Lumayan lama untuk Xiao Na benar-benar menyelesaikan semua pekerjaannya. Tak lupa ia ikut memasukan berkas yang diberikan oleh Tong Xin tadi. Ia berpikiran untuk melihatnya nanti saja, setelah menyelesaikan kegiatan menjengut Zarco. Sebab, lelaki itu terancam tidak bisa mengikuti turnamen kalau sampai belum sembuh juga tiga hari ke depan.
Wajar sekali Zarco memaksakan dirinya, tetapi itu jelas tidak baik. Karena sekalinya ia memaksakan diri, maka akan berakibat buruk di kemudian hari. Tentu saja menyebabnya ligamen-nya rusak dan akan membahayakan lutunya sendiri.
Memikirkan hal tersebut memang membuat Xiao Na semakin cemas. Apalagi ini adalah acara yang mereka tunggu-tunggu. Semua pasti menginginkan posisi tampil di atas panggung besar dari negara singa tersebut.
“Bagaimana keadaan Zarco?” tanya Xiao Na mendudukkan diri di depan Su Yuan yang memijat kepalanya letih.
“Aku tidak tahu, Nana,” jawab Su Yuan menggeleng frustasi, lalu menatap Xiao Na sembari berlanjut, “Dokter Chen mengatakan kalau Zarco harus bed ret selama beberapa minggu sampai lututnya pulih. Sedangkan kau sendiri tahu Tim N&N akan segera berangkat ke Singapura. Lantas, Ketua Tim saja masih belum pulih, apa yang harus kita lakukan?”
Xiao Na menepuk pundah lelaki itu pelan. Ia tersenyum tipis menyikapi hal yang sama sekali tidak terduga ini membuat Li Xian datang menghampiri mereka berdua. Lelaki itu terlihat membawakan kertas yang bisa ditebak bahwa rekam medis selama beberapa hari Zarco dirawat.
“Apa ini, Li Xian?” tanya Xiao Na mendongak untuk menatap lelaki yang menjulang tinggi di hadapannya.
“Tadi aku sempat ke resepsionis untuk meminta rekam medis Zarco. Ternyata dia mengidap gangguan penglihatan, Nana. Sehingga membuatnya jatuh dari tangga. Karena pada saat itu tiba-tiba penglihatannya kabur,” jawab Li Xian menyerahkan benda tersebut pada seorang wanita yang benar-benar sangat terkejut.
Tanpa pikir panjang Xiao Na pun membaca satu per satu kalimat yang ada di sana dengan urutan. Tentu saja ia tidak ingin melewatkan kata apa pun yang tertera di sana. Untuk mencerna apa yang sebenarnya tengah terjadi pada Zarco.
Seketika Xiao Na pun terpaku pada sebuah pernyataan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Selama ini Zarco yang tanpa ia sadari mengidap penyakit mata, katarak. Sebuah penyakit di mana penglihatan mata yang tiba-tiba menjadi buram sehingga tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas. Bahkan tampak mengabur dan menjadikan kepala sedikit berdenyut pusing.
“Apa ini benar?” tanya Xiao Na menutup mulutnya tidak percaya.
“Aku tidak pernah berbohong padamu, Nana. Aku juga sama terkejut denganmu, tapi apa yang harus kita perbuat, selain mendukung Zarco agar operasi matanya tetap berjalan lancar,” jawab Su Yuan memejamkan matanya lelah.
“Aku tidak tahu. Aku ... aku terlihat begitu bingung dengan situasi seperti ini,” gumam Xiao Na speechless.
Melihat hal tersebut Li Xian pun mengambil benda tersebut dan melipatnya dengan benar, lalu menatap ke arah pintu rawat yang sejak tadi tertutup. Sedangkan di dalamnya terlihat beberapa pemuda tengah menatap seorang lelaki yang sejak tadi menutup mata rapat-rapat seakan ia takut kalau membuka tidak akan bisa melihat sesuatu lagi.
Sejujurnya Li Xian bisa saja membantu Zarco agar menjalankan semua operasi dengan baik, tetapi ia tidak mempunyai kekuatan mendorong lelaki itu untuk membelakangi semua impiannya. Karena jelas dirinya tidak terlalu dekat dengan kapten Tim N&N.
“Begini saja, kita batalkan kompetisinya?” usul Su Yuan membuat Xiao Na langsung melayangkan pukulan kesal pada bahu lelaki itu.
“Apa kau gila!?”
“Tentu saja belum. Aku tidak akan gila kalau mereka semua belum memenangkan kejuaraan dunia,” sahut Su Yuan acuh tak acuh, sedangkan Xiao Na hanya menghela napas kasar.
Perkataan Su Yuan tadi memang benar, tetapi agak kejam bagi mereka yang sudah berlatih keras dan ujung-ujungnya dibatalkan hanya karena satu orang tidak bisa ikut berkompetisi. Jelas itu mengecewakan mereka semua.
Akan tetapi, Xiao Na tidak bisa menemukan cara lain untuk menggantikan posisi kapten di Tim N&N sehingga ia harus sibuk memikirkan itu nanti. Meskipun begitu, ada yang lebih penting daripada kapten timnya. Melainkan Xiao Na harus segera menguruskan semua keperluan mereka ketika hendak berangkat ke Singapura. Sebab, sudah tanggal tiga hari lagi sebelum benar-benar ikut berkompetisi.
“Grunt di mana?” tanya Xiao Na yang sejak tadi tidak mendapati salah satu anggota Tim N&N sekaligus wakil kapten.
“Aku tidak tahu,” jawab Su Yuan menggeleng pelan.
“Grunt sedang di rooftop rumah sakit. Aku tadi bertemu dengannya saat hendak melangkah ke sini,” sahut Li Xian membuat Xiao Na seketika bangkit.
Tentu saja hal tersebut mengundang tatapan penasara dari Su Yuan. “Apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku ingin menemui Grunt. Kita harus tetap berpandangan lurus agar kompetisi ini berjalan dengan lancar, meskipun tanpa Zarco. Karena kita masih memiliki pemain cadangan,” jawab Xiao Na spontan.
“Tapi, pemain cadangan kita tidak ada yang sebagus Tim N&N, Nana!” protes Su Yuan tidak setuju.
“Su Yuan! Apa selama ini kau selalu membeda-bedakan mereka?” sentak Xiao Na tidak terima membuat lelaki itu seketika bungkam seribu sahasa.
Sebab, apa yang dikatakan Xiao Na tanpa sadar membenarkan semua sikapnya selama ini. Karena tidak ada pemain cadangan yang berkesempatan untuk ikut berkompetisi, selain memainkan beberapa game terkenal demi mempromosikan markas besar mereka.
“Aku tahu. Berarti selama ini memang pekerjaanmu menjadi manajer mereka yang kurang, Su Yuan. Seharusnya kau selalu siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi sehingga tidak akan terjadi seperti ini,” sindir Xiao Na melenggang pergi dari sana seakan ia benar-benar kecewa dengan lelaki yang selama ini dirinya percayai untuk membimbing para trainee agar bisa menjadi gamers professional.
Namun, kenyataan pahit yang harus Xiao Na dapat. Selama bertahun-tahun berlatih di markas besar nyatanya mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk bertanding di atas panggung sehingga memberikan nyali ciut pada mereka yang diam-diam lebih berbakat daripada lainnya.
Kini langkah lebar nan tegas Xiao Na menuju rooftop rumah sakit yang bisa dijangkau hanya dengan menaiki tangga. Karena kamar rawat inap Zarco kebetulan sekali VVIP sehingga diberikan fasilitas yang cukup mewah agar tidak bosan ketika sibuk menunggu lelaki itu.
Tatapan mata Xiao Na terpaku pada seorang lelaki terduduk di pagar pembatas dengan kaki yang menggantung ke bawah. Lelaki itu adalah Grunt. Sama sekali tidak ada takutnya ketika terpeleset hingga jatuh dari lantai 15. Atau mungkin ia memang berniat melakukan hal tersebut dengan kebetulan berada di rumah sakit sehingga bisa masuk dengan mudah tanpa harus repot-repot menggunakan ambulance.
“Grunt!” panggil Xiao Na membuat lelaki yang terduduk itu menoleh.