsung mendelik terkejut. Dan bertepatan dengan seorang lelaki mulai mendekatkan wajahnya ke jendela mobil tersebut. “Nana, ini aku!” seru seorang lelaki dengan suara khas yang sangat familier di telinga Xiao Na. Dengan ragu wanita itu pun memencet tombol untuk menurunkan kaca mobilnya, lalu mengernyit bingung saat melihat Li Xian. Ia sedikit tidak percaya lelaki itu bisa menemukan dirinya seperti ini. Padahal jalanan cukup gelap dan hanya ada penerangan dari beberapa lampu jalan. “Li Xian? Kenapa kau ada di sini?” tanya Xiao Na tidak percaya, lalu menyembulkan kepalanya melihat keadaan sekitar untuk melihat kendaraan yang dipakai lelaki itu untuk kemari. “Aku tidak sengaja melihat mobilmu ketika hendak pulang, dan ternyata dugaanku benar,” jawab Li Xian tersenyum lebar. Xiao Na mengernyitkan keningnya bingung. “Tapi, aku tidak bisa melihat mobilmu.” “Iya ... aku ke sini tadi bersama dengan sepupuku, dan dia sudah pergi sejak aku menemuimu tadi,” ucap Li Xian sedikit ragu. Ia takut kalau Xiao Na akan bertanya lebih lanjut, karena identitasnya sebagai pewaris sah dari LX Group pasti akan terbongkar. Namun, dugaan lelaki itu ternyata salah. Xiao Na tetaplah Xiao Na. Seorang wanita berwajah cantik yang sayangnya memiliki sifat acuh tak acuh pada siapa pun sehingga ia memilih untuk mengangguk saja daripada bertanya lebih lanjut. “Apa aku boleh mengantarmu pulang?” tanya Li Xian membuat Xiao Na mendelik tidak percaya. “Kau ingin mengantarku pulang? Lalu, kau sendiri pulang menggunakan apa? Bukankah tadi sepupumu sudah pergi?” “Itu biarlah menjadi urusanku,” putus Li Xian tersenyum ringan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN