“Xiao Na jie, kenapa kau ada di sini?” tanya Grunt melompat turun dari pagar pembatas tersebut dan menghampiri seorang wanita yang beridiri di ambang pintu rooftop.
“Tentu saja aku ingin menemuimu,” jawab Xiao Na tersenyum singkat, lalu mengajak lelaki itu untuk melangkah ke arah jejeran kipas pendingin ruangan yang tampak berputar-putar dengan menghasilkan hawa panas di sana.
Keduanya pun mendudukkan diri di selang angin ruangan sembari mendongak menatap cerahnya langit siang ini. Padahal sejak tadi Xiao Na merasa kalau hawa mulai dingin. Meskipun baru saja masuk musim dingin kemarin, tetapi sisa-sisa dari salju tersebut tidak kunjung hilang.
“Apa kau tahu, Grunt? Kalau aku ketika pusing dengan semua pekerjaan pasti akan ke tempat ini untuk menenangkan diri,” celetuk Xiao Na menatap langit-langit dengan awan putih yang saling bergumpal membentuk asap.
“Benarkah? Aku tidak tahu kalau kau sering merasa lelah dengan semua pekerjaanmu,” sahut Grunt terkejut.
“Tentu saja aku juga seorang manusia sehingga bisa merasakan lelah,” sindir Xiao Na tertawa pelan, lalu menatap Grunt penasaran. “Apa selama ini kau tidak merasa lelah?”
“Entahlah, jie. Aku terkadang hanya merasakan frustasi saja dengan semua pelatihan yang diberikan oleh Xian Ge. Jadi, beberapa kali aku kabur dari pelatihan itu dan mengurung diri di kamar,” jawab Grunt seadanya membuat Xiao Na menoleh dengan tatapan tajam.
“Apa selama ini kau selalu melewatkan pelatihan?” geram Xiao Na membuat lelaki itu tertawa geli.
“Tidak, jie. Hanya dua kali saja. Saat Demo kabur, dan Zarco masuk ke rumah sakit,” balas Grunt sedikit takut melihat tatapan wanita yang ada di sampingnya.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Xiao Na penasaran.
“Aku merasa tidak semangat ketika orang-orang terdekatku mulai hilang satu per satu,” jawab Grunt menatap lurus ke depan.
Mendengar hal tersebut Xiao Na pun menghela napas panjang. Ia tahu kalau Grunt sangat dekat pada semua trainee sehingga tidak jarang kalau lelaki itu merasa kehilangan saat orang-orang terdekatnya mulai menjauh.
Keduanya pun terdiam dengan semilir angin yang membelai lembut wajah mereka sehingga meninggalkan kesan sejuk sekaligus menenangkan. Meskipun tidak sedikit keduanya saling melemparkan senyuman singkat tatkala ada angin besar yang menerbangkan rambut-rambut Xiao Na hingga berantakan.
Semua itu terekam jelas di ingatan Li Xian yang sejak tadi sudah berdiri tidak jauh dari keduanya. Mata tajam bak seekor elang itu mengawasi dengan serius tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Bahkan untuk berkedip rasanya sangat tidak rela, ia takut melewatkan sesuatu.
Akan tetapi, jiwa Xiao Na sebagai atlet bela diri mulai merasa terusik dan ia merasa seperti ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi. Walaupun ia sendiri tidak menoleh karena takut melihat yang tidak-tidak mengingat dirinya sedang berada di rumah sakit sehingga banyak sekali hantu berkeliaran.
“Uhm ... Jie, sepertinya aku harus kembali ke kamar Zarco. Aku sudah berjanji pada Mingyu dan Feng Zhen untuk kembali ke markas,” ucap Grunt menatap ke arah arloji yang ada di tangan kirinya.
“Pergilah,” balas Xiao Na tersenyum singkat membuat Grunt segera bangkit dari tempat duduk, lalu sedikit terkejut melihat Li Xian yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.
“Xian Ge? Sejak kapan kau ada di sini?” tanya Grunt.
“Baru saja. Aku ingin menghampiri kalian berdua takut mengganggu sehingga memutuskan untuk diam di sini,” jawab Li Xian tertawa pelan, lalu melangkah mendekati mereka berdua.
“Tidak apa-apa,” sahut Grunt ringan, lalu menoleh ke arah Xiao Na. “Jie, aku pergi dulu.”
Setelah itu, Grunt pun benar-benar melenggang pergi dari sana meninggalkan Xiao Na dan Li Xian yang terjebak dalam suasana cukup canggung. Karena jantung wanita itu mendadak berdetak dua kali lebih cepat daripada biasanya. Padahal Xiao Na jelas dekat dengan Li Xian sudah lama sekali, tetapi rasa gugup ini melanda ketika dirinya menjalankan perjodohan ini.
“Nana,” panggil Li Xian pelan, tetapi tatapan lelaki itu sama sekali tidak berubah dan terus menatap langit ceras yang melindungi mereka berdua.
“Kenapa?” tanya wanita itu dengan spontan menoleh bingung.
“Apa kau lapar?” Li Xian bertanya balik membuat Xiao Na mengernyitkan keningnya tidak percaya.
“Ti ... tidak. Aku sama sekali tidak lapar, tetapi kenapa kau menyakan hal tersebut?”
“Entahlah. Aku hanya mengatakan apa pun yang terlintas di dalam otak. Karena sejak tadi aku merasa kita berdua cukup canggung.”
Xiao Na mengerjapkan matanya beberapa kali mendengar penuturan Li Xian yang benar-benar sangat jujur. Sebab, ia juga merasakan hal yang sama. Suasana canggung dengan status yang mulai berbeda.
“Uhm ... aku tidak tahu,” gumam Xiao Na tergagap bingung.
Sebenarnya jarak mereka berdua cukup tipis sehingga Xiao Na bisa mencium parfum lelaki itu yang beraroma musk. Sedikit berbeda dengan parfum yang dikenakan lelaki itu pada malam tahun baru.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Aku sedikit mengantuk. Apa kau mau meminjamkan pangkuanmu untukku?” tanya Li Xian menatap Xiao Na serius sama sekali tidak ada senyuman jenaka yang biasa terpatri seakan akan lelaki itu benar-benar mengantuk.
Dengan gerakan ragu Xiao Na pun meluruskan kedua kakinya membuat Li Xian diam-diam tersenyum tipis dan mulai merebahkan diri dengan kepala yang mendarat sempurna di kedua paha jenjang milik wanita itu. Meskipun tidak dapat dipungkiri kalau Li Xian ikut gugup, tetapi sebisa mungkin ia menyembunyikannya dengan memejamkan mata agar tidak melihat pemandangan yang bisa membuat dirinya sedikit oleng.
Sedangkan Xiao Na berusaha mati-matian untuk tidak tersenyum melihat wajah tampan tak bercela yang berada di pangkuannya sendiri. Wajah Li Xian sangatlah mulus untuk ukuran seorang lelaki seakan ia begitu merawatnya dengan baik.
“Li Xian,” panggil Xiao Na pelan.
Lelaki yang merasa namanya terpanggil pun menggeram pelan sebagai bentuk jawabannya.
“Apa kau selama ini merawat wajahmu dengan baik?” tanya Xiao Na penasaran.
“Memangnya kenapa?” tanya Li Xian balik, tetapi tetap memejamkan matanya rapat.
“Aku lihat wajahmu sangat tampan,” jawab Xiao Na polos membuat lelaki itu spontan membuka matanya. Tentu saja tatapan Li Xian langsung terpaku pada bibir merah merona milik Xiao Na yang entah sejak kapan membuatnya sangat candu sehingga ingin terus menciumnya hingga bengkak.