76. Please ... My Privacy

1018 Kata
Xiao Na tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Perutnya mendadak mual ingin muntah saat merasakan ribuan kupu-kupu menggelitilk perut rata miliknya. Seakan ada perasaan senang yang luar biasa dan tak pernah ia rasakan selama ini. Sejujurnya agak terkejut Li Xian benar-benar mengetahui ulang tahunnya. Karena selama ini tidak ada seorang pun yang ingat, baik itu orang tua maupun kakaknya sendiri. Mereka semua terlihat biasa saja seakan memang tidak pernah terjadi apa pun. Maka dari itu, Xiao Na benar-benar hampir dibuat menangis tersedu-sedu. Meskipun ia tidak mungkin menangis saat ini. Bisa-bisa sang kakak memergoki dirinya dan mengira Li Xian melakukan hal buruk sehingga mampu membuat ia yang terbiasa kuat mendadak berperasaan. “Aku ... aku tidak tahu harus berkata apa,” ucap Xiao Na masih dalam keadaan speechless. “Semua ini terasa mimpi bagiku,” sambung Xiao Na lagi sembari menatap wajah tampan Li Xian yang terasa sangat dekat dengan dirinya. Bahkan ia bisa melihat betapa terawatnya wajah tersebut seakan komedo pun malu untuk hinggap di sana. Spontan dekapan hangat nan erat itu melingkupi tubuh mungil Xiao Na yang terbaluti sebuah gaun selutut berwarna merah. Memeluk tubuhnya seakan ia sebentar lagi akan hancur berkeping-keping. “Nana, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan keluargamu, tapi aku di sini akan tetap bersamamu. Bahkan kau bisa menganggap Mamaku menjadi Mamamu. Karena sebentar lagi kita akan menjadi keluarga,” ucap Li Xian terlampau senang. Ia ingin sekali menangis bahagia sekaligus terharu melihat Xiao Na yang merasa sendirian selama ini. Dan ia bertekad untuk tetap membuat wanita itu bahagia apa pun caranya. Perlahan air mata Xiao Na pun meleleh di dalam dekapan hangat Li Xian. Entah kenapa ia mendadak merindukan seseorang yang sama persisi seperti lelaki di hadapannya. Seorang dari masa lalu yang terus menghantuinya tanpa berniat untuk kembali. “Terima kasih, Li Xian,” balas Xiao Na tulus. Ia sangat menghargai apa yang telah lelaki itu berikan, meskipun ini sangatlah sederhana. Akan tetapi, untuk dirinya ini luar biasa karena tidak ada seorang pun yang mau memberikannya kejutan seperti ini, setelah beberapa tahun lalu ditinggal oleh seseorang. “Jangan berterima kasih padaku, Nana. Berterima kasihlah pada dirimu sendiri yang sudah berjuang selama ini. Sekarang giliran aku yang menjagamu agar tetap bahagia,” sanggah Li Xian menggeleng pelan, lalu mengendurkan pelukannya. Xiao Na yang masih sembab akibat menangis pun hanya tersenyum lebar. Ia masih terdiam seribu bahasa seakan semua perkataannya selama ini terbang entah ke mana. Di tengah itu, Li Xian menatap Xiao Na dalam-dalam. Wajah yang selama ini telah menghantui dirinya kini benar-benar terlihat di depan mata dengan ekspresi jauh berbeda daripada sebelumnya. Wanita yang selama ini terlihat kuat mendadak meluluhkan hatinya hanya karena seorang lelaki bernama Li Xian. Entah godaan setan dari mana tiba-tiba Li Xin mulai mendekati wajah Xiao Na yang masih terdiam menatap lelaki itu. Namun, tidak ada yang menyangka kalau wanita itu malah memejamkan matanya seakan ia sudah mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan benar saja, bibir tipis yang ia pandangi tadi mulai mendarat di bibir milik Xiao Na. Mengecupnya ringan untuk memberikan wanita itu ketenangan agar tidak terlalu terkejut akan tindakannya saat ini. Akan tetapi, Xiao Na secara naluriah malah mengalungkan kedua tangannya pada leher tegas milik Li Xian untuk menyanggah tubuhnya yang mulai berjinjit menyamakan tinggi pada seorang lelaki teramat tinggi di hadapannya. Ciuman ringan untuk keduanya yang belum menyatakan perasaan satu sama lain itu terhiasi kembang api dan petasan. Malam tahun baru sekaligus hari ulang tahun Xiao Na yang sahabat bahagia itu telah ditemani oleh seseorang dari masa lalu. Meskipun tanpa ia sadari sama sekali kalau Li Xian adalah orang yang selama ini ia cari. “Ya!” teriak Xiao Wei tidak percaya mendapati adiknya dicium oleh lelaki lain. Sontak keduanya yang mendengar teriakan itu pun langsung melepaskan ciumannya dengan spontan. Tentu saja Li Xian langsung bergerak kaku menatap seorang lelaki yang kini menatapnya dengan tajam. Sedangkan seorang wanita hamil yang berada di sampingnya terlihat menggeleng tidak percaya, lalu menghampiri Xiao Na. “Apa kau tidak apa-apa?“ tanya Chen Qianqian memegang kedua pundak wanita itu, lalu mengernyit bingung saat melihat wajahnya sedikit basah. “Apa kau menangis?” Xiao Wei yang mendengar pertanyaan aneh terlontar dari sang istri pun langsung mengalihkan perhatiannya, lalu ikut menatap sang adik dengan pandangan menelisik. “Kau menangis kenapa, Nana?” “Aku tidak apa-apa. Tenang saja,” jawab Xiao Na tersenyum tipis. Seakan tidak percaya, Xiao Wei langsung mengalihkan perhatian pada lelaki yang ada di sampingnya. “Kau apakan Adikku?” “Aku tidak berbuat apa pun, Ge. Selain menciumnya tadi,” jawab Li Xian memelankan kata akhirnya yang terdengar sangat memalukan membuat Xiao Na langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Berusaha menutupi wajah meronanya dari sang kakak yang terus-terusan memaksa. “Benarkah?” Xiao Wei menatap Li Xian dengan menyelidik. “Iya. Aku sama sekali tidak berbohong,” cetus Li Xian berusaha meyakinkan lelaki yang beberapa tahun lebih tua dibandingkan dirinya. Tidak ingin memperpanjang masalah, Chen Qianqian pun langsung menyela, “Sudahlah. Xiao Na juga tidak apa-apa. Mereka berciuman juga bukan hal asing lagi. Biarkan Nana memiliki ruang privasinya sendiri, Xiao Wei. Jangan kau terus-menerus menyelidiknya seperti ini. “Tapi, aku .....” “Jangan, Xiao Wei,” tolak Chen Qianqian serius membuat Xiao Na langsung memeluk lengan wanita itu erat, lalu tersenyum lebar. Akhirnya, Xiao Wei pun menghela napas kasar membuang semua emosi yang bergerumul sejak tadi. Memang apa yang sang istri ada benarnya. Xiao Na juga menginginkan ruang untuk dirinya sendiri, dan ia harus tetap menghormati hal tersebut kalau tidak ingin adiknya menjauh secara perlahan. “Aku hanya khawatir mereka berdua belum kembali sejak tadi,” gumam Xiao Wei pelan membuat Xiao Na yang melihatnya langsung tersenyum tipis dan beralih memeluk lengan sang kakak dengan manja. “Ge, aku hanya malas di dalam makanya tidak kembali. Kau mengerti aku, ‘kan?” balas Xiao Na menatap sang kakak penuh. Xiao Wei tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Ia tahu kalau adiknya memang tidak menyukai sandiwara yang selama ini sudah menjadi teman hidup. Kemudian, tangan kanan lelaki itu pun terangkat untuk mengelurs kepala Xiao Na dengan lembut. “Iya, aku tahu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN