77. Oh No, My Eyes!

1010 Kata
Dan dari malam itu, hubungan Zhang Xiao Na dengan Li Xian mulai tidak sehat. Entah kenapa Xiao Na sering memikirkan lelaki itu, walaupun ia tidak merasakan apa pun selain penasarannya yang cukup tinggi. Sedangkan Li Xian yang awalnya hanya penasaran dengan Xiao Na pun mulai diam-diam menaruh hati pada wanita itu. Meskipun mereka berdua tidak akan tahu apa yang terjadi ke depannya, tetapi mereka hanya menjalani apa yang telah diatur oleh kedua orang tuanya untuk berjalan dengan baik. “Nana, apa kau ingin makan siang di luar?” tanya Li Xian yang baru saja masuk ke ruangan Xiao Na membuat wanita itu terkejut. Sebab, sejak kedatangannya pagi tadi dan langsung menuju kantor, Xiao Na sudah bergelut dengan banyak sekali pekerjaan. Bahkan ia tadi tidak sempat untuk sarapan. Untung saja masih ada Yushi yang memperhatikan dirinya sehingga wanita itu memberikan sepaket sarapan berisikan roti isi dengan s**u kotak. Namun, sampai siang ini Xiao Na belum memakan apa pun lagi. Ia terlalu sibuk hanya untuk mengurus perutnya saja. Walaupun tidak dapat dipungkiri kalau sejak tadi ada suara gemuruh dari organ tubuhnya yang meminta asupan. “Kau menakutkan sekali, Li Xian. Aku hampir terjatuh karena terkejut,” ucap Xiao Na menggeleng pelan sembari mengusap da*danya pelan. “Maaf, aku tidak tahu. Aku pikir kau sudah menyelesaikan semua pekerjaan. Tadi Yushi bertemu denganku untuk bergegas mengajakmu makan siang,” sesal Li Xian menghampiri wanita itu, lalu mengernyit bingung saat melihat masih banyak sekali berkas yang belum dikerjakan. “Uhm ... sepertinya aku tidak bisa makan siang di luar,” gumam Xiao Na menumpuk kembali semua berkas tersebut. “Memangnya kenapa? Bukankah sudah waktunya makan siang?” tanya Li Xian bingung. “Aku tahu, tapi pekerjaanku masih sangat banyak. Tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja. Sedangkan besok akan ada audit yang memantau jalannya semua produksi di perusahaan ini. Jadi, aku harus bekerja lebih keras agar bisa menyelesaikannya dengan cepat,” jawab Xiao Na tersenyum manis. Akan tetapi, Li Xian malah menatap wanita itu datar, kemudian mendudukkan diri dengan kasar di kursi yang ada di hadapan meja Xiao Na. Sejujurnya Li Xian sedikit kesal mendengar Xiao Na yang bekerja begitu keras. Padahal masih ada hari esok yang bisa dimanfaatkan untuk segera menyelesaikan semua pekerjaannya. “Apa kau tidak lelah dari tadi berkutat dengan benda itu?” sinis Alvaro. Mendengar hal tersebut, Xiao Na pun bangkit sembari menyembunyikan senyuman gelinya dari Li Xian. Ia tahu kalau lelaki itu pasti ingin makan siang tanpa ada yang mengganggu seperti biasanya, tetapi Xiao Na memang tidak bisa. Sehingga ia harus segera merayu lelaki itu agar tetap dalam suasana hati yang baik. Xiao Na pun mendudukkan diri di pangkuan Li Xian sembari memeluk leher tegas lelaki itu dengan kedua telapak tangannya yang lentik. Ini pertama kalinya Xiao Na bertingkah seperti w************n, tetapi percayalah kalau hal tersebut sama sekali tidak berpengaruh pada lelaki itu. Seakan ia sudah terbiasa menghadapi wanita yang terus merayu padanya. “Li Xian,” panggil Xiao Na manja, meskipun ia sendiri terasa ingin muntah saat melakukannya. “Aku tidak mendengarnya. Cepatlah kau bangkit! Aku tidak akan mudah tergoda oleh rayuanmu,” sinis Li Xian menatap ke arah lain sembari mengepalkan tangannya kuat. “Benarkah? Kalau begitu aku akan melakukan seperti ini saja,” balas Xiao Na tidak mau kalah, lalu mendekatkan diri pada Li Xian sehingga tubuh mereka berdua mulai bersentuhan. Dalam posisi seperti ini Xiao Na terlihat jelas sekali tengah menggoda lelaki itu. Akan tetapi, ia tidak peduli. Melakukan hal ini sudah menjadi kesukaannya. Karena wajah Li Xian akan terlihat malu sekaligus memerah, dan menjadikan Xiao Na semakin gencar untuk menggodanya. “Nana,” panggil Li Xian setengah menggeram. “Aku tidak mau makan siang di luar, Li Xian. Masih banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesainya,” sela Xiao Na tidak peduli apa yang lelaki itu permasalahkan. Yang jelas sekarang dirinya harus segala menyelesaikan rayuan ini dan kembali berkutat dengan pekerjaan. Namun, tidak ada yang menduga kalau Li Xian malah membalas perlakuan wanita itu dengan memeluk pinggangnya erat. Tentu saja hal tersebut membuat Xiao Na terkejut dan mendelik tidak percaya kalau Li Xian benar-benar akan tergoda. “Baiklah. Aku akan menuruti permintaanmu untuk makan siang di sini, tapi aku mengajukan syarat,” ucap Li Xian mendongak menatap wajah Xiao Na yang berkerut bingung. “Apa itu?” “Cium aku sekarang,” jawab Li Xian memejamkan matanya membuat Xiao Na hampir saja mengumpat tepat di depan wajah lelaki itu. Akan tetapi, ia jelas masih sangat waras untuk tidak membuat api peperangan. “Ini kantor, Li Xian,” sanggah Xiao Na memutar bola matanya malas. “Tentu saja aku tahu ini kantor. Tidak ada yang bilang kalau ini pasar,” balas Li Xian sekenanya. Sebenarnya sejak tadi Xiao Na ingin sekali mencekik leher lelaki itu, tetapi ia masih sangat sadar untuk tidak membuat masalah pada dirinya sendiri. Akan tetapi, ini jelas pihak yang menguntungkan adalah Li Xian. “Ya sudah kalau tidak mau,” celetuk Li Xian menundukkan wajahnya lagi. Kali ini diselingi dengan kedua tangan kekar itu yang mulai mengerat membuat posisi duduk Xiao Na mulai merapat pada Li Xian. “Astaga, harus aku apakan dirimu, Li Xian,” gerutu Xiao Na menggeram kesal. Namun, Li Xian hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. Ia memang bertingkah seperti itu hanya untuk membuat Xiao Na kesal. Karena wajah wanita itu ketika marah sangatlah lucu. “Hao! Aku akan menciummu,” putus Xiao Na menghela napas kasar. Sontak hal tersebut membuat Li Xian tersenyum senang dan mengerucutkan bibirnya menyambut kecupan singkat dari Xiao Na. Akan tetapi, belum tepat bibir itu mendarat. Sebuah suara benda terjatuh mengejutkan mereka berdua membuat Li Xian spontan menoleh ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya Li Xian dan Xiao Na ketika mendapati Yushi tepat di ambang pintu ruangan sembari membawa sekotak besar makan siang. Ia mendelik tidak percaya menatap dua orang yang hampir berciuman itu. Terlebih wanita itu adalah bosnya sendiri. “Apa yang baru saja aku lihat!?” tanya Yushi panik sembari memutar tubuhnya membelakangi mereka berdua. Tentu saja Yushi langsung bergerak cepat sebelum mata suci miliknya ternodai melihat adegan tidak senonoh tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN