78. Who This?

1143 Kata
Kini suasana canggung tampak menyelimuti ruangan pemilik perusahaan dengan dua karyawan yang sudah mengabdi sekian lama dan sekian bulan. Yushi dengan masa kerjanya yang sudah dihitung enam tahun, sejak Xiao Na merintis perusahaan kecil hingga sampai saat ini. Kemudian, ada Li Xian yang baru saja direkrut beberapa bulan lalu. Di antara kedua wanita itu ada salah satunya yang mulai bergerak gelisah dengan sesekali menoleh ke arah seorang lelaki tampan. Ia tampak bingung menjelaskan situasi yang sedang terjadi, tetapi ia lebih bingung lagi ketika dihadapkan oleh Yushi yang jelas-jelas tahu masalah keluarganya luar-dalam. Sebenarnya bukan itu yang menjadi masalah bagi Xiao Na, melainkan ia hanya belum siap mengatakan semuanya dengan orang-orang terdekat. Bahkan Han Siyang pun sampai saat ini tidak tahu. “Uhm ... sebenarnya aku tidak penasaran dengan hubungan kalian berdua, tapi aku hanya tidak ingin memergokinya lagi. Maafkan aku, Presdir Zhang. Lain kali aku akan mengetuk pintu ruangan terlebih dahulu,” sesal Yushi bangkit dari tempat duduk, lalu membungkuk hormat pada Xiao Na yang sedikit terkejut. Akan tetapi, bukan wanita itu saja, melainkan Li Xian melakukan hal yang sama. Ia ikut mengernyit tidak percaya melihat Yushi yang tiba-tiba membungkuk hormat seperti itu. Padahal bisa saja wanita itu menanyakan kebenarannya, tetapi ia malah memilih untuk tidak mempermasalahkan apa pun. “Tidak apa-apa,” balas Xiao Na menetralkan suaranya seperti biasa. Ia sedikit terkejut tadi, tetapi tidak akan berlangsung lama. Mendengar hal tersebut, Yushi kembali menegakkan tubuhnya, lalu menatap mereka berdua satu per satu. Akan tetapi, ia yang mengerti situasi canggung ini pun kembali berkata, “Kalau begitu, aku pamit dulu. Aku datang ke sini hanya untuk memberikan makan siang.” Li Xian pun menatap ke arah meja yang tergeletak dua kotak makan siang. Entah kenapa ia mulai merasa penasaran dengan sekretaris pribadi Xiao Na yang serba tahu. “Kenapa kau membeli dua?” tanya lelaki itu penasaran. “Sebenarnya aku sudah paham kalau Presdir Zhang tidak akan bisa diganggu ketika sedang bekerja. Jadi, apa pun paksaan Direktur Li pasti akan berakhir sia-sia,” jawab Yushi masuk akal membuat Li Xian memiringkan kepalanya menatap seorang wanita yang berpura-pura tidak mendengar apa pun. “Benarkah?” “Tentu saja!” balas Yushi mengangguk mantap. Kemudian, Xiao Na yang tidak ingin sekretarisnya mengatakan hal lebih lanjut pun ikut menyela, “Yushi, kalau sudah selesai kau bisa kembali mengerjakan pekerjaanmu.” “Baik, Presdir Zhang,” ucap Yushi patuh dan melenggang pergi dari sana. Tentu saja hal tersebut membuat Li Xian memincingkan matanya penuh selidik menatap seorang wanita cantik yang tengah sibuk membuka kotak makan siang. Xiao Na benar-benar tidak ingin mengutarakan semuanya terlebih dahulu membuat lelaki tampan yang ada di sampingnya hanya terdiam sembari menghela napas panjang. “Nana, apa pekerjaanmu sangat banyak hingga tidak bisa ditinggalkan sebentar saja?” tanya Li Xian penasaran. “Tidak. Aku memang sangat berambisius ketika dihadapkan banyak pekerjaan, dan itu bisa mengalihkan semua duniaku,” jawab Xiao Na sama sekali tidak mengalihkan perhatian dari makan siang, lalu sesekali membaca berkas-berkas yang ada di atas meja. Sebab, wanita itu langsung bangkit membawa kotak makan ke arah meja kebesarannya. “Lantas, kalau dikerjakan tanpa henti. Apa kau bisa menyelesaikannya sampai sore nanti?” “Entahlah. Aku hanya tidak ingin diganggu siapa pun, jadi kalau kau sudah selesai makan boleh keluar daripada memaksakan diri untuk menemani diriku yang membosankan.” “Baiklah. Aku akan segera keluar ketika selesai makan.” Setelah itu, Xiao Na pun kembali melahap makanannya dengan sesekali menyibukkan diri. Tentu saja hal tersebut mengundang tatapan geli dari Li Xian. Lelaki yang sejak tadi sama sekali tidak melepaskan pandangan dari Xiao Na. Tak lama kemudian, pintu ruangan wanita itu kembali terbuka. Kali ini terlihat seorang gadis bertubuh mungil masuk ke dalam sembari membawa beberapa berkas di tangannya. Ia sedikit terkejut ketika mendapati Li Xian ada di dalam. “Direktur Li,” sapa Yushi menunduk hormat, lalu mengalihkan perhatian pada seorang wanita yang sama sekali tidak terusik akan kedatangannya. Seakan sudah tahu ketika Xiao Na tengah sibuk, Tong Xin pun mendekatinya sembari menyerahkan tiga map berisikan berkas penting. “Apa ini, Tong Xin?” tanya Xiao Na penasaran. “Ini berkas yang kau minta dari Departemen Personalia, Presdir Zhang,” jawab Tong Xin mengangguk singkat. Seketika Xiao Na yang mengerti pun langsung memisahkan berkas tersebut. Membuat tatapan penasaran terlihat dari Li Xian. Tentu saja lelaki itu mendadak bingung melihat tingkah dua perempuan yang ada di hadapannya seakan saling menyembunyikan sesuatu. Setelah selesai memberikan berkas, Tong Xin pun undur diri tak lupa ia menyapa Li Xian yang masih saja betah di sana. Padahal jam dinding di ruangan itu mulai menandakan makan siang hampir berakhir. Selepas kepergian Tong Xin, Li Xian bangkit dari tempat duduknya. Membuat Xiao Na mengalihkan perhatiannya dari berkas. Ia menatap lelaki yang beberapa saat mulai memenuhi pikirannya. “Sudah selesai?” tanya Xiao Na ringan. “Iya. Aku ingin memeriksa kembali ke ruang alat. Di sana ada beberapa kabel yang aku crimping,” jawab Li Xian. “Ya sudah. Nanti sepulang kerja kau bisa mengunjungiku kemari. Aku akan lembur sampai malam. Atau mungkin aku tidak pulang.” “Memangnya kenapa?” “Masih ada sesuatu yang harus aku kerjakan.” “Apa kau begitu sibuk sampai pulang ke apartemen saja tidak bisa?” “Bukan seperti itu. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini.” “Tim?” “Iya. Su Yuan tadi mengabariku kalau Zarco mengalami beberapa masalah.” “Apa itu?” “Dia katanya semalam terjatuh di tangga sehingga mengalami beberapa cidera. Dan kebetulan sekali minggu ini sudah babak penentuan turnamen di Singapura. Jadi, aku tidak ada waktu untuk bersantai ketika semua tim milikku mengalami banyak masalah.” “Astaga, aku hampir lupa!” “Kalau begitu, aku akan sangat berterima kasih kalau kau datang nanti.” “Pasti aku akan datang. Karena tim kau, timku juga. Dan aku harus ikut andil dalam semua.” “Baiklah. Kau boleh kembali.” Li Xian terdiam sejenak membuat Xiao Na yang melihat lelaki itu belum bergerak sama sekali pun bingung. Ia ikut memperhatikan penampilannya yang masih terlihat sama seperti tadi. “Ada apa lagi? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Xiao Na bingung. Sejenak Li Xian pun mengusap tekuknya yang tidak gatal, lalu menjawab, “Aku hanya bingung ingin menciummu atau tidak. Uhm ... kalau tidak boleh juga tidak apa-apa.” “Maaf, Li Xian. Aku benar-benar sangat sibuk,” sesal Xiao Na membuat Li Xian mengangguk mengerti. Kemudian, lelaki itu pun melenggang pergi dari sana membuat Xiao Na hanya menatap punggung lebar nan kokoh dengan perasaan yang tidak bisa ditentukan. Sebab, ia masih sangat penasaran dengan lelaki itu. Entah ini hanya ia rasakan seorang diri atau tidak. Sejak pertemuannya semalam dengan Keluarga Li, Xiao Na memang menjadi semakin bertanya-tanya. Mengapa ia begitu nyaman? Apakah Li Xian ada kaitan dengan dirinya? Atau mungkin lelaki itu yang selama ini ia cari? Namun, Xiao Na tidak ingin berekspetasi tinggi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN